Jakarta (ANTARA) - Beberapa pekan setelah Merriam-Webster menetapkan kata “slop” sebagai word of the year, CEO Microsoft Satya Nadella ikut menyampaikan pandangannya tentang masa depan kecerdasan artifisial (AI) menjelang 2026, yang mana menurutnya orang-orang perlu mengubah cara pandang terhadap teknologi tersebut.
Dalam gaya khasnya yang intelektual, Nadella menulis di blog pribadinya, yang dikutip Tech Crunch, Senin (5/1), bahwa ia ingin publik berhenti memandang AI sebagai “slop” atau konten asal-asalan, dan mulai melihatnya sebagai “bicycle for the mind” (sepeda bagi pikiran). Istilah ini merujuk pada alat yang membantu manusia memperkuat kemampuan berpikirnya.
“Sebuah konsep baru yang mengembangkan gagasan ‘bicycle for the mind’, sehingga kita selalu memandang AI sebagai penopang potensi manusia, bukan sebagai pengganti manusia," tulisnya.
Nadella melanjutkan bahwa perdebatan antara AI sebagai “slop” maupun teknologi canggih perlu ditinggalkan. Menurutnya, dibutuhkan keseimbangan baru dalam cara manusia memahami pikiran dan interaksi sosial, dengan mempertimbangkan bahwa manusia kini dilengkapi alat penguat kognitif seperti AI.
Jika disederhanakan, Nadella tidak hanya meminta agar konten buatan AI tidak langsung dicap buruk, tetapi juga mendorong industri teknologi untuk berhenti membicarakan AI sebagai pengganti manusia. Ia berharap AI lebih dilihat sebagai alat bantu produktivitas bagi manusia.
Namun, pendekatan ini memiliki tantangan. Banyak pemasaran agen AI justru menonjolkan kemampuan menggantikan tenaga manusia untuk menentukan harga dan membenarkan biayanya. Di sisi lain, sejumlah tokoh AI memperingatkan potensi lonjakan pengangguran.
Pada Mei lalu, CEO Anthropic Dario Amodei menyebut AI bisa menghilangkan setengah pekerjaan kantoran level pemula dan mendorong pengangguran hingga 10–20 persen dalam lima tahun ke depan.
Meski begitu, dampak sebenarnya masih belum pasti. Seperti disiratkan Nadella, sebagian besar alat AI saat ini digunakan oleh manusia, bukan untuk menggantikan mereka, selama hasilnya tetap diperiksa.
Studi Project Iceberg dari MIT memperkirakan AI baru mampu mengambil alih sekitar 11,7 persen pekerjaan berbayar manusia, terutama pada sebagian tugas, bukan seluruh pekerjaan.
Laporan Vanguard bahkan menunjukkan bahwa sekitar 100 pekerjaan yang paling terpapar otomatisasi AI justru mengalami pertumbuhan lapangan kerja dan kenaikan upah riil. Kesimpulannya, mereka yang mahir menggunakan AI menjadi lebih bernilai, bukan tergantikan.
Ironisnya, narasi AI mengancam pekerjaan juga diperkuat oleh langkah Microsoft sendiri. Pada 2025, perusahaan ini memangkas lebih dari 15.000 karyawan meski mencatat pendapatan dan laba tertinggi, dengan alasan transformasi AI. Namun, laporan menunjukkan bahwa pemutusan hubungan kerja tersebut lebih terkait strategi bisnis umum, bukan semata efisiensi AI.Terlepas dari perdebatan tersebut, sebagian orang mungkin berpendapat bahwa “slop”, seperti meme dan video pendek buatan AI, tetap menjadi salah satu sisi AI yang paling menghibur.
