LSM dorong peningkatan "soft skill" anak

id hari anak nasional,save the children

Anak-anak Indonesia pada peringatan Hari Anak Nasional 2019 yang dipusatkan di Tribun Lapangan Karebosi Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (23/07/2019). (ANTARA Foto/Nur Suhra Wardyah)

LSM Dorong Peningkatan (ANTARA) - Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak untuk kepentingan anak-anak, Save the Children Indonesia, mengharapkan pemerintah mendorong peningkatan soft skill anak untuk membekali mereka meraih masa depan lebih baik.

"Pemberian keterampilan kerja termasuk soft skill juga penting supaya kelompok anak muda yang sekolahnya rendah tidak menjadi bagian dari rantai kemiskinan yang menciptakan generasi kemiskinan," kata Direktur Advocacy and Campaign Save the Children Indonesia Tata Sudrajat saat dihubungi Antara, Jakarta, Jumat.

Soft skill adalah kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal.

Dalam peringatan Hari Anak Nasional, Tata juga menekankan dalam hal pendidikan, pemerintah harus meningkatkan angka partisipasi pendidikan SMP agar mencapai 90 persen, yang mana saat ini masih sekitar 80 persen atau SMA menjadi 70 persen dari angka 60 persen saat ini.

Anak-anak sejak dini harus didorong untuk mengasah potensi yang dimiliki hingga maksimal serta dilindungi dan dipenuhi setiap haknya agar mereka tumbuh menjadi manusia berwawasan kebangsaan, cerdas, terampil dan produktif. Berbagai upaya untuk menciptakan tumbuh kembang anak yang optimal harus terus dilakukan karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa, calon pemimpin bangsa, penggerak roda pembangunan dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Tata mengatakan secara mendasar, pemerintah harus melaksanakan kewajibannya dalam memenuhi hak-hak anak terutama yang mendasar seperti kelangsungan hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi.

Secara prioritas, pemerintah harus fokus pada target pembangunan berkelanjutan (SDGs), misalnya meningkatkan gizi anak dan meningkatkan upaya pengentasan kekerdilan (stunting) yang mana data 2018 menunjukkan penurunan ke angka 30 persen dari 36 persen pada 2013.

Selain itu, pemerintah juga harus mengatasi masalah pneumonia yang menjadi second killer sebagai penyebab 17 persen kematian anak balita.*

Baca juga: LSM: Pentingnya peningkatan kapasitas dan kualitas pengasuhan anak

Baca juga: Kak Seto: Upaya perlindungan anak perlu pemberdayaan masyarakat

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar