Logo Header Antaranews Kalteng

Kualitas udara di Kotim sulit dipantau akibat alat pengukur ISPU rusak

Rabu, 28 Januari 2026 19:39 WIB
Image Print
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kotawaringin Timur Marjuki. ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mulai mengeluhkan penurunan kualitas udara, ditandai cemaran asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin marak terjadi.

“Belakangan ini bau asap semakin tercium, terlebih pada waktu-waktu tertentu seperti pagi hari. Beraktivitas di luar ruangan pun menjadi tidak nyaman dan mata menjadi cepat perih,” kata salah seorang warga, Ilham di Sampit, Rabu.

Namun, disisi lain alat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) setempat justru mengalami kerusakan. Hal ini dapat dilihat dari aplikasi ISPUnet milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Melalui aplikasi tersebut terlihat bahwa kualitas udara di Kotim tercatat tidak valid atau tidak terpantau. Pada tampilan aplikasi tersebut, nilai ISPU untuk Kotim tidak muncul dan ditandai sebagai data tidak tersedia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim Marjuki, membenarkan bahwa perangkat pemantau ISPU tersebut sudah lama tidak berfungsi. Bahkan, laporan kerusakan telah disampaikan secara resmi kepada kementerian terkait.

“Alat ISPU itu rusak sejak Oktober 2025. Kami sudah melaporkan secara resmi menggunakan surat elektronik dan tanda tangan elektronik (TTE), namun sampai sekarang belum ada jawaban,” ungkap Marjuki.

Baca juga: Relokasi dermaga penyeberangan Sampit-Seranau masih pembahasan

Marjuki menjelaskan, kendala perbaikan terletak pada masalah kewenangan pusat. Pemerintah daerah hanya bertindak sebagai operator, sementara urusan teknis dan pemeliharaan alat sepenuhnya berada di bawah kendali KLH.

“Perawatan dan pemeliharaan langsung oleh KLH. Kabupaten hanya sebagai operator, jadi kami tidak bisa melakukan perbaikan sendiri,” tambahnya

Saat ini, alat yang seharusnya menjadi rujukan warga tersebut berada di halaman Kantor DLH Kotim, tanpa bisa bisa memberikan data apapun terkait kondisi kualitas udara.

DLH Kotim terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan karhutla dan berharap alat pemantau kualitas udara dapat segera diperbaiki agar kondisi ISPU di Kotim bisa kembali dipantau secara akurat.

“Kondisi ini tentu menjadi perhatian, apalagi saat kebakaran lahan meningkat. Pemantauan ISPU sangat penting untuk memberikan informasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi dampak asap karhutla, khususnya bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia dan penderita gangguan pernafasan.

“Warga juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah,” demikian Marjuki.

Baca juga: Pemkab Kotim dukung penuh penguatan swasembada pangan nasional

Baca juga: Raih UHC Awards 2026, Pemkab Kotim terus tingkatkan kualitas pelayanan kesehatan

Baca juga: Parkir ganggu lalu lintas, Dishub Kotim tegur pengelola kafe



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026