Survei HSBC: Pebisnis Indonesia optimistis terhadap prospek ekonomi

id Survei HSBC,Prospek bisnis

Ilustrasi

Jakarta (ANTARA) - Hasil survei terbaru yang dilakukan HSBC Indonesia memperlihatkan adanya optimisme dari para pengusaha Indonesia atas peningkatan kegiatan ekonomi atau pertumbuhan bisnis dalam beberapa tahun ke depan.

Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia Sumit Dutta dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu, mengatakan 98 persen perusahaan Indonesia yang disurvei memproyeksikan adanya pertumbuhan bisnis dua tahun ke depan.

Peningkatan basis pelanggan menjadi alasan terkuat pendorong pertumbuhan bisnis yaitu mencapai 32 persen dan pengembangan kualitas tenaga kerja sebanyak 29 persen.

Selain peningkatan basis pelanggan dan pengembangan kualitas tenaga kerja, sebanyak 24 persen responden juga mengakui pentingnya perbaikan logistik dan transportasi.

"Hampir setengah dari perusahaan Indonesia atau 45 persen memproyeksikan tingkat pertumbuhan lebih dari lima persen, tertinggi di antara semua pasar yang disurvei," katanya.

Dutta mengatakan sebanyak 31 persen responden menilai perluasan pasar online untuk produk dan layanan merupakan peluang utama usaha di Indonesia.

"Dilihat dari sisi negatif, bisnis di Indonesia melihat tiga ancaman nyata, yaitu situasi politik sebanyak 36 persen, pesaing baru atau kinerja pesaing sebanyak 33 persen dan nilai tukar 26 persen," ujarnya.

Pengusaha juga mempunyai keyakinan akan membaiknya prospek investasi di Indonesia, atau tercatat paling optimistis kedua setelah India.

"Bisnis di Indonesia akan mengejar berbagai peluang investasi, mulai dari penelitian, inovasi dan teknologi 81 persen, serta penjualan produk atau layanan online dan program pelatihan masing-masing 74 persen," katanya.

Dengan kondisi ini, tingkat investasi pengusaha berada di posisi tinggi, dengan lebih dari 70 persen mengklaim akan meningkatkan investasi lebih dari lima persen di setiap bidang.

Hasil survei ikut memperlihatkan bahwa biaya adalah tantangan utama bagi inovasi di semua pasar, tidak terkecuali di Indonesia.

Khusus untuk Indonesia, kurangnya tenaga terampil dan kurangnya investasi di bidang teknologi, juga merupakan penghalang yang jauh lebih besar dibanding pasar lain.

"Penekanan akan pentingnya mencari tenaga-tenaga baru yang terampil adalah cerminan dari perhatian mendalam terhadap tantangan," kata Dutta.

Dengan fokus pada inovasi, terutama pada era internet of things, 5G dan artificial intelligence, maka tercipta produktivitas, percepatan akses, peningkatan pengalaman pelanggan, serta kualitas produk dan layanan.

Sekitar 40 persen responden percaya bahwa sikap responsif terhadap perubahan adalah faktor terpenting kedua dalam mencapai kesuksesan di masa depan.

Sementara itu, sebanyak 21 persen responden percaya bahwa kinerja keuangan yang konsisten adalah lebih penting untuk meraih keberhasilan bisnis di masa depan.

Survei terbaru HSBC bertajuk "Navigator: Made for the Future" melibatkan lebih dari 2.500 perusahaan di 14 pasar secara global di Asia Pasifik (Australia, daratan China, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia dan Singapura), Eropa (Prancis, Jerman dan Inggris), Timur Tengah dan Afrika Utara (UEA) dan Amerika Utara (Kanada, Meksiko, dan AS).

Baca juga: Darmin: Ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah tekanan global
Baca juga: ADB sebut pertumbuhan ekonomi Indonesia contoh baik di Asia Tenggara
Baca juga: Survei HSBC: Perusahaan Indonesia lebih optimistis terhadap perdagangan jangka pendek

Pewarta : Satyagraha
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar