Logo Header Antaranews Kalteng

BPBD Kotawaringin Timur Data Korban Kebakaran

Senin, 21 April 2014 14:49 WIB
Image Print
Ilustrasi, Kebakaran. (FOTO ANTARA Kalteng/Ronny NT)
Korban kebakaran yang menghanguskan 11 bangunan dan tiga orang meninggal dunia.

Sampit (Antara Kalteng)- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mendata korban kebakaran yang menghanguskan 11 bangunan dan tiga orang meninggal dunia.

"Laporan yang kami terima, kebakaran yang terjadi di Pasar Sejumput Jalan DI Pandjaitan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit Kabupaten Kotim pada Senin (21/4), pukul 01.30 WIB dini hari tersebut menghanguskan sebelas bangunan yang terdiri dari sembilan rumah toko (Ruko), dua rumah dan lima orang meninggal dunia," kata Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Kotim, sanggol Lumban Gaol kepada wartawan di Sampit, Senin.

Dari lima orang yang dilaporkan meninggal dunia tersebut, tiga korban telah ditemukan dan dua diantaranya masih dalam pencarian.

Tiga korban meninggal dunia yang telah ditemukan adalah Ardani dan Naila ditemukan meninggal di kamar mandi, sedangkan Aisyah di ruang tengah.

Sedangkan dua orang lainnya, yakni Kursana dan Widya, yang dilaporkan turut terbakar sampai saat ini masih belum ditemukan.

Korban yang yang belum ditemukan tersebut diduga turut terbakar bersama barang-barang dagangan yang ada di Ruko itu.

Pihak BPBD sampai saat ini masih belum dapat memastikan dalam bentuak apa nantinya bantuan tersebut akan diberikan, sebab tim dari BPBD masih melakukan pendataan di lapangan.

"Kebakaran yang terjadi pada Senin dinihari tersebut sebetulnya skalanya kecil dan belum bisa dikategorikan sebagai bencana, tetapi kita tetap memberikan santunana kepada mereka sebagai wujud perhatian pemerintah daerah kepada korban," katanya.

Sementara Kapolres Kabupaten Kotim, AKBP Himawan Bayu Aji bersama Kabag Ops Kompol Sukamat dan Kasat Reskrim AKP Win Widiyanto terlihat datang ke lokasi dan menemui keluarga korban saat di kamar jenazah.

Kepolisian belum memastikan apakah dua korban atas Kursani dan Widya turut menjadi korban dalam musibah itu karena masih menunggu kedatangan tim forensic dari Polda kalteng.

"Dalam kejadian itu penyidik telah meminta keterangan sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti di lokasi kejadian," ungkapnya.

Sementara Noor keluarga korban meninggal dunia mengatakan, saat kejadian, ada sekitar sebelas orang dalam rumah berlantai dua tersebut. Enam orang yang tidur di lantai atas sempat menyelematkan diri dengan cara menjebol bagian belakang rumah dan melompat ke rumah tetangga di bagian belakang.

Nahas dialami para korban yang saat itu tidur di lantai bawah. Mereka adalah H Ardani (60), suami istri Kursani (35) dan Aisyah (30) serta dua anak mereka yakni Widya (9) dan Naila Mega (6). Mereka diduga kesulitan keluar rumah karena ruangan di lantai tersebut penuh barang dagangan, sementara api berasal dari bagian depan.

"Ayah (Ardani) itu sebenarnya tinggal di Tamban (Kabupaten Kapuas) dan kebetulan datang berkunjung ke sini, ternyata kejadian ini menimpa. Naila itu baru saja merayakan ulang tahun, makanya kami sangat sedih," kata Noor yang merupakan menantu Ardani.

Ketua RT 28, Gafar menyebutkan, api awalnya terlihat di rumah Kursani, kemudian merembet ke bangunan lainnya. Hasil pendataan, bangunan yang terbakar berupa dua rumah dan sembilan toko.

"Kursani dan anaknya Widya belum diketahui nasibnya. Banyak yang menduga mereka ikut jadi korban, tapi kami juga masih menunggu hasil pemeriksaan kepolisian. Makanya ini lokasi tidak boleh dimasuki dulu karena polisi mau mendatangkan tim forensik dari Palangka Raya," kata Gafar.

(T.KR-UTG/B/Y006/Y006)



Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026