China tetap anggap virus COVID-19 berbahaya walaupun status darurat berakhir
Sabtu, 6 Mei 2023 14:24 WIB
Corona Virus
Shenzhen (ANTARA) - Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakhiri status darurat global COVID-19, virus tersebut tetap berbahaya, kata kepala panel pakar respons COVID China Komisi Kesehatan Nasional, Liang Wannian.
Liang menyebut COVID-19 tetap berbahaya sehingga China akan terus memantau perkembangannya sembari meningkatkan vaksinasi terhadap kelompok-kelompok berisiko tinggi.
WHO pada Jumat mengakhiri tingkat kewaspadaan tertinggi mereka terhadap COVID setelah lebih dari tiga tahun dinyatakan sebagai darurat kesehatan global.
Badan PBB itu mengatakan negara-negara saat ini harus menghadapi virus tersebut selain penyakit-penyakit menular lainnya.
Pencabutan status darurat itu tidak berarti COVID akan hilang, tetapi dampak penyebarannya kini bisa efektif dikendalikan, kata Liang dalam wawancara bersama CCTV yang disiarkan Sabtu.
Liang menambahkan bahwa China akan terus memantau mutasi virus, memperkuat vaksinasi di antara kelompok-kelompok berisiko tinggi, dan berupaya meningkatkan kemampuan pengobatan COVID.
China sejak lama mempertahankan kebijakan nol COVID setelah sebagian besar negara di dunia mulai hidup berdampingan dengan virus tersebut. Negeri Tirai Bambu itu baru mulai meninggalkan kebijakan pembatasan COVID-19 pada akhir 2022.
Pada Februari, para pemimpin tinggi China mengumumkan "kemenangan mutlak" melawan COVID dan tingkat kematian terendah di dunia, meskipun para ahli mempertanyakan data Beijing tersebut.
Sumber: Reuters
Penerjemah: Shofi Ayudiana
Liang menyebut COVID-19 tetap berbahaya sehingga China akan terus memantau perkembangannya sembari meningkatkan vaksinasi terhadap kelompok-kelompok berisiko tinggi.
WHO pada Jumat mengakhiri tingkat kewaspadaan tertinggi mereka terhadap COVID setelah lebih dari tiga tahun dinyatakan sebagai darurat kesehatan global.
Badan PBB itu mengatakan negara-negara saat ini harus menghadapi virus tersebut selain penyakit-penyakit menular lainnya.
Pencabutan status darurat itu tidak berarti COVID akan hilang, tetapi dampak penyebarannya kini bisa efektif dikendalikan, kata Liang dalam wawancara bersama CCTV yang disiarkan Sabtu.
Liang menambahkan bahwa China akan terus memantau mutasi virus, memperkuat vaksinasi di antara kelompok-kelompok berisiko tinggi, dan berupaya meningkatkan kemampuan pengobatan COVID.
China sejak lama mempertahankan kebijakan nol COVID setelah sebagian besar negara di dunia mulai hidup berdampingan dengan virus tersebut. Negeri Tirai Bambu itu baru mulai meninggalkan kebijakan pembatasan COVID-19 pada akhir 2022.
Pada Februari, para pemimpin tinggi China mengumumkan "kemenangan mutlak" melawan COVID dan tingkat kematian terendah di dunia, meskipun para ahli mempertanyakan data Beijing tersebut.
Sumber: Reuters
Penerjemah: Shofi Ayudiana
Pewarta : -
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
DPRD minta Pemkot Palangka Raya antisipasi penyebaran varian Deltacron
28 March 2022 23:52 WIB, 2022
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Manfaat semangka dalam meningkatkan fungsi kardiovaskular dan kesehatan jantung
19 May 2026 21:50 WIB
Nanoskopi baru temukan jaringan komunikasi sel tersembunyi untuk deteksi penyakit
19 May 2026 21:46 WIB
Vitamin A pada ubi jalar lebih optimal diserap tubuh dengan metode kukus dan lemak sehat
19 May 2026 21:36 WIB