Shijiazhuang (ANTARA) - Berdiri di depan layar ponsel pintar di sebuah studio di Provinsi Hebei, China utara, Pirisa Yangdiew, seorang mahasiswi asal Thailand, memperkenalkan produk-produk lokal kepada netizen dalam bahasa ibunya.

"Dahulu saya masih pemula di bidang e-commerce lintas perbatasan, tetapi sekarang saya bisa menangani siaran langsung daring sendiri," kata mahasiswi jurusan komputer dari sebuah institut teknik di Thailand itu. Saat ini, Yangdiew sedang menjalani program pertukaran pelajar internasional selama setahun di Hebei Software Institute.

 

Perjalanan Yangdiew merupakan bagian dari program bersama antara lembaga-lembaga China dan Thailand serta perusahaan-perusahaan China di Thailand. Berbeda dengan ruang kelas konvensional, program tersebut berfokus pada pengalaman praktis. Para peserta mengunjungi pabrik dan pusat digital untuk mempelajari berbagai keterampilan seperti penyuntingan video, desain gambar, dan pemasaran.

 

Pada 2025, program tersebut merekrut 20 peserta Thailand untuk studi jangka panjang. Sementara itu, 10 pengajar China melakukan perjalanan ke Thailand untuk memberikan pelatihan bahasa Mandarin dan keterampilan kejuruan kepada staf lokal.

 

Tujuannya sederhana, yakni untuk "mengajari orang cara menangkap ikan" (alih-alih memberinya ikan) dengan menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan di dunia nyata di berbagai industri, kata Wang Ziye, seorang pengajar dari departemen perdagangan internet di Hebei Software Institute.



"Para mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, mereka juga mendapatkan keunggulan kompetitif," imbuh Wang. "Dengan mempelajari budaya China dan keterampilan modern, mereka menjadi kandidat terbaik bagi perusahaan lokal maupun perusahaan China di Thailand.


Dalam beberapa tahun terakhir, China dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah memperdalam kerja sama mereka di bidang pendidikan kejuruan, yang merupakan fokus utama kerja sama regional.
 


Serangkaian program seperti program pendidikan yang menawarkan gelar akademik, pelatihan yang dibantu perusahaan, dan pertukaran jangka pendek telah membantu meningkatkan keterampilan pekerja untuk memenuhi kebutuhan industri di negara-negara ASEAN.

 

Di Indonesia, Universitas Politeknik Liuzhou dan raksasa manufaktur mesin LiuGong telah mendirikan institut keahlian modern di Jakarta. 

Banyak lulusan dari program tersebut kini bekerja di anak perusahaan LiuGong di negara-negara ASEAN, di mana mereka menyumbangkan keahlian mereka dan memperoleh pengalaman internasional.



Di Thailand, produsen mobil asal China, GAC Group, telah meluncurkan pusat pelatihan khusus untuk talenta di bidang kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV), yang bekerja sama dengan Tencent.



Ke depannya, Yangdiew berencana untuk membawa keahliannya kembali ke Thailand dan menjadi "jembatan digital". "Saya ingin membantu lebih banyak produk China yang berkualitas menjangkau Thailand sekaligus membawa barang-barang Thailand ke pasar China melalui e-commerce," tuturnya.


Pewarta : -
Editor : Admin Portal
Copyright © ANTARA 2026