Burung Garuda berhasil dilepasliarkan di Merapi
Rabu, 29 Mei 2013 13:58 WIB
Elang Jawa Sylvia, seekor elang jawa (Spizaetus bartelsi) bertengger di dahan pohon setelah dilepasliarkan di Taman Wisata Alam Kawah Ijen, Desa Tamansari, Licin, Banyuwangi, Jawa Timur.(ANTARA/Seno S.) Ist
Sleman (ANTARA
News) - Burung Elang Jawa atau dikenal sebagai Burung Garuda yang
dilepasliarkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku
Buwono X pada 26 Februari 2012 berhasil hidup di ekosistem aslinya di
hutan lereng Gunung Merapi.
"Kalau kami katakan, upaya pelepasliaran burung dengan habitat asli hutan Merapi tersebut cukup berhasil. Dan saat ini burung tersebut berhasil hidup di kawasan Merapi," kata Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Asep Nia Kurnia, Selasa.
Menurut dia, sepekan pascadilepaskan di lereng Merapi, Elang Jawa atau Nisaetus Bartelsi di kawasan TNGM Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman tersebut sempat kesulitan mencari makanan.
"Saat itu terpantau elang turun ke pemukiman warga dan sempat memangsa beberapa ekor ayam," katanya.
Ia mengatakan, namun setelah itu, burung terpantau sudah kembali ke hutan Merapi dan tidak pernah turun lagi ke permukiman warga.
"Burung tersebut berhasil hidup di hutan lereng Merapi. Untuk makanan sudah bisa berburu tikus hutan atau ular hutan," katanya.
Asep mengatakan, diharapkan burung Elang Jawa jantan yang berhasil dilepasliarkan tersebut dapat membantu mempercepat menambah populasi burung asli Merapi tersebut.
"Sebelumnya populasi Elang Jawa di Merapi tinggal lima ekor, dan saat ini menjadi enam ekor. Kami akan terus memantau perkembangannya. Mudah-mudahan segera dapat membantu perkembangbiakan Elang Jawa lereng Merapi," katanya.
Elang Jawa berjenis kelamin jantan tersebut telah menjalani rehabilitasi selama dua tahun di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Kabupaten Kulon Progo.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta Ammy Nurwati mengatakan alasan pelepasan Elang Jawa di Lereng Merapi ini karena hutan wilayah ini memiliki karakter yang cocok untuk Elang Jawa.
"Selain itu alasan lain adalah di kawasan lereng Merapi ini terpantau ada Elang Jawa betina, sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan populasi," katanya.
Ia mengatakan saat ini populasi Elang Jawa di Pulau Jawa hanya tinggal sekitar 200 ekor saja.
"Sedangkan di Merapi ini populasi ada lima ekor dan ditambah satu ekor yang dilepas beberapa waktu lalu," katanya.
"Kalau kami katakan, upaya pelepasliaran burung dengan habitat asli hutan Merapi tersebut cukup berhasil. Dan saat ini burung tersebut berhasil hidup di kawasan Merapi," kata Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Asep Nia Kurnia, Selasa.
Menurut dia, sepekan pascadilepaskan di lereng Merapi, Elang Jawa atau Nisaetus Bartelsi di kawasan TNGM Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman tersebut sempat kesulitan mencari makanan.
"Saat itu terpantau elang turun ke pemukiman warga dan sempat memangsa beberapa ekor ayam," katanya.
Ia mengatakan, namun setelah itu, burung terpantau sudah kembali ke hutan Merapi dan tidak pernah turun lagi ke permukiman warga.
"Burung tersebut berhasil hidup di hutan lereng Merapi. Untuk makanan sudah bisa berburu tikus hutan atau ular hutan," katanya.
Asep mengatakan, diharapkan burung Elang Jawa jantan yang berhasil dilepasliarkan tersebut dapat membantu mempercepat menambah populasi burung asli Merapi tersebut.
"Sebelumnya populasi Elang Jawa di Merapi tinggal lima ekor, dan saat ini menjadi enam ekor. Kami akan terus memantau perkembangannya. Mudah-mudahan segera dapat membantu perkembangbiakan Elang Jawa lereng Merapi," katanya.
Elang Jawa berjenis kelamin jantan tersebut telah menjalani rehabilitasi selama dua tahun di Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Kabupaten Kulon Progo.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta Ammy Nurwati mengatakan alasan pelepasan Elang Jawa di Lereng Merapi ini karena hutan wilayah ini memiliki karakter yang cocok untuk Elang Jawa.
"Selain itu alasan lain adalah di kawasan lereng Merapi ini terpantau ada Elang Jawa betina, sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan populasi," katanya.
Ia mengatakan saat ini populasi Elang Jawa di Pulau Jawa hanya tinggal sekitar 200 ekor saja.
"Sedangkan di Merapi ini populasi ada lima ekor dan ditambah satu ekor yang dilepas beberapa waktu lalu," katanya.
Pewarta :
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kalimantan Tengah dan Jawa Timur hasilkan Rp2 T dalam transaksi dagang-investasi
23 April 2026 17:18 WIB
Halo Dayak HRX borong dua podium di Kejurnas Adventure Offroad Seri 1 Semarang
19 April 2026 18:51 WIB