Makna Bagi Irak Raih Kemenangan Di Tikrit
Jumat, 13 Maret 2015 17:38 WIB
Ulama Syiah Ahmed al-Rubaei (tengah) berbicara di hadapan tentara Irak dan pejuang Syiah di bendungan Udhaim, bagian utara Baghdad, Minggu (1/3) (REUTERS/Thaier Al-Sudani) Istimewa
Albu Ajil, Irak (ANTARA News) - Tikrit adalah tanah kelahiran diktator
Saddam Hussein, yang menjadi basis pendukung utama Partai Baath yang
belakangan bersekutu dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) manakala
kelompok militan ini menguasai hampir sepertiga Irak Juni tahun lalu.
Didukung militer negara tetangga Iran dan koalisi 60 negara pimpinan AS, Baghdad berhasil membalah rangkaian kekalahannya.
Itu dimulai dari operasi mengamankan kota suci Syiah di Karbala dan Najaf, serta melipatgandakan pertahanan kota Baghdad, lalu bergerak ke utara untuk merebut kembali provinsi Diyala belum lama tahun ini.
Kini mereka tengah melancarkan operasi militer besar-besaran ke Tikrit dan para panglima memandang Tikrit yang penduduknya mayoritas Arab Sunni sebagai batu loncatan untuk merebut kembali kota terbesar kedua Irak, Mosul, di utara, yang pernah berpenduduk dua juta orang.
Para analis mengatakan perang untuk merebut Tikrit adalah ujian besar mengenai bagaimana tentara reguler bisa bekerja baik dengan kelompok-kelompok milisi dan dalam mencegah pembalasan terhadap warga Sunni.
Menteri pertahanan Irak yang berasal dari warga Sunni mengatakan terkesan pada level kerjasama dan menepis kekhawatiran bahwa kemenangan di Tikrit bisa lebih jauh mengasingkan warga minoritas.
"Yang menarik perhatian saya dan yang sangat positif adalah bahwa saya menemukan sejumlah petempur, mungkin sekitar 250 orang, yang semuanya adalah anak-anak Tikrit," kata dia.
"Hal ini menyampaikan pesan yang sangat positif kepada rakyat Irak dan menaikkan semangat pasukan keamanan."
Menteri Luar Negeri AS John Kerry tengah mendiskusikan pertempuran yang berlangsung melawan ISIS ini dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di sela-sela konferensi investasi di Sharm el-Sheikh, Mesir, hari ini, demikian AFP.
Didukung militer negara tetangga Iran dan koalisi 60 negara pimpinan AS, Baghdad berhasil membalah rangkaian kekalahannya.
Itu dimulai dari operasi mengamankan kota suci Syiah di Karbala dan Najaf, serta melipatgandakan pertahanan kota Baghdad, lalu bergerak ke utara untuk merebut kembali provinsi Diyala belum lama tahun ini.
Kini mereka tengah melancarkan operasi militer besar-besaran ke Tikrit dan para panglima memandang Tikrit yang penduduknya mayoritas Arab Sunni sebagai batu loncatan untuk merebut kembali kota terbesar kedua Irak, Mosul, di utara, yang pernah berpenduduk dua juta orang.
Para analis mengatakan perang untuk merebut Tikrit adalah ujian besar mengenai bagaimana tentara reguler bisa bekerja baik dengan kelompok-kelompok milisi dan dalam mencegah pembalasan terhadap warga Sunni.
Menteri pertahanan Irak yang berasal dari warga Sunni mengatakan terkesan pada level kerjasama dan menepis kekhawatiran bahwa kemenangan di Tikrit bisa lebih jauh mengasingkan warga minoritas.
"Yang menarik perhatian saya dan yang sangat positif adalah bahwa saya menemukan sejumlah petempur, mungkin sekitar 250 orang, yang semuanya adalah anak-anak Tikrit," kata dia.
"Hal ini menyampaikan pesan yang sangat positif kepada rakyat Irak dan menaikkan semangat pasukan keamanan."
Menteri Luar Negeri AS John Kerry tengah mendiskusikan pertempuran yang berlangsung melawan ISIS ini dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di sela-sela konferensi investasi di Sharm el-Sheikh, Mesir, hari ini, demikian AFP.
Pewarta :
Editor : Rachmat Hidayat
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Anggota DPR: Investasi harus berdampak nyata bagi warga, bukan sekadar ambil untung
05 May 2026 13:01 WIB
Wabup Murung Raya apresiasi pendampingan sertifikasi halal gratis bagi pelaku UMKM
04 May 2026 20:50 WIB