Bolivia Sampaikan Keberatan Kepada PBB
Kamis, 4 Juli 2013 10:54 WIB
Presiden Bolivia Evo Morales.(FOTO ANTARA/REUTERS/David Mercado/ox/11), Istimewa
La Paz (ANTARA
News) - Bolivia pada Rabu secara resmi menyampaikan keberatan kepada
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan akan melakukan langkah serupa
kepada Komisi Hak-hak Asasi Manusia PBB tentang perlakuan sejumlah
negara Eropa yang menutup wilayah udaranya bagi pesawat yang sedang
membawa Presiden Bolivia Evo Morales.
"Sebagai sebuah pemerintahan, kami menyampaikan keberatan ke seluruh dunia," kata Wakil Presiden dan kepala negara sementara Bolivia, Alvaro Garcia.
"Kami sudah menyatakan keberatan ini kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dalam beberapa jam mendatang, kami juga menyampaikan keberatan serupa kepada Komisioner Tinggi untuk Hak Asasi Manusia PBB," kata Garcia, tentang apa yang disebutnya sebagai pelanggaran hak-hak internasional yang membahayakan nyawa presidennya.
Bolivia mengatakan Morales saat itu sedang terbang dalam perjalanan kembali dari Moskow menuju Bolivia ketika pesawat yang ditumpanginya dipaksa mendarat di Wina karena dicurigai membawa sang pembocor rahasia intelijen buronan Amerika Serikat, Edward Snowden.
Pesawat itu sendiri bertolak pada Selasa malam dari Moskow, beberapa jam setelah Morales mengatakan negaranya akan melakukan pertimbangan tentang kemungkinan memberi suaka politik bagi Snowden.
Pria berusia 30 tahun itu disebut-sebut masih terdampar di Moskow selama berhari-hari.
Dalam perjalanan, Bolivia mengatakan bahwa pilot pesawat mendapati situasi bahwa Portugal menolak memberikan izin bagi pesawat untuk mendarat dalam rangka mengisi bahan bakar.
Prancis, Italia dan Spanyol kemudian juga melarang pesawat tersebut untuk memasuki wilayah udara mereka.
Ketika berada di darat --di Wina, polisi menggeledah pesawat dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Snowden. Setelah itu, negara-negara Eropa mengaktifkan kembali izin untuk menggunakan wilayah udara mereka.
Aksi pengalihan rute itu telah memancing kemarahan para pemimpin negara Amerika Latin lainnya.
Presiden Argentina Cristina Kirchner menyebut insiden tersebut sebagai hal yang "sangat memalukan."
Dalam serangkaian pernyataan yang dikeluarkannya pada akun jejaring sosial Tweeter miliknya, Presiden Kirchner mengatakan, "Mereka semua benar-benar gila. Kepala pemerintahan dan pesawatnya memiliki kekebalan secara penuh."
Kirchner mengatakan ia telah berbicara dengan Presiden Uruguay Jose Mujica, yang sama-sama merasa marah atas terjadinya peristiwa itu.
Ketua organisasi Negara-negara Amerika, Jose Miguel Insulza, menuntut adanya penjelasan tentang insiden, yang disebutnya telah membahayakan nyawa presiden Bolivia.
"Tidak ada hal apapun yang bisa membenarkan perlakuan tidak hormat itu terhadap pejabat tertinggi sebuah negara, " demikian dikutip dari AFP.
(T008)
"Sebagai sebuah pemerintahan, kami menyampaikan keberatan ke seluruh dunia," kata Wakil Presiden dan kepala negara sementara Bolivia, Alvaro Garcia.
"Kami sudah menyatakan keberatan ini kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dalam beberapa jam mendatang, kami juga menyampaikan keberatan serupa kepada Komisioner Tinggi untuk Hak Asasi Manusia PBB," kata Garcia, tentang apa yang disebutnya sebagai pelanggaran hak-hak internasional yang membahayakan nyawa presidennya.
Bolivia mengatakan Morales saat itu sedang terbang dalam perjalanan kembali dari Moskow menuju Bolivia ketika pesawat yang ditumpanginya dipaksa mendarat di Wina karena dicurigai membawa sang pembocor rahasia intelijen buronan Amerika Serikat, Edward Snowden.
Pesawat itu sendiri bertolak pada Selasa malam dari Moskow, beberapa jam setelah Morales mengatakan negaranya akan melakukan pertimbangan tentang kemungkinan memberi suaka politik bagi Snowden.
Pria berusia 30 tahun itu disebut-sebut masih terdampar di Moskow selama berhari-hari.
Dalam perjalanan, Bolivia mengatakan bahwa pilot pesawat mendapati situasi bahwa Portugal menolak memberikan izin bagi pesawat untuk mendarat dalam rangka mengisi bahan bakar.
Prancis, Italia dan Spanyol kemudian juga melarang pesawat tersebut untuk memasuki wilayah udara mereka.
Ketika berada di darat --di Wina, polisi menggeledah pesawat dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Snowden. Setelah itu, negara-negara Eropa mengaktifkan kembali izin untuk menggunakan wilayah udara mereka.
Aksi pengalihan rute itu telah memancing kemarahan para pemimpin negara Amerika Latin lainnya.
Presiden Argentina Cristina Kirchner menyebut insiden tersebut sebagai hal yang "sangat memalukan."
Dalam serangkaian pernyataan yang dikeluarkannya pada akun jejaring sosial Tweeter miliknya, Presiden Kirchner mengatakan, "Mereka semua benar-benar gila. Kepala pemerintahan dan pesawatnya memiliki kekebalan secara penuh."
Kirchner mengatakan ia telah berbicara dengan Presiden Uruguay Jose Mujica, yang sama-sama merasa marah atas terjadinya peristiwa itu.
Ketua organisasi Negara-negara Amerika, Jose Miguel Insulza, menuntut adanya penjelasan tentang insiden, yang disebutnya telah membahayakan nyawa presiden Bolivia.
"Tidak ada hal apapun yang bisa membenarkan perlakuan tidak hormat itu terhadap pejabat tertinggi sebuah negara, " demikian dikutip dari AFP.
(T008)
Pewarta :
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Meutya sampaikan Arah Indonesia Digital selaras dengan visi Indonesia Emas 2045
10 December 2025 19:43 WIB
Bupati Barut sampaikan rancangan APBD 2026 dengan pendapatan Rp3,13 triliun
20 November 2025 16:49 WIB
Pemprov Kalteng ingatkan parpol penerima bantuan wajib sampaikan laporan pertanggungjawaban
10 November 2025 17:07 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Donald Trump sebut dirinya dan Putin sepakat hentikan perang di Ukraina
13 February 2025 8:17 WIB, 2025