Pulang Pisau (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah dr Pande Putu Gina mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue (DBD) seiring tingginya curah hujan saat ini yang rawan memicu meningkatnya nyamuk aedes aegypti.
“DBD ini memiliki ciri khas demam tinggi dari hari pertama hingga ketiga yang bisa mencapai 39-40 derajat,” kata Pande Putu Gina di Pulang Pisau, Rabu.
Dia mengungkapkan, kondisi penderita demam berdarah di hari keempat justru menunjukkan gejala demam menurun. Fase ini sebenarnya sangat berbahaya dan perlu kewaspadaan ekstra.
Ia menjelaskan fase kritis terjadi pada hari keempat hingga keenam, banyak orang keliru mengira anaknya sudah sembuh karena suhu tubuh menurun. Padahal, paparnya, jika anak terlihat lemas, cerewet, atau kesadarannya berkurang, maka harus segera diperiksa ke petugas kesehatan.
“Orang tua harus segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila kondisi terlihat melemah, jangan menunggu lama, karena fase kritis ini sering menimbulkan kejadian fatal,” jelas Pande.
Dikatakannya masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan fogging untuk pencegahan DBD. Dia menjelaskan, fogging tidak efektif jika jentik nyamuk masih berkembang biak. Pemberantasan sarang nyamuk menjadi langkah yang paling penting dilakukan setiap rumah tangga.
“Nyamuk penyebab DBD berbeda dengan nyamuk lainnya, ia tidak berkembang biak di tanah meski tergenang, melainkan di air bersih yang tertampung dalam wadah seperti bak mandi, ember, atau tempat penampungan air lainnya,” tambahnya.
Baca juga: Arah pembangunan Pulang Pisau disesuaikan pengembangan potensi daerah
Pande menyebutkan ada tiga langkah utama mencegah DBD di musim hujan. Pertama, menutup tempat penampungan air hujan agar nyamuk tidak bertelur. Kedua, membersihkan bak mandi seminggu sekali dan menyikat dindingnya.
“Biasanya telur nyamuk menempel di dinding wadah, jika tidak disikat, telur tetap menetas meski air diganti, sehingga kebersihan wadah air menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan masyarakat,” tegasnya.
Ketiga, barang-barang bekas maupun tumpukan daun yang bisa menampung air harus dibersihkan. Tempat-tempat kecil, kata dia, seperti kaleng bekas, botol plastik, hingga lipatan daun sering luput dari perhatian, padahal sangat berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Musim hujan membuat banyak genangan air yang tidak disadari masyarakat," tambahnya.
Dia menjelaskan dengan membersihkan barang bekas, mengubur sampah-sampah plastik, serta menjaga kebersihan lingkungan, maka rantai perkembangbiakan nyamuk bisa diputus dengan cara sederhana.
Baca juga: SPPG Dapur Bereng pastikan distribusi MBG sesuai prosedur
Baca juga: Pemkab Pulang Pisau fokuskan pemberian makan anak terdampak stunting
Baca juga: Polres Pulang Pisau waspadai peredaran narkoba berbentuk rokok elektrik
