Logo Header Antaranews Kalteng

Tata kelola kunci pertumbuhan pariwisata

Selasa, 3 Februari 2026 21:49 WIB
Image Print
Ilustrasi - Petugas polisi pariwisata memandu wisatawan asing yang sedang melintas di kawasan wisata ITDC the Nusa Dua di Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (17/1/2026) (ANTARA/HO-ITDC Nusa Sua)

Jakarta (ANTARA) - Founder dan CEO Mora Group, perusahaan manajemen hospitality, Andhy Irawan menilai pertumbuhan pariwisata nasional perlu terus diperkuat melalui tata kelola ekosistem yang lebih terintegrasi agar dampaknya semakin dirasakan pelaku industri perhotelan.

Hal itu disampaikan Andhy dalam diskusi Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bertajuk “Di Balik Klaim Pertumbuhan Pariwisata: Perspektif Bisnis Hotel” di Press Room Kementerian Pariwisata, Selasa.

“Kalau dibilang pertumbuhan pariwisata, kacamata saya adalah bagaimana ekosistem pariwisata itu bergerak baik semuanya. Karena enggak bisa dilihat dari satu sisi bahwa pertumbuhan ini baik,” kata Andhy.

Menurut dia, pertumbuhan pariwisata pada praktiknya menunjukkan dinamika yang beragam di lapangan. Ia menyebut ada hotel yang mencatatkan pertumbuhan, namun ada pula yang belum tumbuh optimal.

“Di satu sisi ada yang tumbuh, tapi di sisi yang lain ada yang tidak tumbuh. Dan ini kan harus equal sebenarnya,” ujarnya.

Andhy menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pariwisata nasional. Ia menilai pariwisata tidak dapat berjalan hanya oleh satu pihak.

“Bukan tugas industri saja, bukan tugas pemerintah saja. Tapi saat ini perlu kolaborasi bersama,” katanya.

Ia menjelaskan ekosistem pariwisata mencakup berbagai unsur yang saling terkait, mulai dari hotel, agen perjalanan, hingga asosiasi dan pemerintah. Perbedaan cara pandang antar unsur tersebut, menurut dia, perlu disatukan agar tujuan pertumbuhan pariwisata dapat tercapai.

“Kalau cara pandang ekosistem berbeda-beda, pasti output-nya juga agak tidak seperti yang diharapkan. Karena tidak mudah memang dan itu harus duduk bareng,” ujarnya.

Terkait promosi pariwisata, Andhy menilai pemerintah memiliki peran penting sebagai pengatur dan pengarah. Ia menegaskan negara tidak berada pada posisi menjual langsung, melainkan mengoordinasikan seluruh ekosistem.

“Bahasa saya adalah kayak orkestra. Orkestranya itu negara, sedangkan ekosistem yang dibentuk itu alat-alat musiknya. Jadi negara itu tidak menjual, tapi mengatur,” kata Andhy.

Ia menilai partisipasi Indonesia dalam berbagai pameran pariwisata internasional merupakan langkah positif. Namun, menurut dia, upaya tersebut perlu diperkuat dengan target dan ukuran kinerja yang lebih spesifik.

“Kita setiap tahun ikut, tapi boleh dilihat hasilnya. Ada, tapi targetnya enggak detail. KPI-nya enggak detail,” ujarnya.

Andhy juga menanggapi capaian target kunjungan wisatawan yang dinilai berhasil secara angka. Namun, ia mendorong agar capaian tersebut terus dievaluasi dari sisi dampaknya terhadap industri.



Pewarta :
Editor: Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026