Sampit (ANTARA) - Gambaran hasil yang sangat menggiurkan membuat petani di Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah bersemangat membudidayakan porang, bahkan pemerintah daerah setempat pun bertekad menjadikan daerah ini sebagai penghasil porang terbesar di Indonesia.

"Harapan kita di Kotim, nantinya kita bisa sebagai salah satu pemasok porang terbesar di Indonesia. Dan nanti kita tidak hanya membudidayakan porang, tetapi juga nanti kita ingin dia (investor) membangun pabrik di sini dan mengekspor dari sini. Mereka sepakat tadi dengan itu," kata Bupati Halikinnor di Sampit, Sabtu.

Halikinnor bersama Wakil Bupati Irawati, Ketua DPRD Rinie, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Sepnita dan pejabat lainnya, mengikuti panen perdana porang milik petani di Jalan Jenderal Sudirman km 15 Sampit.

Kelompok tani setempat juga mendatangkan Paidi atau sering disebut Master Porang yang merupakan pembudidaya porang sukses, untuk menjadi narasumber sosialisasi, sekaligus memotivasi masyarakat dan petani Kotawaringin Timur untuk menanam porang.

Tahap awal, petani setempat membudidayakan porang dengan luas 20 hektare. Panen setelah masa tanam dua musim atau sekitar 1,5 tahun bisa menghasilkan porang seberat lima sampai 9,5 kilogram.

Hasil panen porang yang disebutkan mencapai ratusan juta rupiah dalam satu hektare itu, membuat petani semakin bersemangat. Bupati Halikinnor pun tidak kalah bersemangat sehingga dia mendorong masyarakat membudidayakan tanaman yang menghasilkan sejenis umbi-umbian itu.

Menurutnya, Kotawaringin Timur sangat berpotensi menjadi penghasil porang terbesar di Indonesia karena tanahnya subur dan lahannya masih luas. Pemerintah daerah juga akan menyiapkan bantuan seperti bibit dan lainnya untuk memotivasi petani.

Halikinnor bahkan sengaja mengajak pimpinan sejumlah bank untuk hadir dalam panen perdana tersebut dengan harapan perbankan bisa membantu petani yang membutuhkan pinjaman modal untuk membudidayakan porang.

Baca juga: Belum ada lonjakan penumpang melalui Pelabuhan Sampit

Masyarakat diharapkan memanfaatkan lahan telantar untuk ditanami porang sehingga lahan tersebut menjadi produktif. Apalagi hasil budidaya porang sangat menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Tidak hanya mendorong masyarakat, Halikinnor juga menginginkan pemerintah daerah menyiapkan lahan 1.000 hektare untuk membudidayakan porang. Pengelolaannya nanti bisa dilakukan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang sudah ada bekerjasama dengan pihak lain.

Pemerintah desa juga didorong untuk menyiapkan lahan minimal 10 hektare untuk menanam porang. Pengelolaannya dilakukan oleh desa sehingga ada pemasukan bagi kas pemerintah desa.

"Kalau dibanding dengan kelapa sawit dan komoditas lain, porang ini sangat jauh menguntungkan. Sawit itu hasilnya hanya sekitar Rp2 juta per hektare. Masyarakat cukup punya satu hektare kebun porang, hasilnya sudah bisa untuk membiayai pendidikan anak. Saya yakin itu. Satu hektare dengan 30.000 bibit porang an menghasilkan sekitar Rp600 juta. Itu belum lagi hasil dari katak (bibit), jauh lebih besar," ujar Halikinnor.

Sementara itu Paidi mengajak petani tidak perlu ragu menahan porang karena sangat menguntungkan. Dia bahkan menyebutkan satu hektare tanaman porang bisa menghasilkan miliaran rupiah.

Budidaya porang dimulai dengan menanam bulbil atau bibit yang oleh petani sering disebut dengan istilah katak. Saat ini harga katak berkisar Rp200.000 hingga Rp300.000 per kilogram.

Baca juga: Legislator apresiasi terobosan KNPI Kotim

Ketika batang porang tumbuh besar, akan muncul bulbil atau katak di ujung daun, sedangkan di bagian bawah akar muncul porang. Saat panen, petani tidak hanya akan mendapat hasil berupa umbi pirang, tetapi juga katak yang harganya mahal.

Penanaman porang biasanya dilaksanakan November, kemudian batang akan layu dan mati pada Maret. Saat itu pertumbuhan umbi pirang di dalam tanah terus berlangsung.

Memasuki November, batang porang kembali tumbuh, namun kemudian kembali mati pada Maret. Saat itulah umbi porang sudah siap dipanen. Satu hektare lahan bisa ditanami hingga 35.000 katak atau bibit porang.

"Dengan 35.000 pohon itu yang ditanam dua musim (sekitar 1,5 tahun) dengan hasil per buah umbi beratnya lebih dari 5 kilogram maka kita sudah bisa dapat hasil sekitar Rp1,7 miliar. Selain itu, dari setiap batang porang itu juga menghasilkan sekitar satu ons katak. Misalkan harga jualnya Rp200.000 per kilogram dan jika dikali 35.000 pohon maka hasilnya sekitar Rp700 juta. Jika ditotal maka hasil yang kita dapat dari umbi porang dan katak sebesar Rp2,4 miliar," kata Paidi.

Menurut Paidi, porang bisa tumbuh di hampir semua kondisi tanah, yang terpenting tanahnya diberi kapur dolomit. Petani disarankan minta bimbingan dari penyuluh pertanian untuk mempersiapkan lahan.

"Kalau pemeliharaannya dioptimalkan maka tujuh bulan atau satu tahun pun sudah bisa panen. Permintaan porang terus meningkat. Pasarnya ada dua yaitu ekspor dan pabrik. Jangan ragu. Kami juga siap bermitra," demikian Paidi.

Baca juga: Pemuda Kotim dibekali pengetahuan advokasi perempuan dan keprotokolan

Baca juga: PT Maju Aneka Sawit bantu perbaikan jalan lingkar selatan Sampit

Baca juga: LBH Karya Pemuda KNPI Kotim jadi yang pertama di Kalteng


Pewarta : Norjani
Uploader : Admin 2
Copyright © ANTARA 2024