
Psikolog sarankan pentingnya ruang bagi diri sendiri saat berduka

Jakarta (ANTARA) - Psikolog Klinis Indah Sundari Jayanti, M.Psi., Psikolog mengingatkan pentingnya memberi ruang untuk diri sendiri saat menghadapi duka kehilangan.
“Memahami bahwa dengan tahapan berduka ini, memang kadang proses berduka itu tidak selalu sebentar,” kata Indah ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, pada Kamis.
Psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu menyampaikan proses berduka itu terdapat tahapan emosional yang perlu dilalui.
Mengacu five stages of grief atau lima tahap berduka, seseorang umumnya akan melewati fase penyangkalan (denial), kemarahan (anger), penawaran (bargaining), depresi (depression), hingga akhirnya mencapai penerimaan (acceptance).
“Ada beberapa tahapan yang mungkin harus kita lewati dulu sebelum akhirnya kita benar-benar menerima proses kedukaan atau kehilangan yang memang sedang terjadi sama kita,” tutur dia.
Dalam menerima proses kedukaan atau kehilangan, kata Indah, pentingnya stay true to ourselves atau bersikap jujur terhadap diri sendiri dalam menghadapi emosi yang dirasakan.
Seperti ketika yang dirasakan adalah kesedihan, boleh mengekspresikannya dengan menangis atau berbagi cerita dengan orang terdekat.
“Kalau misalnya yang kita rasakan tahap-tahap depresi seperti rasanya kita enggak mau keluar rumah, kita enggak mau ketemu sama siapa-siapa, ya enggak apa-apa. Kita boleh memberikan ruang untuk diri kita kehilangan,” ujar founder yang juga berpraktik di Sundari Psychological Corner itu.
Indah menambahkan dalam menghadapi duka kehilangan, seseorang tidak perlu terburu-buru untuk segara bangkit terlihat “baik-baik saja”.
Hal yang wajar untuk memberi ruang diri sendiri agar bisa merasakan kesedihan atau kehilangan sesuai dengan yang dibutuhkan, selama apa yang diekspresikan dan dilakukan ini tidak melukai diri sendiri ataupun orang di sekitar.
Lebih lanjut, Indah menambahkan ketika perilaku pihak yang berduka dalam merespons dari proses duka itu sudah berdampak pada aktivitas sehari-hari menjadi tanda yang mengindikasikan butuh dukungan bantuan profesional.
“Misal, jadi berdampak ke kita secara personal, berdampak ke aspek relasi, pekerjaan, ataupun pendidikan. Memang tidak ada ciri-ciri khususnya cuman yang menjadi penanda kalau hal itu sudah berdampak dan kesulitan untuk menghadapi situasi sehari-hari,” imbuh dia.
Pewarta : Sri Dewi Larasati
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
