Sampit (ANTARA) - Tradisi membuat dan membagikan bubur Asyura tetap dipertahankan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sehingga banyak pula yang selalu menanti tradisi yang dilaksanakan setiap 10 Muharam atau disebut dengan Hari Asyura.

"Kalau rasa buburnya sebenarnya tidak beda jauh dengan bubur biasa, meski ini memang banyak campurannya, tapi memang ada rasa kebanggaan dan kegembiraan tersendiri ketika sempat kebagian menikmati bubur Asyura," kata Yanti, warga Sampit, Sabtu.

Gadis yang bekerja di sebuah perusahaan swasta ini mengaku sudah dua tahun ini selalu menyempatkan datang meminta bubur Asyura. Dia terlihat membawa rantang sendiri agar panitia lebih mudah menuangkan bubur Asyura untuknya.

Hari ini masyarakat di sejumlah lokasi di Sampit, melaksanakan pembuatan bubur Asyura, diantaranya di Masjid Kota kawasan ikon Jelawat, Jalan Juanda, Masjid Nurul Qolbu dan lokasi lainnya. Tradisi ini juga dilaksanakan oleh masyarakat di beberapa kecamatan, diantaranya Parenggean dan lainnya.

Muhammad Yunus, salah seorang panitia pembuatan bubur Asyura mengatakan, seperti biasanya dia ikut membantu di dua lokasi, yaitu di Masjid Kota dan Jalan Juanda. Jumlah beras yang dimasak menjadi bubur dari tahun ke tahun bertambah banyak karena tingginya antusias masyarakat untuk menikmati bubur Asyura.

"Di masjid kota, beras yang dimasak sebanyak 150 kilogram menggunakan tiga kawah besar), sedangkan di Jalan Juanda Ketapang sebanyak 60 kilogram menggunakan 12 panci besar. Di Masjid Kota pembagian buburnya setelah shalat Zuhur, sedangkan di Jalan Juanda setelah shalat Ashar," kata Yunus.

Memasak bubur Asyura sama seperti masak bubur biasanya. Hanya, bahan yang dicampur dalam membuat bubur Asyura, biasanya dilengkapkan 41 jenis bahan dan rempah-rempah seperti sayur dan kacang-kacangan ditambah daging dan telur.

Dana membuat bubur Asyura merupakan sumbangan dari para dermawan. Setelah masak, bubur Asyura dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Sebagian disisakan untuk buka puasa bersama di masjid bagi warga yang melaksanakan puasa sunat di Hari Asyura.

Tidak diketahui sejak kapan tradisi membuat bujur Asyura masyarakat Kotawaringin Timur, namun hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat. Bahkan, pelaksanaannya dari tahun semakin meriah dan disambut antusias masyarakat.

Baca juga: Tradisi bubur asyura meriahkan tahun baru Islam di Sampit

Menurut Yunus tradisi memperingati Hari Asyura merujuk pada sejarah Islam. Banyak kejadian pada 10 Muharam, diantaranya hari penciptaan alam semesta, hari saat Nabi Nuh diselamatkan dari banjir bandang, hari saat Nabi Musa melintasi laut Merah terbelah ketika dikejar tentara Fir`aun.

Hari Asyura juga saat Nabi Ibrahim selamat dari pembakaran oleh Raja Namrud, hari saat Nabi Yunus keluar dari perut ikan dan kejadian penting lainnya.

Sementara itu, saat bubur mulai dibagikan, warga antusias berdatangan untuk meminta bubur Asyura sehingga panitia harus gerak cepat melayani warga yang datang. Ada yang datang membawa rantang sendiri, ada pula yang mengandalkan plastik yang sudah disiapkan panitia.

Tidak sampai satu jam, bubur Asyura sudah habis dibagikan. Panitia memang tidak membatasi warga. Siapapun yang datang mereka beri bubur Asyura selama masih tersedia.

Baca juga: Pemkab Kotim diminta fokus membantu peternak lokal

Baca juga: Suhu politik meningkat, masyarakat Kotim jangan terpecah belah

Baca juga: Pemkab Kotim diminta tegas terhadap perusahaan abai kewajiban ketenagakerjaan


Pewarta : Norjani
Uploader : Admin 2
Copyright © ANTARA 2024