Logo Header Antaranews Kalteng

Penyebab remaja gemar mengikuti tren

Jumat, 30 Januari 2026 13:41 WIB
Image Print
Ilustrasi tren foto viral main PlayStation (PS) bareng artis memakai ChatGPT. ANTARA/M.Hilal Eka Saputra Harahap (ChatGPT)

Jakarta (ANTARA) - Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menjelaskan faktor psikologis yang membuat remaja cenderung mengikuti tren dan norma sosial di lingkungannya.

“Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan,” kata Shabrin kepada ANTARA, Kamis (29/1).

Sistem limbik adalah bagian otak yang mengatur reward system atau sistem penghargaan, sementara prefrontal cortex adalah bagian otak yang berfungsi menganalisis risiko dan mengambil keputusan. Pada remaja, sistem limbik berkembang lebih cepat dibanding prefrontal cortex, sehingga mereka lebih cenderung memilih perilaku yang memberi kesenangan, memicu adrenalin, atau rasa puas, meski risikonya belum dipikirkan matang.

Selain faktor neurologis, proses pencarian identitas juga memengaruhi perilaku remaja. Pada masa ini, kebutuhan akan penerimaan sosial meningkat. Lingkungan dengan norma tertentu mendorong remaja menyesuaikan diri agar diterima. Kesadaran diri yang tinggi membuat mereka yakin orang lain memperhatikan penampilan, kesalahan, atau perilaku mereka. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan remaja mengikuti tren agar merasa setara dengan teman-temannya.

Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada itu menambahkan, remaja biasanya mencari penerimaan dan pengakuan dari lingkungan sekitarnya, sekaligus kesempatan mencoba hal baru yang memicu adrenalin.

“Saat remaja ada dalam lingkungan dengan norma tertentu, besar kemungkinan ia akan mencoba fit in dengan lingkungan tersebut,” ujar Shabrin.

Kemampuan coping emosional atau kemampuan mengelola stres dan emosi yang belum matang membuat sebagian remaja tertarik pada hal-hal yang dianggap dapat mengalihkan tekanan. Dalam kondisi ini, risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama.Bagi Shabrin, tren dan popularitas juga menjadi cara remaja menegaskan identitas diri. Dengan menyesuaikan diri dengan kelompok sosial tertentu, mereka merasa cocok dan diakui dalam lingkungannya.



Pewarta :
Editor: Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026