Jakarta (ANTARA) - Membangun relasi emosional yang aman antara orang dewasa dan remaja menjadi kunci untuk menghadapi pengaruh tren dan popularitas.
Psikolog Shabrin Risti Aulia, M.Psi., dari Psikolog Klinis Dinamis Biro Psikologi, menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan aman antara orang dewasa seperti orang tua, pendamping, atau guru dengan remaja.
“Jika komunikasi terjalin dengan aman, akan lebih mudah mendiskusikan tren-tren yang berisiko,” ujar Shabrin kepada ANTARA, Kamis (29/1).
Langkah pertama adalah melakukan validasi terhadap kebutuhan remaja, misalnya keinginan mereka untuk sama seperti teman sebaya atau rasa penasaran mencoba hal baru. Setelah itu, orang dewasa dapat mengajak remaja berdiskusi tentang tren tersebut, termasuk kemungkinan dampak jangka pendek dan jangka panjang jika diikuti.
Selaras dengan hal itu, Psikolog dari Cakra Medika Ayu S.Sadewo, S. Psi. menambahkan, penting untuk tidak langsung melarang ketika berkomunikasi dengan remaja.
“Jangan langsung pake larangan, karena itu justru membuat mereka jadi tidak terbuka dan defensif. Mulailah tanpa judgement. Penasaran dan diskusi saja: ‘Iya ya, itu lagi happening banget. Itu apa sih? Apa bagusnya? Risikonya apa? Dampaknya apa buat kesehatan, relasi, sekolah?’” ujarnya kepada ANTARA, Rabu (27/1).
Ia menekankan bahwa setiap anak bisa berbeda cara menanggapinya, tetapi inti pendekatannya adalah membuka ruang diskusi, bukan memberi penghakiman.
Selain itu, Shabrin juga menyampaikan strategi menghadapi tekanan teman sebaya. Misalnya, mengajarkan remaja cara menolak tren tertentu tanpa merusak relasi dengan teman. Pendekatan ini membantu remaja mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menilai risiko, dan mengelola emosi, sehingga tren dan popularitas tidak menjadi faktor negatif dalam perkembangan psikologis mereka.
Dengan komunikasi yang aman dan diskusi terbuka, remaja tetap bisa mengeksplorasi tren dan pengalaman baru sambil belajar membuat keputusan bijak, tanpa kehilangan rasa diterima dalam lingkungannya.