Masyarakat berperan cegah terorisme
Kamis, 17 Oktober 2019 2:45 WIB
Personel Brimob Polda Lampung mengumpulkan sejumlah barang bukti usai penggeledahan rumah milik orang tua terduga teroris di Bandar Lampung, Lampung , Selasa (15/10/2019). Tim Densus 88 Polri bersama Polda Lampung mengamankan sejumlah barang bukti dari rumah tersebut terkait penangkapan terduga teroris kelompok JAD Bekasi. ANTARA FOTO/Ardiansyah/foc.
Bandarlampung (ANTARA) - Kepala Bidang Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad berharap adanya peran dari rukun tetangga (RT) dan masyarakat setempat untuk mencegah terorisme di lingkungannya.
"Peran RT/RW, orang tua dan masyarakat kampus penting dalam menangkal terorisme ataupun radikalisme di lingkungan kita ," kata Zahwani Pandra Arsyad, di Bandarlampung, Rabu.
Menurut dia, saat ini terorisme ataupun paham radikalisme tidak hanya berkembang di kehidupan nyata, bahkan saat ini sudah merambah ke dunia maya melalui media sosial (medsos).
Baca juga: Dua saudara di Jateng ditangkap Densus 88 terlibat jaringan teroris
"Maka dari itu perlu adanya peranan kecil dari pihak keluarga dan lingkungan untuk memantau aktivitas orang di sekitar kita terutama orang baru," katanya.
Pandra pun menyebutkan beberapa ciri teroris yang bekerja di medsos, yakni Pertama, kejadian terorisme yang menelan banyak korban itu sebagai setingan, drama maupun rekayasa, hal ini dilakukan agar masyarakat tidak bersimpati atas hilangnya nyawa korban.
Kedua, mereka mengalihkan berita korban jiwa akibat terorisme dengan berita lain yang tidak ada sangkutpautnya dengan tujuannya agar masyarakat lupa dengan kekejaman teroris.
Baca juga: Polri berhasil tangkap teroris kelompok JAD
Ketiga, menggunakan kata yang melecehkan untuk menggambarkan keadaan korban dan ini sesuai dengan tabiat teroris yang senang melihat korbannya tersiksa.
Keempat, mereka selalu menyalahkan aparat hukum bila terjadi tindakan terorisme, teroris pengebom bunuh diri dianggap konspirasi, sedangkan aparat yang menjadi sutradara terorisme.
Dan yang terakhir mereka senang mencaci pemerintah dengan istilah tak enak keagamaan seperti pemerintah selalu dituduh anti islam, toghut, musuh Allah, pelaku bid'ah, penegak islam kufur yang membangkitkan kebencian rakyat dengan pemerintah.
Baca juga: Densus 88 amankan seorang terduga teroris di Kota Malang
"Padahal akar teroris adalah kebencian. Ingat teroris hanya membunuh sesuatu yang dibencinya," kata Pandra.
Sementara itu Wali Kota Bandarlampung Herman HN mengatakan telah meminta RT/RW dan PKK untuk meningkatkan pemantauan di setiap daerahnya.
"Saya selalu himbau kepada RT dan warga agar bila ada tamu orang baru atau dari luar harus wajib lapor kepada mereka. Bahkan banner 1x24 jam tamu wajib lapor sudah kita pasang di setiap lingkungan," kata dia.
Baca juga: Bripda Nesti terpengaruh kelompok teroris JAD dipecat dari Polri
"Peran RT/RW, orang tua dan masyarakat kampus penting dalam menangkal terorisme ataupun radikalisme di lingkungan kita ," kata Zahwani Pandra Arsyad, di Bandarlampung, Rabu.
Menurut dia, saat ini terorisme ataupun paham radikalisme tidak hanya berkembang di kehidupan nyata, bahkan saat ini sudah merambah ke dunia maya melalui media sosial (medsos).
Baca juga: Dua saudara di Jateng ditangkap Densus 88 terlibat jaringan teroris
"Maka dari itu perlu adanya peranan kecil dari pihak keluarga dan lingkungan untuk memantau aktivitas orang di sekitar kita terutama orang baru," katanya.
Pandra pun menyebutkan beberapa ciri teroris yang bekerja di medsos, yakni Pertama, kejadian terorisme yang menelan banyak korban itu sebagai setingan, drama maupun rekayasa, hal ini dilakukan agar masyarakat tidak bersimpati atas hilangnya nyawa korban.
Kedua, mereka mengalihkan berita korban jiwa akibat terorisme dengan berita lain yang tidak ada sangkutpautnya dengan tujuannya agar masyarakat lupa dengan kekejaman teroris.
Baca juga: Polri berhasil tangkap teroris kelompok JAD
Ketiga, menggunakan kata yang melecehkan untuk menggambarkan keadaan korban dan ini sesuai dengan tabiat teroris yang senang melihat korbannya tersiksa.
Keempat, mereka selalu menyalahkan aparat hukum bila terjadi tindakan terorisme, teroris pengebom bunuh diri dianggap konspirasi, sedangkan aparat yang menjadi sutradara terorisme.
Dan yang terakhir mereka senang mencaci pemerintah dengan istilah tak enak keagamaan seperti pemerintah selalu dituduh anti islam, toghut, musuh Allah, pelaku bid'ah, penegak islam kufur yang membangkitkan kebencian rakyat dengan pemerintah.
Baca juga: Densus 88 amankan seorang terduga teroris di Kota Malang
"Padahal akar teroris adalah kebencian. Ingat teroris hanya membunuh sesuatu yang dibencinya," kata Pandra.
Sementara itu Wali Kota Bandarlampung Herman HN mengatakan telah meminta RT/RW dan PKK untuk meningkatkan pemantauan di setiap daerahnya.
"Saya selalu himbau kepada RT dan warga agar bila ada tamu orang baru atau dari luar harus wajib lapor kepada mereka. Bahkan banner 1x24 jam tamu wajib lapor sudah kita pasang di setiap lingkungan," kata dia.
Baca juga: Bripda Nesti terpengaruh kelompok teroris JAD dipecat dari Polri
Pewarta : Dian Hadiyatna
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Cegah serangan terorisme, BNPT pasang antidrone di sekitar objek vital strategis
01 December 2025 21:49 WIB
Polisi di Palangka Raya cegah radikalisme dan terorisme di lingkungan pelajar
06 December 2023 17:17 WIB, 2023
Bupati Gumas tekankan pentingnya sinergi cegah ektremisme kekerasan
15 September 2023 17:48 WIB, 2023
Pemprov Kalteng perkuat peran perempuan cegah radikalisme dan terorisme
09 November 2022 20:24 WIB, 2022
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Kapolda ungkap keseriusan tanggulangi karhutla di Kalteng ke Relawan Petra
02 September 2026 12:16 WIB