Jakarta (ANTARA) - Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak masyarakat Indonesia untuk terbiasa hidup dengan protokol kesehatan yang ketat terkait dengan analisis para ahli bahwa kekebalan komunal (herd immunity) dari COVID-19 akan sulit tercapai akibat mutasi virus tersebut.

"Saya berharap masyarakat akan terus terbiasa hidup bersama protokol kesehatan dalam menghadapi COVID-19 yang diprediksi akan ada di tengah-tengah kita untuk waktu lama," kata Puan di Jakarta, Kamis.

Puan mengatakan hal itu terkait dengan pendapat sejumlah guru besar epidemiologi yang menyebutkan herd immunity tidak akan terjadi sekalipun vaksinasi terus dikejar sesuai dengan target. Hal tersebut lantaran terus terjadinya mutasi-mutasi COVID-19 yang menyebabkan tingkat kemanjuran vaksin atau efikasi tidak optimal.

Munculnya varian delta bahkan disebut menurunkan efikasi vaksin pfizer dan moderna yang nilainya cukup besar, yakni dari angka 90-an persen menjadi sekitar 60—70 persen.

Padahal, kata Puan, terjadinya herd immunity dipengaruhi oleh efikasi vaksin dan jumlah penduduk yang telah divaksin secara lengkap.

"Apalagi, mutasi-mutasi COVID-19 terus terjadi, termasuk yang baru saja teridentifikasi munculnya varian baru, yaitu varian lambda," ujarnya.

Namun, kata dia, bukan berarti vaksinasi COVID-19 tidak efektif. Dalam hal ini masyarakat menyiapkan diri apabila COVID-19 berubah statusnya dari pandemi menjadi endemi.

Menurut dia, vaksin memang tidak akan membuat tubuh kebal dari COVID-19, tetapi dengan mendapatkan vaksin, tingkat risiko menjadi lebih kecil saat kita terpapar COVID-19.

"Sama dengan jenis penyakit-penyakit virus lain yang hingga saat ini tidak bisa hilang," katanya.

Puan menjelaskan bahwa vaksin sebagai bentuk perlindungan komunal (herd protection), mulai dari keluarga sampai komunitas, termasuk di dalamnya orang-orang yang memiliki komorbid dan tidak bisa mendapat vaksin.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) itu mengingatkan COVID-19 sangat berbahaya bagi mereka yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta.

"Dengan mendapatkan vaksin, harapannya tubuh memiliki antibodi untuk melawan virus ini sehingga makin sedikit orang yang terpapar COVID-19, artinya makin sedikit pula kemungkinan penularan terjadi kepada mereka yang berada dalam kategori rentan," ujarnya.

Puan menilai upaya pencegahan penularan menjadi hal yang penting. Namun,  pencegahan penyebaran COVID-19 membutuhkan peran dari masyarakat.

Menurut dia, sekeras apa pun upaya pemerintah menangani keberadaan COVID-19 dengan berbagai kebijakan, tidak akan bisa maksimal tanpa dibarengi kesadaran dari masyarakat untuk hidup dengan pola yang dibutuhkan pada era COVID-19.

Puan mengajak rakyat Indonesia agar selalu optmistis dan tak perlu takut walau COVID-19 akan terus ada di tengah-tengah kehidupan manusia.

"Jangan kendorkan prokes. Selalu gunakan masker saat berada di luar rumah. Sering-sering mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, dan jaga jarak untuk menghindari terjadinya penularan virus," katanya.

Di sisi lain, Puan juga terus mendorong pemerintah menyiapkan infrastruktur ketahanan kesehatan dalam menghadapi keberadaan COVID-19 yang berkepanjangan.

Ia berpendapat bahwa kesiapan infrastruktur akan mempermudah dalam menghadapi penyakit yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya.

Pewarta : Imam Budilaksono
Uploader : Ronny
Copyright © ANTARA 2024