Kuala Kapuas (ANTARA) - Berdasarkan hasil evaluasi Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, menunjukkan kenaikan angka stunting cukup signifikan, dari 16,2 persen di 2023 menjadi 22,5 persen pada 2024.
“Pentingnya sinergi lintas sektor dalam menekan angka stunting yang saat ini berada di posisi 22,5 persen,” kata Sekda Kapuas, Usis I Sangkai, di Kuala Kapuas, Rabu.
Hal itu disampaikannya saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025 di Aula Bapperida Jalan Tambun Bungai, Kuala Kapuas.
Upaya percepatan, lanjutnya, tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menjadi gerakan bersama hingga ke tingkat kecamatan dan desa.
“Penanganan stunting ini harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pencegahan pernikahan dini, perubahan perilaku hidup sehat, hingga mengatasi kebiasaan buang air sembarangan. Kita juga menggandeng Kementerian Agama untuk menyosialisasikan agar tidak ada lagi pernikahan di bawah 18 tahun,” ujarnya.
Baca juga: Sekda Kapuas minta OPD serius wujudkan pemerintahan bebas praktik korupsi
Usis menambahkan, pada 2025 ini fokus penanganan diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga.
Sementara itu, Kepala Bapperida Kapuas, Ahmad M. Saribi, memaparkan hasil evaluasi SSGI 2024 yang menunjukkan kenaikan angka stunting cukup signifikan, dari 16,2 persen di 2023 menjadi 22,5 persen pada 2024. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Dari hasil rapat, disepakati pilar penanganan stunting ditingkatkan dari lima menjadi enam pilar utama. Indikator kinerja yang semula berjumlah 64 juga dipadatkan menjadi 31 agar lebih fokus dan terukur. Salah satunya terkait cakupan imunisasi, yang saat ini sudah mencapai 80–90 persen di bawah koordinasi Dinas Kesehatan,” jelas Saribi.
Ditambahkan Kepala DP3AP2KB Kapuas, dr. Tri Setyautami, menekankan persoalan stunting bukan semata karena faktor ekonomi, tetapi juga pola pikir dan pola asuh keluarga.
Dengan komitmen bersama seluruh perangkat daerah, pemangku kepentingan dan masyarakat, Pemkab Kapuas menargetkan angka stunting dapat ditekan secara bertahap, sejalan dengan target nasional penurunan stunting tahun 2025.
“Banyak kasus terjadi bukan karena ketidakmampuan, melainkan pola pikir. Masih ada orang tua yang enggan membawa anaknya ke posyandu untuk penimbangan rutin, hingga penolakan imunisasi dengan berbagai alasan. Faktor-faktor inilah yang akan kita benahi bersama,” demikian Tri.
Baca juga: Bupati serahkan bantuan puluhan unit perahu mesin kepada KUB Kapuas Barat
Baca juga: DPRD Kapuas dukung penuh pembangunan infrastruktur olahraga
Baca juga: Enam klub sepak bola di Kalteng ikuti Piala Soeratin U-17 di Kapuas