
Penanganan kanker di Indonesia diperkuat melalui pendekatan multidisiplin

Jakarta (ANTARA) - Pendekatan tim medis multidisiplin atau Multidisciplinary Team (MDT) dinilai krusial untuk memperkuat akurasi penanganan kanker guna menentukan terapi yang tepat dan aman bagi pasien.
Pakar onkologi dari The University of Texas MD Anderson Cancer Center Prof. Banu Arun dalam forum ilmiah “The 6th Siloam Oncology Summit 2026” di Jakarta, Sabtu, mengatakan penanganan kanker tidak dapat diputuskan hanya oleh satu spesialisasi medis.
“Manajemen kanker menjadi sangat rumit berdasarkan karakteristik mutasi dan banyaknya ketersediaan obat baru. Proses multidisiplin menjadi sangat penting karena pasien berada di tengah, dan kita semua bekerja bersama sebagai tim untuk meningkatkan hasil pengobatan terbaik yang terpersonalisasi,” ujar Banu.
Ia menjelaskan, melalui panel MDT, para ahli yang terdiri atas dokter onkologi medis, bedah, onkologi radiasi, serta disiplin pendukung seperti patologi molekuler, farmasi, genetika, dan pencitraan medis dapat berdiskusi menentukan urutan terapi yang paling sesuai bagi pasien.
Tim tersebut, kata dia, akan mengkaji secara komprehensif apakah pasien perlu menjalani operasi, kemoterapi, atau terapi target terlebih dahulu.
Menurut Banu, sistem perawatan terpadu itu telah diterapkan oleh MD Anderson Cancer Center selama sekitar 30 tahun dan dinilai efektif meningkatkan hasil klinis sekaligus keselamatan pasien.
Ia juga menyarankan negara berkembang seperti Indonesia memanfaatkan teknologi untuk menerapkan konsep MDT di tengah tantangan ketimpangan fasilitas kesehatan.
“Jika di suatu institusi kekurangan dokter spesialis tertentu, mereka bisa bermitra dengan rumah sakit lain yang memiliki teknologi dan dokter ahli untuk melakukan konferensi klinis bersama,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur RS MRCCC Siloam Semanggi dr. Adityawati Ganggaiswari mengatakan kolaborasi lintas profesi menjadi kunci pemerataan pengetahuan klinis hingga ke daerah.
Menurut dia, konsep multidisiplin tidak hanya melibatkan dokter spesialis, tetapi juga perawat onkologi, fisikawan medis, hingga radiografer yang mengoperasikan alat diagnostik dan terapi.
“Penanganan kanker tidak bisa hanya dilakukan oleh satu atau dua rumah sakit saja, terutama jika kita bicara tentang pasien dari daerah lain yang aksesnya tidak mudah. Melalui forum ini, kami mendistribusikan keahlian dan teknik pengobatan agar pelayanan onkologi berstandar global dapat diakses merata di seluruh Indonesia,” ujar Adityawati.
Pewarta : Ida Nurcahyani/Vina Ashari
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
