Jakarta (ANTARA) - Anggapan bahwa diet tinggi protein dapat merusak ginjal telah lama menjadi perdebatan, terutama di kalangan pelaku kebugaran, namun, bukti ilmiah menunjukkan risiko tersebut tidak otomatis berlaku bagi orang dengan fungsi ginjal normal.

Melansir laman Medical Daily, Sabtu (28/2) waktu setempat, diet tinggi protein umumnya didefinisikan sebagai konsumsi di atas 1,0–1,2 gram per kilogram berat badan per hari.

Asupan di atas 1,6–2,0 gram per kilogram per hari dalam jangka panjang tergolong sangat tinggi. Pada orang dengan berat 70 kilogram, angka itu setara dengan lebih dari 110–140 gram protein setiap hari.

Menurut National Kidney Foundation, ginjal sehat dirancang untuk menyaring limbah hasil metabolisme protein, seperti urea. Ketika asupan protein meningkat, ginjal memang bekerja lebih aktif dan laju penyaringan darah atau glomerular filtration rate (GFR) bisa naik.

Kondisi ini dikenal sebagai adaptif hyperfiltration. Pada orang sehat, peningkatan tersebut dinilai sebagai respons alami tubuh, bukan tanda kerusakan ginjal.

Tinjauan penelitian yang tersedia melalui National Institutes of Health menunjukkan bahwa asupan protein lebih tinggi memang meningkatkan GFR, tetapi tidak ditemukan bukti kerusakan ginjal progresif pada orang dengan fungsi ginjal normal.

Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa faktor lain seperti hipertensi yang tidak terkontrol, obesitas, dan diabetes tipe 2 tetap menjadi penyebab utama gangguan ginjal. Dalam kondisi tersebut, beban tambahan pada ginjal bisa menjadi masalah.

Konsumsi protein dalam jumlah sangat tinggi tanpa pengawasan medis juga dinilai tidak memberikan manfaat tambahan yang jelas.

Secara umum, bukti saat ini menunjukkan asupan protein dalam kisaran sedang hingga cukup tinggi tidak terbukti menyebabkan penyakit ginjal kronis pada orang dengan ginjal sehat.Kualitas pola makan secara keseluruhan serta pengendalian tekanan darah dan gula darah tetap menjadi faktor yang lebih menentukan bagi kesehatan ginjal.