Microsoft sebut peneliti COVID-19 jadi target peretas Rusia dan Korea Utara
Minggu, 15 November 2020 8:54 WIB
Ilustrasi - Seorang peretas sedang melakukan aksinya . (ANTARA/Shutterstock/am.)
Jakarta (ANTARA) - Raksasa teknologi Microsoft mengatakan peretas yang bekerja untuk pemerintah Rusia dan Korea Utara telah menargetkan lebih dari setengah lusin organisasi yang terlibat dalam penelitian pengobatan dan vaksin COVID-19.
Perusahaan perangkat lunak tersebut mengatakan kelompok peretas Rusia yang biasa dijuluki "Fancy Bear" -- bersama dengan sepasang aktor kejahatan siber asal Korea Utara yang dijuluki "Seng" dan "Cerium" oleh Microsoft -- terlibat dalam upaya untuk membobol jaringan tujuh perusahaan farmasi dan peneliti vaksin di Kanada, Prancis, India, Korea Selatan dan Amerika Serikat baru-baru ini.
Microsoft mengatakan, dikutip dari Reuters, Minggu, mayoritas target mereka adalah organisasi yang sedang dalam proses pengujian vaksin COVID-19. Sebagian besar upaya pembobolan gagal, namun beberapa di antaranya berhasil.
Microsoft menolak menyebutkan organisasi yang menjadi target atau organisasi mana yang telah berhasil dibobol oleh aktor kejahatan siber tertentu, ataupun memberikan waktu atau deskripsi yang tepat tentang upaya peretasan tersebut.
Kedutaan Rusia di Washington -- yang telah berulang kali membantah tuduhan keterlibatan Rusia dalam spionase digital -- dalam email kepada Reuters mengatakan bahwa "tidak ada yang bisa kami tambahkan" pada penyangkalan sebelumnya.
Sementara, perwakilan Korea Utara untuk PBB tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar. Pyongyang sebelumnya membantah melakukan peretasan di luar negeri.
Tuduhan spionase dunia maya muncul ketika dunia berlomba-lomba memproduksi vaksin untuk virus corona.
Microsoft mendesak seperangkat aturan global baru yang melarang serangan siber yang menargetkan penyedia layanan kesehatan.
Eksekutif Microsoft Tom Burt mengatakan Microsoft akan mendiskusikannya dalam acara virtual Paris Peace Forum dengan para pemimpin dunia "untuk menegaskan bahwa hukum internasional melindungi fasilitas perawatan kesehatan dan untuk mengambil tindakan dalam upaya menegakkan hukum."
Perusahaan perangkat lunak tersebut mengatakan kelompok peretas Rusia yang biasa dijuluki "Fancy Bear" -- bersama dengan sepasang aktor kejahatan siber asal Korea Utara yang dijuluki "Seng" dan "Cerium" oleh Microsoft -- terlibat dalam upaya untuk membobol jaringan tujuh perusahaan farmasi dan peneliti vaksin di Kanada, Prancis, India, Korea Selatan dan Amerika Serikat baru-baru ini.
Microsoft mengatakan, dikutip dari Reuters, Minggu, mayoritas target mereka adalah organisasi yang sedang dalam proses pengujian vaksin COVID-19. Sebagian besar upaya pembobolan gagal, namun beberapa di antaranya berhasil.
Microsoft menolak menyebutkan organisasi yang menjadi target atau organisasi mana yang telah berhasil dibobol oleh aktor kejahatan siber tertentu, ataupun memberikan waktu atau deskripsi yang tepat tentang upaya peretasan tersebut.
Kedutaan Rusia di Washington -- yang telah berulang kali membantah tuduhan keterlibatan Rusia dalam spionase digital -- dalam email kepada Reuters mengatakan bahwa "tidak ada yang bisa kami tambahkan" pada penyangkalan sebelumnya.
Sementara, perwakilan Korea Utara untuk PBB tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar. Pyongyang sebelumnya membantah melakukan peretasan di luar negeri.
Tuduhan spionase dunia maya muncul ketika dunia berlomba-lomba memproduksi vaksin untuk virus corona.
Microsoft mendesak seperangkat aturan global baru yang melarang serangan siber yang menargetkan penyedia layanan kesehatan.
Eksekutif Microsoft Tom Burt mengatakan Microsoft akan mendiskusikannya dalam acara virtual Paris Peace Forum dengan para pemimpin dunia "untuk menegaskan bahwa hukum internasional melindungi fasilitas perawatan kesehatan dan untuk mengambil tindakan dalam upaya menegakkan hukum."
Pewarta : Arindra Meodia
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Layanan cloud Azure milik Microsoft sempat alami gangguan global kini telah dipulihkan
30 October 2025 10:31 WIB
Microsoft rekrut Mantan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak sebagai penasihat
12 October 2025 16:12 WIB
Opera luncurkan Neon peramban berbasis AI, siap bersaing dengan Google & Microsoft
01 October 2025 14:15 WIB
OpenAI bertransformasi jadi perusahaan publik, Microsoft ambil peran penting
15 September 2025 16:20 WIB
Terpopuler - Teknologi
Lihat Juga
Kemkomdigi umumkan tiga operator seluler ikuti lelang frekuensi 700 MHz dan 26 GHz
06 May 2026 18:13 WIB