Pangkalan Bun (Antara Kalteng) - Jabatan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), resmi berganti kepemimpinan dengan pejabat baru Sutiana, menggantikan Ketua sebelumnya yakni, Akhmad Hudawi.
Bersamaan serah terima jabatan ketua itu, Apkasindo juga menggelar Pelatihan Produktifitas Kelapa Sawit yang melibatkan para petani kelapa sawit setempat.
Pergantian Kepemimpinan ini digelar di ruang rapat Hotel Arsela, yang dihadiri Bupati Kotawaringin Barat Bambang Purwanto, beserta Ketua Apkasindo Kaliamantan Tengah (Kalteng), Karyadi, Senin (17/10).
Ketua Apkasindo Kalteng Karyadi saat dikonfirmasi awak media usai melantik Pengurus Apkasindo Kobar, mengatakan, setelah dikukuhkannya Apkasindo Kobar yang dinahkodai oleh Sutiana, ia berharap Apkasindo bisa berdampingan dengan masyarakat dan pemerintah serta pengusaha yang ada di Kobar, sehingga sinergitas para petani kelapa sawit bisa taat pada aturan dan menjaga lingkungan.
"Harapan saya agar Apkasindo Kobar, bisa menjembatani para petani dengan pengusaha dan pemerintah, karena pergerakan sawit di Kobar sangat masif, baik yang dilakukan oleh pihak ketiga (perusahaan), maupun dilakukan oleh masyarakat," Kata Karyadi.
Sementara itu Bupati Kotawaringin Barat Bambang Purwanto mengingatkan pentingnya sosialisasi ini dilakukan, mengingat kelapa sawit di Kobar yang merupakan ikon dan andalan masyarakat ke depan, sehingga kelapa sawit ini harus dibenahi mulai dari petani hingga kelembagaannya, agar mendapatkan hasil produksi yang lebih berkualitas.
"Hari ini dilakukan pelatihan kepada petani-petani, yang terpenting untuk menjaga kualitas produk kelapa sawit kita. Setelah pelatihan ini ada sertifikasi terhadap kebun-kebun rakyat, dan itu syarat yang harus dipenuhi oleh produk kelapa sawit, kalau tidak mengikuti itu, tentu ini akan menurunkan daya beli dari luar, karena pembeli sekarang memberi syarat harus ada sertifikasinya, dan di Kobar sedang kami laksanakan secara bertahap," kata Bupati.
Terkait sertifikasi ini, petani diharapkan untuk memperhatikan status kawasan yang ditanami kelapa sawit, yang saat ini diketahui banyak yang menanam sawitnya di kawasan hutan.
Menurut dia, hal ini akan menjadi dampak di kemudian hari lantaran akan diberlakukannya sistem RSPO dan ISPO, sertifikat sustainable yang pada suatu ketika bisa menjadi bermasalah di kalangan petani. Alfa