Logo Header Antaranews Kalteng

Wabup sebut banjir di sejumlah wilayah di Bartim perlu solusi jangka panjang

Senin, 19 Januari 2026 15:05 WIB
Image Print
Wakil Bupati Barito Timur Adi Mula Nakalelu saat menyalurkan bantuan secara simbolis kepada warga terdampak banjir di Kecamatan Patangkep Tutui, Kamis (15/1/2026). ANTARA/HO-MMC Bartim.

Tamiang Layang (ANTARA) - Wakil Bupati Barito Timur, Kalimantan Tengah Adi Mula Nakalelu menilai banjir yang melanda sejumlah wilayah di kabupaten tersebut, memerlukan solusi jangka panjang, agar tidak terulang kembali di masa mendatang.

Penilaian itu disampaikan dirinya usai melakukan kunjungan langsung sekaligus memberikan bantuan bahan pangan kepada para korban banjir di sejumlah desa di Kecamatan Dusun Tengah, Awang, Paku dan Patangkep Tutui.

"Kita tidak ingin setiap kejadian banjir hanya datang membawa bantuan. Terpenting itu bagaimana mencari solusi agar wilayah rawan banjir ini bisa diminimalkan ke depannya," kata Adi di Tamiang Layang, kemarin.

Menurut dirinya, bantuan bahan pangan yang disalurkan Pemkab Bartim sekalipun sangat dibutuhkan untuk meringankan beban warga terdampak banjir, namun tidak akan menyelesaikan akar persoalan.

"Bantuan yang kita salurkan tentunya hanya bertahan beberapa hari. Yang kita pikirkan bersama sekarang ini bagaimana mencegah banjir, agar tidak terus berulang dan berdampak lebih parah," tandas Adi.

Sebelumnya, Camat Patangkep Tutui, Simon Stevins Oktavianus mengatakan banjir di wilayahnya berdampak pada 268 keluarga yang tersebar di Desa Bentot, Pulau Padang, Ramania, dan Desa Mawani. Dari jumlah tersebut, tiga desa yang paling terdampak adalah Bentot, Ramania, dan Pulau Padang.

"Penyaluran bantuan dari pemerintah daerah dilakukan secara simbolis di Desa Bentot, selanjutnya akan diambil dan didistribusikan oleh masing-masing desa terdampak," jelas Simon.

Baca juga: Ganggu aktivitas warga, perbaikan Jembatan Ambles di Bentot mendesak diperbaiki

Ia menambahkan, karakteristik banjir di Patangkep Tutui umumnya berlangsung selama dua hingga tiga hari, dengan aliran air yang bergerak dari desa di dataran lebih tinggi menuju wilayah yang lebih rendah.

"Banjir biasanya dimulai dari Desa Mawani, lalu mengalir ke Bentot, Ramania, dan terakhir Pulau Padang. Pola alirannya sebenarnya sudah terbaca," beber dia.

Menurut dirinya, salah satu penyebab utama banjir yang semakin parah adalah pendangkalan sungai yang mengurangi daya tampung aliran air saat debit meningkat. Untuk itu, pemerintah daerah diharapkan dapat memperjuangkan langkah konkret seperti normalisasi sungai.

"Dengan begitu persoalan banjir dapat ditangani secara berkelanjutan," demikian Simon.

Baca juga: Cegah korban, Wabup Barito Timur tinjau jalan ambles di Ampah Kota

Baca juga: Tinjau dampak banjir, Wabup Barito Timur serahkan bantuan ke warga Dusun Tengah

Baca juga: Pemkab Bartim dan BPJS Kesehatan sinkronkan data peserta PBPU dan BP



Pewarta :
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026