Jakarta (ANTARA) - PT LIB meluncurkan aplikasi Liga Fan ID untuk mempermudah aktivitas para suporter serta meningkatkan pengawasan terhadap oknum suporter nakal yang berpotensi membuat kericuhan pada pertandingan.

Humas PT LIB Sabina Katya mengatakan aplikasi itu saat ini khusus digunakan untuk mendata basis penggemar klub-klub Liga 2 serta untuk mempermudah para suporter klub-klub Liga 2 dalam melakukan pembelian tiket pertandingan sepak bola.

 
“Untuk launching Liga Fan ID ini kami ingin sistem ticketing onlinenya terintegrasi, jadi kami bisa mengantisipasi insiden-insiden yang ada. Kami juga mengharapkan kesediaan klub dan dukungan dari klub, komunitas agar bergabung dengan Liga Fan ID karena kita tidak bisa bergerak sendirian,” kata Sabina pada acara peluncuran di Jakarta, Rabu.
 
Saat ini, aplikasi tersebut hanya dikhususkan untuk para suporter klub-klub Liga 2, sebab klub-klub Liga 1 sudah memiliki sistem aplikasi penjualan tiket masing-masing.

Meski demikian, Sabina mengatakan bahwa untuk masa yang akan datang, bukan tidak mungkin aplikasi itu juga akan dapat digunakan oleh klub-klub Liga 1.

 
Dalam kesempatan itu, Chief of Business PT LIB Budiman Dalimunthe menjabarkan bahwa untuk penerapannya, setiap individu suporter akan diverifikasi oleh pihak klub atau organisasi suporter untuk dapat memiliki akun di aplikasi tersebut. Hal itu merupakan sistem saringan agar para perusuh sepak bola dapat diminimalisir.
 
Meski demikian, Budiman menegaskan bahwa para penggemar sepak bola yang tidak tergabung dalam organisasi suporter tetap dapat menyaksikan pertandingan-pertandingan secara langsung di stadion.
 
“Nanti akan dibuka, yang spectator namanya. Kan kebiasaan (menonton)nya sudah ketahuan. Dia mau menonton di mana pun, pasti di-approve,” kata Budiman.
 
Sistem fan id telah diterapkan di level global sejak Piala Dunia 2018. Dengan sistem tersebut, calon penonton yang tidak memiliki akun fan id tidak akan dapat membeli tiket atau melakukan registrasi.

Pewarta : A Rauf Andar Adipati
Uploader : Admin 1
Copyright © ANTARA 2024