Logo Header Antaranews Kalteng

Hipnoterapi: Solusi efektif untuk trauma anak korban bencana

Jumat, 2 Januari 2026 14:02 WIB
Image Print
Relawan Indonesian Hypnosis Centre memberikan Hipnoterapi, kepada anak korban bencana di Aceh untuk menghilangkan rasa trauma mereka (ANTARA/HO- Indonesian Hypnosis Centre)

Palangka Raya (ANTARA) - Di sebuah tenda pengungsian Aceh, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun duduk berhadapan dengan relawan Indonesian Hypnosis Centre. Tanpa obat atau peralatan medis, hanya suara lembut hipnoterapis membimbing anak itu menutup mata dan mengatur napas. Tiga puluh menit kemudian, untuk pertama kalinya sejak banjir merenggut rumahnya sebulan lalu, anak itu tersenyum. Ibunya yang duduk di sudut tenda menangis, bukan karena sedih, tetapi lega melihat anaknya kembali ceria.

Pemandangan tersebut mungkin asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ketika bencana banjir melanda Aceh dan Sumatra, perhatian publik tercurah pada kebutuhan fisik yang kasat mata seperti makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Media massa menayangkan truk bantuan, dapur umum, dan tenda pengungsian. Namun ada satu kebutuhan mendesak yang nyaris tak tersentuh, yakni kesehatan mental anak-anak korban bencana yang sebenarnya sama pentingnya.

Fakta ini diperkuat rilis resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per 30 Desember 2025. Bantuan pendidikan berupa dukungan psikososial di provinsi terdampak bencana nominalnya kurang dari setengah miliar rupiah. Angka itu terkecil dibandingkan pos bantuan lainnya, menunjukkan kesehatan mental anak belum menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana di Indonesia.

Trauma tersembunyi di balik senyuman anak

Ketika kamera televisi menyorot pengungsian banjir, kita melihat anak-anak yang diam, lesu, atau kadang tertawa bermain. Kita berpikir syukurlah anak-anak sudah mulai ceria. Namun tahukah kita apa yang terjadi ketika kamera pergi dan malam tiba di tenda-tenda pengungsian itu?

Seorang relawan bercerita ada anak yang setiap malam terbangun menjerit ketakutan. Ada yang tidak mau makan karena takut minum air jernih, ia trauma dengan air banjir. Ada pula yang tiba-tiba memukul teman tanpa sebab jelas. Ini bukan sekadar fase sedih yang akan hilang sendiri, melainkan tanda Post-Traumatic Stress Disorder pada anak yang memerlukan penanganan serius.

Data penelitian menunjukkan 30-90 persen anak menunjukkan reaksi stres pascatrauma parah setelah terpapar bencana alam. Kondisi ini dapat berkembang menjadi PTSD jika tidak mendapat dukungan psikologis tepat waktu. Penelitian longitudinal Kaiser Permanente dan CDC dalam studi Adverse Childhood Experiences melibatkan lebih dari 17.000 partisipan mengungkapkan fakta mengkhawatirkan tentang trauma masa kecil.

Trauma masa kecil yang tidak tertangani berdampak hingga dewasa. Orang yang mengalami empat atau lebih kategori trauma masa kecil memiliki risiko 4-12 kali lipat lebih tinggi mengalami alkoholisme, penyalahgunaan narkoba, depresi, dan percobaan bunuh diri. Risiko penyakit jantung iskemik, kanker, penyakit paru kronis, dan penyakit hati juga meningkat signifikan pada mereka yang pernah mengalami trauma masa kecil tidak tertangani.

Dengan ribuan anak terdampak bencana di Aceh dan Sumatra, kita sedang menghadapi potensi krisis kesehatan mental generasional jika tidak ditangani segera. Namun kesenjangan layanan kesehatan mental di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Indonesia hanya memiliki sekitar 0,3-0,4 psikiater dan 1,06 psikolog klinis per 100.000 penduduk, jauh di bawah median negara berpenghasilan tinggi yang memiliki 11 psikolog per 100.000 penduduk.

Inisiatif Indonesian Hypnosis Centre

Di sinilah inisiatif Indonesian Hypnosis Centre, lembaga pelatihan hipnoterapi resmi dan terakreditasi pemerintah dengan lebih dari 15.000 alumni, perlu mendapat apresiasi. Mereka mengajak ikatan alumni KITA IHC terjun ke lokasi bencana, mengirimkan tim relawan ke titik pengungsian di Aceh. Pendekatan yang dibawa mungkin tidak lazim namun terbukti efektif, yakni hipnoterapi untuk penyembuhan trauma anak korban bencana.

Berbeda dengan terapi konvensional yang mengandalkan komunikasi verbal, hipnoterapi bekerja langsung pada alam bawah sadar tempat trauma bersarang. Ketika anak mengalami peristiwa traumatis, otak merekamnya sebagai ancaman survival yang tersimpan di sistem limbik. Hipnoterapi mengakses sistem ini dan membantu menulis ulang respons terhadap memori traumatis secara lebih positif dan konstruktif bagi perkembangan anak.

Dalam kondisi rileks yang dibimbing hipnoterapis klinis bersertifikasi BNSP, pikiran anak menjadi lebih reseptif untuk perubahan. Terapis membantu anak mengubah narasi dari "aku tidak berdaya, aku hampir mati" menjadi "aku selamat, aku kuat, aku dilindungi keluarga". Perubahan narasi internal ini sangat penting untuk pemulihan psikologis anak korban bencana dalam jangka panjang.

Meta-analisis yang dipublikasikan Journal of Traumatic Stress menunjukkan hipnoterapi memiliki efek besar dan signifikan dalam mengurangi gejala PTSD. Berbagai studi menunjukkan hipnoterapi dapat efektif dengan jumlah sesi relatif sedikit, dibandingkan terapi kognitif perilaku konvensional yang umumnya membutuhkan 8-20 sesi. Anak-anak juga merespons hipnoterapi lebih baik daripada dewasa karena kemampuan imajinasi tinggi dan plastisitas otak lebih besar.

Tantangan di lapangan

Namun tantangan di lapangan sangat besar. Sesi terapi dilakukan di tenda bising tanpa privasi memadai, padahal hipnoterapi membutuhkan suasana tenang untuk hasil optimal. Stigma masih mengakar kuat, banyak orang tua menolak dengan mengatakan "anak saya tidak gila" karena kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental. Edukasi tentang kesehatan mental masih sangat dibutuhkan di kalangan masyarakat Indonesia.

Yang lebih krusial, trauma tidak sembuh dalam seminggu. Anak-anak membutuhkan sesi berulang, bahkan setelah pengungsian ditutup dan mereka kembali ke lingkungan semula. Dengan ribuan anak yang membutuhkan namun jumlah relawan hipnoterapis sangat terbatas, kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan layanan sangat lebar dan mengkhawatirkan.

Penelitian neurosains menunjukkan intervensi paling dini dalam jam hingga hari pertama memberikan kesempatan terbaik mencegah konsolidasi memori traumatis. Namun penanganan yang dimulai dalam 1-3 bulan pertama pascatrauma tetap sangat efektif karena PTSD belum mengkristal menjadi kronik. Hipnoterapi dapat memanfaatkan mekanisme reconsolidation memori untuk memproses ulang trauma, bahkan setelah memori terkonsolidasi awal terbentuk dalam pikiran anak.

Yang penting adalah tidak menunda terlalu lama karena setelah 3-6 bulan PTSD dapat menjadi kronik dan penanganannya membutuhkan waktu lebih lama. Artinya kita hanya punya jendela waktu sempit untuk bertindak menyelamatkan kesehatan mental anak-anak korban bencana. Setiap hari yang terbuang tanpa intervensi adalah kesempatan pemulihan yang hilang dan potensi trauma berkepanjangan.

Investasi pada kesehatan mental anak

Dari perspektif ekonomi, investasi pada kesehatan mental anak adalah keputusan rasional. Analisis ekonomi kesehatan, termasuk penelitian dari London School of Economics, menunjukkan intervensi kesehatan mental anak memberikan return on investment kuat. Studi global menunjukkan setiap satu dolar yang diinvestasikan dapat menghasilkan return 2-10 dolar dalam jangka menengah, dan hingga 24 dolar dalam periode 80 tahun ke depan.

Intervensi dini terbukti jauh lebih cost-effective dibandingkan merawat gangguan mental kronis yang sudah berkembang. Ini bukan hanya soal kemanusiaan, tetapi juga soal investasi bangsa dalam sumber daya manusia masa depan. Setiap anak yang sembuh dari trauma adalah potensi dokter, insinyur, guru, atau pemimpin masa depan Indonesia. Setiap anak yang terabaikan traumanya adalah potensi beban sistem kesehatan dan sosial di masa mendatang.

Air banjir di Aceh dan Sumatra akan surut. Rumah akan dibangun kembali oleh masyarakat dengan bantuan pemerintah dan donatur. Namun luka di hati ribuan anak tidak akan sembuh sendiri seiring waktu tanpa intervensi psikologis yang tepat. Relawan IHC telah mengambil langkah berani dengan turun ke lapangan membawa hipnoterapi. Mereka telah membuktikan bahwa hipnoterapi bekerja efektif untuk anak korban bencana.

Akan tetapi masih ada ribuan anak lain yang menunggu bantuan. Ribuan trauma yang belum tersentuh oleh tangan terapis profesional. Ribuan masa depan yang bergantung pada dukungan kita semua sebagai bangsa yang peduli generasi penerus. Saatnya kita semua mendukung upaya pemulihan kesehatan mental anak korban bencana. Masa depan bangsa bergantung pada anak-anak yang sehat, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental.


*) Pemerhati Kesehatan Mental Anak-Remaja, Asesor Kompetensi Hipnoterapi BNSP RI, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026