Perlukah laki-laki periksa kesehatan reproduksi?
Senin, 11 Februari 2019 16:23 WIB
Ilustrasi (shutterstock)
Jakarta (Antaranews Kalteng) - Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan Herna Lestari mengatakan laki-laki juga perlu memeriksakan kesehatan reproduksinya bila sudah beberapa lama menikah dan belum dikaruniai anak.
"Selama ini, bila ada pasangan suami istri belum memiliki anak, seringkali yang disalahkan perempuan," kata Herna di Jakarta, Senin.
Herna mengatakan saat pasangan suami istri tidak kunjung memiliki anak, pihak suami kerap kali enggan memeriksakan kesehatan reproduksinya karena berbagai alasan.
Menurut Herna, membangun rumah tangga berarti membangun kesepakatan kedua belah pihak antara laki-laki dan perempuan.
Perkawinan menuntut laki-laki dan perempuan yang memiliki perbedaan satu sama lain harus bisa menyatu dan memiliki visi dan misi yang sama.
"Kalau salah satu tujuan perkawinan adalah untuk memiliki keturunan, suami-istri perlu mengetahui kondisi masing-masing. Intinya adalah komunikasi, saling menerima karena masing-masing pihak tidak ada yang sempurna," tuturnya.
Untuk menghindari stigma dari keluarga karena tidak kunjung memiliki keturunan, Herna menyarankan untuk bersikap terbuka dengan keluarga masing-masing.
"Biasanya, masing-masing memahami celah keluarganya sendiri. Jadi suami yang berbicara kepada keluarganya, dan istrinya yang berbicara kepada keluarganya," katanya.
"Selama ini, bila ada pasangan suami istri belum memiliki anak, seringkali yang disalahkan perempuan," kata Herna di Jakarta, Senin.
Herna mengatakan saat pasangan suami istri tidak kunjung memiliki anak, pihak suami kerap kali enggan memeriksakan kesehatan reproduksinya karena berbagai alasan.
Menurut Herna, membangun rumah tangga berarti membangun kesepakatan kedua belah pihak antara laki-laki dan perempuan.
Perkawinan menuntut laki-laki dan perempuan yang memiliki perbedaan satu sama lain harus bisa menyatu dan memiliki visi dan misi yang sama.
"Kalau salah satu tujuan perkawinan adalah untuk memiliki keturunan, suami-istri perlu mengetahui kondisi masing-masing. Intinya adalah komunikasi, saling menerima karena masing-masing pihak tidak ada yang sempurna," tuturnya.
Untuk menghindari stigma dari keluarga karena tidak kunjung memiliki keturunan, Herna menyarankan untuk bersikap terbuka dengan keluarga masing-masing.
"Biasanya, masing-masing memahami celah keluarganya sendiri. Jadi suami yang berbicara kepada keluarganya, dan istrinya yang berbicara kepada keluarganya," katanya.
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Kapuas tegaskan komitmen tingkatkan kapasitas SDM tenaga kesehatan
13 February 2026 13:59 WIB
Bandara Tjilik Riwut: Bulan K3 momentum menjaga keberlanjutan budaya kerja aman
12 February 2026 16:07 WIB
Pemkab Kobar optimalkan program kesehatan lewat evaluasi UHC melibatkan masyarakat
12 February 2026 7:37 WIB
Kotawaringin Timur terpilih sebagai percontohan program Integrasi Layanan Primer
11 February 2026 16:59 WIB
Kunjungi RSUD Muara Teweh, Ketua PKK Barut dukung sinergi kesehatan masyarakat
09 February 2026 17:26 WIB
DPRD Pulang Pisau soroti pencabutan PBI BPJS Kesehatan beratkan masyarakat
09 February 2026 15:42 WIB
Terpopuler - Hiburan
Lihat Juga
Wamenekraf perkuat kekayaan intelektual lokal melalui kolaborasi hexahelix
20 February 2026 13:14 WIB