Kenali dampak buruk polusi udara saat pandemi
Selasa, 25 Mei 2021 13:06 WIB
Ilustrasi-Seorang pria memakai masker pelindung berjalan di jalan pada hari dengan polusi udara. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Garcia Rawlins/foc/cfo
Jakarta (ANTARA) - Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (KPDPI) Dr Agus Dwi Susanto mengingatkan masyarakat harus lebih waspada terhadap dampak buruk polusi udara selama masa pandemi COVID-19 seperti saat ini.
Menurut dia, faktor lingkungan dan pola kerja memiliki porsi yang cukup besar terhadap kesehatan dan fungsi dari paru maupun penyakit lain yang berhubungan dengan saluran pernapasan manusia. Oleh karena itu penting bagi masyarakat untuk selalu mewaspadai dan melindungi diri.
“Kita menghindari daerah-daerah yang berpolusi dalam beraktivitas di luar rumah, selalu memantau kondisi polutan di udara, kemudian kita mengurangi aktivitas di luar ruangan pada saat polutan sedang tinggi, menggunakan alat pelindung diri kalau kita beraktivitas di luar rumah termasuk menggunakan masker,” kata Dr Agus dalam siaran pers pada Selasa.
Hal tersebut terjadi lantaran komponen dari polusi udara baik komponen gas maupun komponen partikel sebagian besar berdampak pada iritatif karena itu akan timbul keluhan-keluhan dalam jangka pendek.
Baca juga: Bantu lindungi diri dari COVID-19 dengan jaga kualitas udara rumah
"Keluhan tersebut berupa iritasi, seperti misalnya kulit muka menjadi merah, hidung sering bersin-bersin, tenggorokan gatal, batuk-batuk karena adanya iritasi dari polusi termasuk saluran bawah akan timbul peradangan akut yang berpotensi menimbulkan keluhan dalam jangka pendek," katanya.
Gejala tersebut menurutnya merupakan dampak jangka pendek yang disebabkan oleh paparan polusi udara terhadap tubuh manusia. Dr Agus melihat bahwa terdapat dampak jangka panjang dari polusi udara tersebut.
“Bagi orang yang memiliki asma akan membuat penyakitnya menjadi sering kambuh, sedangkan orang yang belum terkena (asma) jika terus menerus terkena polusi udara maka dalam beberapa bulan atau tahun terus berada di lingkungan berpolusi maka akan membuat penurunan fungsi paru lebih cepat dan berimplikasi menyebabkan asma,” kata dia menjelaskan.
Lebih lanjut, Agus melihat dampak buruk lainnya yang disebabkan oleh paparan polusi udara, di mana jika seseorang terus menerus terpapar udara yang tidak bagus maka dapat menyebabkan penyakit serius seperti kanker paru. Selain itu, jika melihat dari beberapa riset, udara yang buruk juga dapat berdampak pada gangguan kognitif pada anak-anak dalam masa pertumbuhan.
"Gangguan kognitif pada anak-anak dalam masa pertumbuhan ini juga mempengaruhi proses pertumbuhan anak polutan itu beberapa riset menunjukkan anak-anak yang terkena ekspos polusi ternyata tinggi badannya sedikit lebih pendek dari anak-anak yang tidak terkena polusi jadi efek stunting," katanya.
Baca juga: Waspadai skizofrenia akibat terpapar polusi udara
Baca juga: Ini penjelasan mengapa polusi bisa sebabkan rambut rontok
Baca juga: Polusi udara Jakarta masih masuk 12 besar di dunia
Menurut dia, faktor lingkungan dan pola kerja memiliki porsi yang cukup besar terhadap kesehatan dan fungsi dari paru maupun penyakit lain yang berhubungan dengan saluran pernapasan manusia. Oleh karena itu penting bagi masyarakat untuk selalu mewaspadai dan melindungi diri.
“Kita menghindari daerah-daerah yang berpolusi dalam beraktivitas di luar rumah, selalu memantau kondisi polutan di udara, kemudian kita mengurangi aktivitas di luar ruangan pada saat polutan sedang tinggi, menggunakan alat pelindung diri kalau kita beraktivitas di luar rumah termasuk menggunakan masker,” kata Dr Agus dalam siaran pers pada Selasa.
Hal tersebut terjadi lantaran komponen dari polusi udara baik komponen gas maupun komponen partikel sebagian besar berdampak pada iritatif karena itu akan timbul keluhan-keluhan dalam jangka pendek.
Baca juga: Bantu lindungi diri dari COVID-19 dengan jaga kualitas udara rumah
"Keluhan tersebut berupa iritasi, seperti misalnya kulit muka menjadi merah, hidung sering bersin-bersin, tenggorokan gatal, batuk-batuk karena adanya iritasi dari polusi termasuk saluran bawah akan timbul peradangan akut yang berpotensi menimbulkan keluhan dalam jangka pendek," katanya.
Gejala tersebut menurutnya merupakan dampak jangka pendek yang disebabkan oleh paparan polusi udara terhadap tubuh manusia. Dr Agus melihat bahwa terdapat dampak jangka panjang dari polusi udara tersebut.
“Bagi orang yang memiliki asma akan membuat penyakitnya menjadi sering kambuh, sedangkan orang yang belum terkena (asma) jika terus menerus terkena polusi udara maka dalam beberapa bulan atau tahun terus berada di lingkungan berpolusi maka akan membuat penurunan fungsi paru lebih cepat dan berimplikasi menyebabkan asma,” kata dia menjelaskan.
Lebih lanjut, Agus melihat dampak buruk lainnya yang disebabkan oleh paparan polusi udara, di mana jika seseorang terus menerus terpapar udara yang tidak bagus maka dapat menyebabkan penyakit serius seperti kanker paru. Selain itu, jika melihat dari beberapa riset, udara yang buruk juga dapat berdampak pada gangguan kognitif pada anak-anak dalam masa pertumbuhan.
"Gangguan kognitif pada anak-anak dalam masa pertumbuhan ini juga mempengaruhi proses pertumbuhan anak polutan itu beberapa riset menunjukkan anak-anak yang terkena ekspos polusi ternyata tinggi badannya sedikit lebih pendek dari anak-anak yang tidak terkena polusi jadi efek stunting," katanya.
Baca juga: Waspadai skizofrenia akibat terpapar polusi udara
Baca juga: Ini penjelasan mengapa polusi bisa sebabkan rambut rontok
Baca juga: Polusi udara Jakarta masih masuk 12 besar di dunia
Pewarta : Ida Nurcahyani
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tingkatkan fasilitas, Bupati Barut usulkan pengembangan Bandara HMS Muara Teweh ke Kemenhub
21 January 2026 18:29 WIB
Untuk melawan polusi udara, empat jenis teh herbal ini bisa direkomendasikan
16 November 2025 11:47 WIB
A400M siap jadi ambulans udara, Prabowo perintahkan modernisasi fasilitas medis
03 November 2025 16:44 WIB