Amazon akan lebih banyak hapus konten yang langgar aturan 'cloud'
Jumat, 3 September 2021 9:01 WIB
Papan nama terlihat di fasilitas Amazon di Bethpage di Long Island di New York, AS, 17 Maret 2020. ANTARA/REUTERS/Andrew Kelly/Foto Dokumen
Jakarta (ANTARA) - Amazon berencana untuk mengambil pendekatan yang lebih proaktif untuk menentukan jenis konten yang melanggar kebijakan layanan cloud-nya, seperti aturan yang melarang konten kekerasan.
Dikutip dari Reuters, Jumat, sekelompok kecil orang di divisi Amazon Web Services (AWS) akan ditugaskan untuk mengembangkan keahlian dan bekerja dengan peneliti luar untuk mengantisipasi ancaman di masa depan.
Langkah tersebut mungkin akan menimbulkan perdebatan dan dianggap membatasi kebebasan berbicara. Namun para ahli mengatakan, hal itu akan menjadikan Amazon salah satu penengah paling kuat dalam konten di internet.
Pendekatan proaktif terhadap konten muncul setelah Amazon menghentikan aplikasi media sosial Parler dari layanan cloud-nya tak lama setelah kerusuhan Capitol 6 Januari karena platform tersebut mengizinkan konten yang mempromosikan kekerasan.
"AWS Trust & Safety berfungsi untuk melindungi pelanggan, mitra, dan pengguna internet AWS dari pelaku jahat yang mencoba menggunakan layanan kami untuk tujuan ilegal," kata AWS dalam sebuah pernyataan.
"Saat diberitahu ada perilaku kasar atau ilegal pada layanan AWS, tim bertindak cepat untuk menyelidiki dan melibatkan pelanggan untuk mengambil tindakan yang tepat," tambahnya.
Aktivis dan kelompok hak asasi manusia semakin menuntut situs web, aplikasi,hingga infrastruktur teknologi untuk bertanggungjawab atas konten berbahaya. Sementara itu,kaum konservatif politik mengecam pembatasan kebebasan berbicara.
Saat ini, AWS telah melarang orang-orang menggunakan layanannya untuk aktivitas ilegal, penipuan, menghasut, mengancam kekerasan, atau mempromosikan eksploitasi dan pelecehan seksual anak.
Dikutip dari Reuters, Jumat, sekelompok kecil orang di divisi Amazon Web Services (AWS) akan ditugaskan untuk mengembangkan keahlian dan bekerja dengan peneliti luar untuk mengantisipasi ancaman di masa depan.
Langkah tersebut mungkin akan menimbulkan perdebatan dan dianggap membatasi kebebasan berbicara. Namun para ahli mengatakan, hal itu akan menjadikan Amazon salah satu penengah paling kuat dalam konten di internet.
Pendekatan proaktif terhadap konten muncul setelah Amazon menghentikan aplikasi media sosial Parler dari layanan cloud-nya tak lama setelah kerusuhan Capitol 6 Januari karena platform tersebut mengizinkan konten yang mempromosikan kekerasan.
"AWS Trust & Safety berfungsi untuk melindungi pelanggan, mitra, dan pengguna internet AWS dari pelaku jahat yang mencoba menggunakan layanan kami untuk tujuan ilegal," kata AWS dalam sebuah pernyataan.
"Saat diberitahu ada perilaku kasar atau ilegal pada layanan AWS, tim bertindak cepat untuk menyelidiki dan melibatkan pelanggan untuk mengambil tindakan yang tepat," tambahnya.
Aktivis dan kelompok hak asasi manusia semakin menuntut situs web, aplikasi,hingga infrastruktur teknologi untuk bertanggungjawab atas konten berbahaya. Sementara itu,kaum konservatif politik mengecam pembatasan kebebasan berbicara.
Saat ini, AWS telah melarang orang-orang menggunakan layanannya untuk aktivitas ilegal, penipuan, menghasut, mengancam kekerasan, atau mempromosikan eksploitasi dan pelecehan seksual anak.
Pewarta : Suci Nurhaliza
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Lampung gelar pelatihan cloud computing dan AI untuk ASN mahasiswa
08 January 2026 17:16 WIB
Bisnis berbasis cloud didorong oleh AGIT-Infor untuk transformasi digital
18 November 2025 22:13 WIB
Layanan cloud Azure milik Microsoft sempat alami gangguan global kini telah dipulihkan
30 October 2025 10:31 WIB
KPK selidiki dugaan korupsi Google Cloud di Kemendikbudristek terkait pengadaan Chromebook
18 July 2025 14:14 WIB
Terpopuler - Teknologi
Lihat Juga
Threads hadirkan fitur Dear Algo guna mempermudah pengaturan algoritma konten
12 February 2026 16:37 WIB
Mudik 2026 bakal lebih teratur melalui integrasi data Google dan Korlantas
12 February 2026 16:34 WIB