Muara Teweh (Antara Kalteng) - Ratusan warga bergabung dengan mahasiswa STIE Muara Teweh, KNPI dan beberapa anggota DPRD Kabupaten Barito Utara kembali melakukan aksi demo terkait pemadaman bergilir yang diperpanjang PLN daerah itu.

Aksi demo yang dilakukan warga ini karena beberapa waktu terakhir pelayanan PLN kepada pelanggan kian memburuk karena pemadaman bergilir sejak Pebruari 2016 akibat krisis listrik yang menyebabkan defisit daya pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) setempat di Muara Teweh, Rabu.

Sebelum melakukan aksi demo di PLN Muara Teweh, terlebih dahulu para demonstran menyampaikan orasinya di Bundaran Air Mancur Muara Teweh, kemudian bergerak menuju PLN Muara Teweh di Jalan Beringin. Walaupun aksi demo tersebut tidak melakukan tindakan anarkis, namun dalam aksi demonstrasi tersebut mendapat pengawalan ketat dari puluhan personil kepolisian Polres Barito Utara.

Sesampainya di depan PLN Muara Teweh, para pendemo sempat beberapa kali berteriak meminta agar pimpinan PLN Muara Teweh bisa memberikan penjelasan terkait pemadaman bergilir yang diperpanjang.

Para pendemo juga berteriak tidak melakukan pemadaman listrik yang mengakibatkan terganggunya aktivitas masyarakat. Bahkan ada terdengar suara dari para pendemo agar pimpinan PLN Muara Teweh yang saat ini mundur dari jabatannya apabila tidak bisa mengatasi krisis listrik di Kabupaten Barito Utara.

Sementara itu, salah satu warga yang mengaku dari Kelurahan Jingah Kecamatan Teweh Baru meminta jajaran pimpinan PLN untuk memprioritaskan dalam melindungi konsumen.

"Biasanya kalau ada pelanggan yang nunggak membayar maka diberikan sanski atau denda, seharusnya sanksi juga diberlakukan bagi PLN yang sering kali memadamkan lampu tanpa memikirkan kepentingan pelanggannya," ucapnya.

Kemudian masalah jadwal yang diterima masyarakat. Tapi kenapa jadwal padamnya siang akan tetapi setelah malam juga terkena pemadaman. Itu namanya pembodahan kepada para pelanggan, dengan alasan PLN ada gangguan jaringan, kenapa gangguan jaringan itu sejak jaman dulu tidak bisa diatasi oleh PLN.

"Apakah kerusakan mesin PLN ini memang dipelihara, karena kalau para petugasnya turun ke lapangan mendapat lembur. Kami tidak meminta akan tetapi kami membeli, jadi bapak menjual jasa itu harus semaksimal mungkin, kami tidak perlu tahu kerusakan apa pun yang penting PLN memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan," kata warga tersebut.

Manajer PT PLN Muara Teweh, Tatok Winarko dihadapan para pendemo mengatakan pemadaman ini akibat dua unit mesin generator dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Asam-Asam, Kalimantan Selatan dengan daya 2.200 kilo watt (KW) yang sudah terpasang dan beroperasi, namun masih belum bisa singkron atau terhubung ke sistem mesin yang ada.

Di samping itu, kata Tatok, pekerjaan pemeliharaan rutin (over houl) mesin DAG dengan daya 800 KW juga sedang dalam pekerjaan dari kontrak dan kini masih menunggu material (spare part) dari negara Jerman yang kini sudah sampai di Indonesia yaitu di bea cukai Jakarta.

"Atas krisis listrik yang membuat pemadaman ini kami minta pengertian dan mohon maaf kepada masyarakat, karena target 5 Juni 2016 sudah normal terpaksa tidak bisa dipenuhi akibat kendala teknis," kata Tatok.

Akibatnya PLN kembali memperpanjang pemadaman bergilir mulai Selasa (7/6) sampai 15 Juni 2016 pemadaman bergilir ini terbagi dalam dua waktu, yakni pada pukul 08.00-17.00 WIB dilakukan pemadaman enam hari sekali yaitu 5 nyala dan 1 padam, kemudian pukul 16.00-24.00 WIB dilakukan pada tiga hari sekali (2 nyala dan 1 padam). Jadwal ini sama dengan pemadaman sebelumnya yang berakhir tanggal 5 Juni 2016.

Dalam aksi demo itu terlihat anggota DPRD Barito Utara, seperti Tajeri, Abri, Heny Rosgiaty Rusli, Jamilah, dan Wardatun Nur Jamilah yang juga Ketua DPD KNPI Kabupaten Barito Utara.

Pewarta : Kasriadi
Uploader : Ronny
Copyright © ANTARA 2026