Bocorkan Informasi Rahasia Ke Wartawan, Agen CIA Dipenjara 3,5 Tahun
Selasa, 12 Mei 2015 10:48 WIB
Mantan agen CIA Jeffrey Sterling yang divonis hukuman penjara karena membocorkan rahasia negara ke pers (Reuters)
Washington (ANTARA News) - Mantan agen CIA Jeffrey Sterling dijatuhi
hukuman penjara 3,5 tahun karena membocorkan informasi rahasia kepada
seorang wartawan New York Times.
Januari lalu Sterling dinyatakan terbukti membocorkan rencana pemerintah AS, waktu itu masih dipimpin Presiden Bill Clinton, untuk menggagalkan program nuklir Iran.
"Pengadilan harus menyampaikan pesan yang sangat tegas," jata Hakim Leonie Brinkema saat membacakan vonis kepada Sterling di pinggiran Washington, Alexandria, Virginia.
Sterling, yang bebas dengan jaminan sebelum divonis, diperintahkan melapor ke sebuah penjara federal di negara bagian asalnya Missouri untuk menjalani hukumannya.
Vonis terhadap dia menandai kemenangan pemerintahan Presiden Barack Obama dalam menumpas para whistleblower.
Kasus ini menjadi berlarut-larut di pengadilan karena jaksa berusaha memaksa wartawan New York Times James Risen untuk mengungkapkan jati diri narasumber beritanya. Risen menolak mengungkapkannya.
Risen pertama kali dipanggil pengadilan pada 2008, namun dia melawannya sampai pemanggilan itu kadaluwarsa tahun berikutnya.
Pemerintahan Presiden Barack Obama kemudian mengambil langkah yang tidak biasa dengan memperbarui pemanggilan itu pada 2010.
Pertarungan hukum berakhir tujuh tahun setelah pemanggilan awal, pada Januari tahun ini, ketika Jaksa Agung Eric Holder mengatakan jaksa tidak akan lagi memaksa Risen mengungkapkan narasumbernya.
Hukuman 42 bulan kepada Sterling ini jauh lebih berat dari hukuman percobaan dua tahun dan denda 100.000 dolar AS kepada mantan bos CIA David Petraeus yang membagi informasi rahasia dengan gundiknya.
"Saya puas bahwa hukuman lebih berat pantas untuk kasus ini karena (Petraeus) mengaku bersalah," kata Brinkema.
Dana Boente, jaksa distrik AS untuk Virginia timur, menyambut vonis kepada Sterling begitu itu dijatuhkan.
"Demi tujuan balas dendamnya sendiri, Jeffrey Sterling dengan sembarangan membocorkan informasi sangat rahasia dan sangat ternilai yang menyalahi sumpah jabatannya untuk menjaga rahasia," kata Boente.
"Upayanya untuk membocorkan informasi keamanan nasional dengan alasannya sendiri yang berbahaya membuatnya dihukum hari ini."
Dari November 1998 sampai Mei 2000, Sterling ditugaskan pada program operasi laten (clandestine) rahasia untuk merusak program nuklir Iran, kata para pejabat.
Pada 2000, dia mengajukan keluhan kepada CIA mengenai tuduhan diskriminasi ras.
Jaksa menuduh Sterling membocorkan informasi karena CIA menolak mempertimbangkan keluhan Sterling soal diskriminasi ras itu.
Jaksa akhirnya mengurungkan upaya mereka memanggil Risen si wartawan peraih Pulitzer setelah sudah jelas dia tak akan mau membeberkan narasumbernya, sekalipun dipenjara, atas kesaksiannya mengenai operasi ceroboh CIA seperti dia ceritakan dalam bukunya yang terbit pada 2006, "State of War."
Kasus menyangkut Risen ini membuat marah organisasi-organisasi media di mana lebih dari 100.000 orang menandatangani petisi online yang disampaikan kepada Departemen Kehakiman AS yang menyerukan diakhirinya penuntutan, demikian AFP.
Januari lalu Sterling dinyatakan terbukti membocorkan rencana pemerintah AS, waktu itu masih dipimpin Presiden Bill Clinton, untuk menggagalkan program nuklir Iran.
"Pengadilan harus menyampaikan pesan yang sangat tegas," jata Hakim Leonie Brinkema saat membacakan vonis kepada Sterling di pinggiran Washington, Alexandria, Virginia.
Sterling, yang bebas dengan jaminan sebelum divonis, diperintahkan melapor ke sebuah penjara federal di negara bagian asalnya Missouri untuk menjalani hukumannya.
Vonis terhadap dia menandai kemenangan pemerintahan Presiden Barack Obama dalam menumpas para whistleblower.
Kasus ini menjadi berlarut-larut di pengadilan karena jaksa berusaha memaksa wartawan New York Times James Risen untuk mengungkapkan jati diri narasumber beritanya. Risen menolak mengungkapkannya.
Risen pertama kali dipanggil pengadilan pada 2008, namun dia melawannya sampai pemanggilan itu kadaluwarsa tahun berikutnya.
Pemerintahan Presiden Barack Obama kemudian mengambil langkah yang tidak biasa dengan memperbarui pemanggilan itu pada 2010.
Pertarungan hukum berakhir tujuh tahun setelah pemanggilan awal, pada Januari tahun ini, ketika Jaksa Agung Eric Holder mengatakan jaksa tidak akan lagi memaksa Risen mengungkapkan narasumbernya.
Hukuman 42 bulan kepada Sterling ini jauh lebih berat dari hukuman percobaan dua tahun dan denda 100.000 dolar AS kepada mantan bos CIA David Petraeus yang membagi informasi rahasia dengan gundiknya.
"Saya puas bahwa hukuman lebih berat pantas untuk kasus ini karena (Petraeus) mengaku bersalah," kata Brinkema.
Dana Boente, jaksa distrik AS untuk Virginia timur, menyambut vonis kepada Sterling begitu itu dijatuhkan.
"Demi tujuan balas dendamnya sendiri, Jeffrey Sterling dengan sembarangan membocorkan informasi sangat rahasia dan sangat ternilai yang menyalahi sumpah jabatannya untuk menjaga rahasia," kata Boente.
"Upayanya untuk membocorkan informasi keamanan nasional dengan alasannya sendiri yang berbahaya membuatnya dihukum hari ini."
Dari November 1998 sampai Mei 2000, Sterling ditugaskan pada program operasi laten (clandestine) rahasia untuk merusak program nuklir Iran, kata para pejabat.
Pada 2000, dia mengajukan keluhan kepada CIA mengenai tuduhan diskriminasi ras.
Jaksa menuduh Sterling membocorkan informasi karena CIA menolak mempertimbangkan keluhan Sterling soal diskriminasi ras itu.
Jaksa akhirnya mengurungkan upaya mereka memanggil Risen si wartawan peraih Pulitzer setelah sudah jelas dia tak akan mau membeberkan narasumbernya, sekalipun dipenjara, atas kesaksiannya mengenai operasi ceroboh CIA seperti dia ceritakan dalam bukunya yang terbit pada 2006, "State of War."
Kasus menyangkut Risen ini membuat marah organisasi-organisasi media di mana lebih dari 100.000 orang menandatangani petisi online yang disampaikan kepada Departemen Kehakiman AS yang menyerukan diakhirinya penuntutan, demikian AFP.
Pewarta :
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pelantikan pejabat dikeluhkan, Shalahuddin sebut media tetap bisa akses informasi
04 May 2026 14:07 WIB
Menkomdigi imbau jurnalis jaga akurasi berita di tengah derasnya arus informasi
03 May 2026 21:16 WIB
Pemkab Sukamara tekankan harmonisasi dan keterbukaan informasi pembentukan perda
29 April 2026 8:40 WIB
Festival Literasi Harati ajarkan generasi muda Pulang Pisau cerdas memilah informasi
10 April 2026 7:02 WIB
PLN perkuat peran media massa dalam penyampaian informasi program kelistrikan
08 April 2026 16:51 WIB
HUT ke-15, LPP RSPD jadi sarana strategis komunikasi pemerintah dan masyarakat
01 April 2026 12:59 WIB
Garuda Indonesia imbau masyarakat gunakan kanal resmi untuk informasi perjalanan
17 March 2026 22:08 WIB
Pemkab Kapuas dan LKBN ANTARA perkuat sinergi publikasi pembangunan daerah
23 February 2026 18:21 WIB