Prancis resah, terlalu banyak pendatang
Sabtu, 8 Juni 2013 13:10 WIB
Ilustrasi - Menara Eiffel (Istimewa)
Paris (ANTARA News)
- "Terlalu banyak pendatang asing di Prancis," kata mantan Perdana
Menteri Francois Fillon yang bersikeras negaranya tidak bisa menerima
semua permintaan mereka yang ingin masuk Prancis.
Atas pertanyaan dalam wawancara di televisi Prancis Saluran 2, 'apakah pendatang asing sudah terlalu banyak di negeri itu', Fillon menjawab "Ya."
"Prancis saat ini sudah tidak dapat menerima, dengan syarat layak, bagi siapa pun yang ingin datang dan tinggal di sini," tambahnya seperti dikutip AFP.
"Oleh sebab itu kita harus mengurangi kebijakan imigrasi," kata tokoh partai sayap kanan UMP itu.
Fillon sedang mengusulkan pemungutan suara parlemen tahunan mengenai jumlah pendatang yang dapat diizinkan masuk, profesi yang bisa mendapat pertimbangan dan asal mereka untuk mencocokkan dengan kuota yang tepat.
Dia mengatakan, setiap tahun 200 ribu pendatang masuk ke Prancis dan itu "terlalu banyak" bagi negara yang sedang ditimpa krisis ekonomi serta pengangguran yang membuat pengeluaran pemerintah tergerus.
(M007/H-AK)
Atas pertanyaan dalam wawancara di televisi Prancis Saluran 2, 'apakah pendatang asing sudah terlalu banyak di negeri itu', Fillon menjawab "Ya."
"Prancis saat ini sudah tidak dapat menerima, dengan syarat layak, bagi siapa pun yang ingin datang dan tinggal di sini," tambahnya seperti dikutip AFP.
"Oleh sebab itu kita harus mengurangi kebijakan imigrasi," kata tokoh partai sayap kanan UMP itu.
Fillon sedang mengusulkan pemungutan suara parlemen tahunan mengenai jumlah pendatang yang dapat diizinkan masuk, profesi yang bisa mendapat pertimbangan dan asal mereka untuk mencocokkan dengan kuota yang tepat.
Dia mengatakan, setiap tahun 200 ribu pendatang masuk ke Prancis dan itu "terlalu banyak" bagi negara yang sedang ditimpa krisis ekonomi serta pengangguran yang membuat pengeluaran pemerintah tergerus.
(M007/H-AK)
Pewarta :
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Donald Trump tolak hak kembali warga Palestina dalam rencananya untuk Gaza
11 February 2025 9:13 WIB