Sampit (ANTARA) - Menjadi Sekolah Penggerak bukan hanya domain sekolah di kota karena sekolah di pedalaman pun mampu, seperti yang dibuktikan SDN 1 Tumbang Tilap Kecamatan Bukit Santuai Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Tengah. 

"Kami ingin berubah menjadikan pendidikan di daerah kami bisa menjadi lebih baik, dalam pengertian pendidikan di sekolah kami itu kan daerah pedalaman dan banyak yang tertinggal. Nah dengan diadakannya program ini, kami merasa terbantu menjadikan sekolah kami dan peserta didik menjadi lebih," kata Kepala SDN 1 Tumbang Tilap, Fitriani di Sampit, Rabu. 

SDN 1 Tumbang Tilap terletak di Desa Tumbang Tilap Kecamatan Bukit Santuai. Desa ini berjarak sekitar 139 kilometer dari Sampit Ibu Kota Kabupaten Kotawaringin Timur. 

Meski terletak di pedalaman, kepala sekolah dan guru di SDN 1 Tumbang Tilap sangat bersemangat menjadikan sekolah mereka sebagai sekolah penggerak. Keterbatasan infrastruktur, jaringan internet dan lainnya menjadi tantangan yang harus mereka hadapi untuk menjalankan program sekolah penggerak. 

Program Sekolah Penggerak adalah upaya untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila.

Program Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi yakni iterasi dan numerasi serta karakter, diawali dengan sumber daya manusia yang unggul bagi kepala sekolah dan guru. 

Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. Program Sekolah Penggerak akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju. Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Program Sekolah Penggerak.

Fitriani mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam menjalankan program Sekolah Penggerak. Tenaga pendidik selalu bekerja sama melaksanakan program Merdeka Belajar. 

Menurutnya, tantangan yang dihadapi banyak sekali, terutama infrastruktur yang sangat ekstrem. Terkadang mereka harus menjalankan program di tengah suasana banjir sehingga mengharuskan guru dan peserta didik harus berjalan hingga dua kilometer di kawasan banjir agar bisa sampai ke sekolah. 

Berbagai kendala tidak menyurutkan pihak SDN 1 Tumbang Tilap untuk menjadi Sekolah Penggerak. Kini mereka mampu membuktikan menjadi salah satu dari dua sekolah yang menjadi Sekolah Penggerak di Kecamatan Bukit Santuai.  Kepala SDN 1 Tumbang Tilap, Fitriani. ANTARA/Norjani
Banyak hal positif setelah sekolah ini menyandang status Sekolah Penggerak. Tenaga pendidik bisa lebih kompetensi dan lebih meningkat terus. Imbasnya nilai peserta didik juga meningkat karena dibantu dengan kompetensi tenaga pendidik tersebut. 

Menurut Fitriani, sangat banyak perbedaan sistem dulu dengan sekarang. Sebelumnya pembelajarannya kurang komunikasi dengan tenaga pendidik dan solidaritasnya juga kurang dengan tenaga pendidik. 

Program Merdeka Mengajar sangat terbuka karena memang di situ keterbukaanlah yang utama. Hal inilah yang dijalankan SDN 1 Tumbang Tilap. 

"Harapannya supaya dengan dijadikan Sekolah Penggerak, sekolah kami ini bisa meningkatkan sarana dan prasarana sekolah kami dan kualitas tenaga pendidikan ke arah yang lebih baik lagi," demikian Fitriani. 

Sementara itu Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Muhammad Irfansyah menggambarkan sedikit tentang keberadaan Sekolah Penggerak di Kabupaten Kotawaringin Timur. 

Saat ini di Kotawaringin Timur ada 38 Sekolah Penggerak pada angkatan kedua dan enam Sekolah Penggerak angkatan ketiga. Angkatan dua sudah berjalan dua tahun sedangkan angkatan 3 baru mulai tahun ini. 

Berdasarkan perencanaan dari Kemendikbudristek bahwa pada tahun ke empat nanti Sekolah Penggerak ini akan diserahkan pengelolaannya secara penuh ke daerah masing masing. Tentu ini menjadi "pekerjaan rumah" dan tantangan bagi Dinas Pendidikan selaku leading sektornya dan juga pemerintah daerah Kabupaten Kotawaringin Timur secara umum. 

Selain sekolah penggerak di Kabupaten Kotawaringin Timur juga ada guru penggerak, di mana pada angkatan 4 berjumlah 28 orang Guru Penggerak. 

Mereka ini semua sudah lulus dan beberapa dari mereka sudah dipromosikan menjadi kepala sekolah berdasarkan regulasi Permendikbud Nomor 26 tahun 2022. Sedangkan angkatan 7 berjumlah 41 orang dan sampai saat ini masih berjalan lokakarya memasuki bulan ke 5.

"Keberadaan sekolah penggerak dan guru penggerak patut diapresiasi dan didukung secara penuh dalam rangka mengembangkan kompetensi kepala sekolah dan dewan guru dalam pengelolaan sekolah dan proses belajar mengajar di kelas," harap Irfansyah. 

Irfansyah menambahkan, ini semua tentu untuk kemajuan dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Kotawaringin Timur. 

Baca juga: Legislator Kotim tanggapi positif kepala desa ramaikan persaingan pemilu legislatif

Baca juga: Musda Muhammadiyah dan Aisyiyah Kotim dimeriahkan jalan sehat

Baca juga: BPMP Kalteng puji realisasi program Sekolah Penggerak di Kotim

Pewarta : Norjani
Uploader : Admin 3
Copyright © ANTARA 2024