Makan donat bisa bikin depresi?

id Donat,makan donat,bikin depresi,Donat kentang

Makan donat bisa bikin depresi?

Ilustrasi makan donat (pixabay.com)

Palangka Raya (Antaranews Kalteng) - Pada dasarnya donat merupakan makanan yang kaya gula dan lemak. Tentu itu efeknya tidak sehat bagi tubuh jika sering dikonsumsi. Dalam jangka panjang, seseorang yang kecanduan makanan manis mudah mengalami beberapa gangguan kesehatan, seperti obesitas, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan banyak lagi.

Namun, Anda juga tidak menyadari bahwa keseringan konsumsi makanan manis dapat memicu depresi. Seperti yang sudah kita ketahui, gangguan mental tersebut jumlah penderitanya meningkat belakangan ini.

Selain karena aktivitas dan pekerjaan yang padat, makanan juga dapat memicu depresi. Baru-baru ini, penelitian menyebutkan bahwa orang yang doyan makan donat mudah mengalami depresi.

Dilansir Boldsky, Kamis (12/7/2018), sekelompok peneliti di Universitas Las Palmas de Gran Canaria, di Las Palmas, Spanyol melakukan penelitian untuk menemukan hubungan antara donat dan depresi. Hasilnya ditemukan bahwa orang yang mengonsumsi donat lebih dari 2-3 kali dalam sebulan, sekira 48% mengalami depresi, dibandingkan dengan orang yang tidak pernah mengonsumsi donat.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa pada orang yang sudah mengalami depresi, kemudian makan donat, bisa memperburuk kondisi kesehatan mentalnya.

Studi lebih lanjut menyatakan bahwa lemak trans, gula tidak sehat dan margarin yang ditemukan dalam donat dapat menyebabkan peradangan di otak. Akibatnya menghambat produksi dopamin dan serotonin, sehingga memicu depresi.

Seperti diketahui, depresi adalah penyakit mental serius, yang ditandai dengan gejala yang membuat seseorang merasa sedih, putus asa, dan lemah mental terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Depresi biasanya dipicu karena perubahan hormon, seperti dopamin dan serotonin.

Dalam beberapa kasus, depresi juga dapat disebabkan karena kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat. Seperti pola makan yang buruk, kurang olahraga, serta faktor keturunan. Anda harus mewaspadai risiko gangguan mental ini yang buruk sekali dampaknya.