Tata Surya Pertontonkan "Kembang Api"
Jumat, 5 Juli 2013 11:36 WIB
Gambar komet ISON yang ditangkap teleskop Hubble NASA pada 8 Mei 2013. (NASA, ESA, dan the Hubble Heritage Team (STScI/AURA)), Istimewa
Jakarta (ANTARA
News) - Sistem tata surya mempertontonkan kembang api, komet ISON yang
menyerupai roket meluncur mendekati matahari dengan kecepatan 48.000 mil
per jam.
Gerakan cepatnya tertangkap dalam film yang diambil pada 8 Mei 2013 oleh Teleskop Hubble milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Menurut artikel di laman resmi NASA, saat gambar diambil komet itu berada pada jarak 403 juta mil dari Bumi, antara orbit Mars dan Yupiter.
Film runtutan observasi Hubble yang diambil dalam rentang 43 menit dan dipadatkan menjadi hanya lima detik itu menunjukkan bagaimana komet melakukan perjalanan sepanjang 34.000 mil, atau tujuh persen dari jarak antara Bumi dan bulan.
Pengunjung dari kedalaman antariksa itu melesat meninggalkan latar bintang-bintang.
Namun tak seperti kembang api, komet itu tidak terbakar. Ekor yang tampak dari gerakan meroketnya sebenarnya merupakan pita gas dan debu yang terpancar dari inti es, yang dikelilingi coma seperti bintang terang.
Tekanan angin surya menyapu material itu sehingga jadi menyerupai ekor, seperti angin yang bertiup ke kantung angin.
Sementara komet memanas saat mendekati matahari, laju sublimasinya (satu proses serupa dengan penguapan dimana materi padat langsung beralih menjadi gas) akan meningkat.
Komet yang dinamai seperti organisasi penemunya, International Scientific Optical Network (ISON) yang berbasis di Rusia, tersebut diperkirakan mencapai jarak yang bisa target="_blank"> bulan November mendatang.
Gerakan cepatnya tertangkap dalam film yang diambil pada 8 Mei 2013 oleh Teleskop Hubble milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Menurut artikel di laman resmi NASA, saat gambar diambil komet itu berada pada jarak 403 juta mil dari Bumi, antara orbit Mars dan Yupiter.
Film runtutan observasi Hubble yang diambil dalam rentang 43 menit dan dipadatkan menjadi hanya lima detik itu menunjukkan bagaimana komet melakukan perjalanan sepanjang 34.000 mil, atau tujuh persen dari jarak antara Bumi dan bulan.
Pengunjung dari kedalaman antariksa itu melesat meninggalkan latar bintang-bintang.
Namun tak seperti kembang api, komet itu tidak terbakar. Ekor yang tampak dari gerakan meroketnya sebenarnya merupakan pita gas dan debu yang terpancar dari inti es, yang dikelilingi coma seperti bintang terang.
Tekanan angin surya menyapu material itu sehingga jadi menyerupai ekor, seperti angin yang bertiup ke kantung angin.
Sementara komet memanas saat mendekati matahari, laju sublimasinya (satu proses serupa dengan penguapan dimana materi padat langsung beralih menjadi gas) akan meningkat.
Komet yang dinamai seperti organisasi penemunya, International Scientific Optical Network (ISON) yang berbasis di Rusia, tersebut diperkirakan mencapai jarak yang bisa target="_blank"> bulan November mendatang.
Pewarta :
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Fazzio Youth Festival Banjarmasin hiburan kekinian dekat dengan dunia pelajar
23 December 2025 12:02 WIB
Sel surya perovskit berefisiensi tinggi, dikembangkan oleh peneliti China
14 November 2025 13:52 WIB
BCUP SMA Frater Don Bosco berlangsung sukses, STSJ Yamaha konsisten beri dukungan
17 October 2025 9:27 WIB
Terpopuler - Teknologi
Lihat Juga
Oppo uji coba sensor kamera depan 100 MP berbentuk persegi untuk ponsel terbaru
09 May 2026 0:29 WIB