Legislator Dukung Presidium Peduli Krisis Energi Listrik
Selasa, 29 Maret 2016 14:03 WIB
Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional Demokrat DPRD Kotawaringin Timur, Muhammad Shaleh (FOTO ANTARA Kalteng/Untung Setiawan)
Sampit (Antara Kalteng) - Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional Demokrat DPRD Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Muhammad Shaleh mendukung dibentuknya presidium peduli krisis energi listrik.
"Ini adalah puncak ketidak puasan masyarakat terhadap pelayanan PT Perusahaan Listrik Negara yang selama ini sering melakukan pedaman dengan tidak terjadwal," katanya di Sampit, Selasa.
Shaleh mengatakan, dampk dari pemadaman yang tidak terjadwal dan terlalu lama telah membuat masyarakat serta pelaku usaha kecil merugi. Apa yang dilakukan masyarakat itu untuk menggalang dukungan dan sekaligus protes terhadap PT PLN. Ini sebuah tindakan yang wajar. Diaberharap aksi ini bisa membuahkan hasil yang bermanfaat untuk msyarakat.
"Sebagai wakil rakyat kita sangat prihatin dengan buruknya pelayanan PT PLN selama ini. Mudah-mudahan dengan adanya aksi yang dilakukan masyarakat nantinya bisa menjadi koreksi pihak manajemen PT PLN," katanya dan mengaku akan mengawal aksi yang akan dilakukan masyarakat Kotim tersebut.
Sementara Ketua presidium peduli krisis energi listrik Suhartono Firdaus menyatakan telah menggalang dukungan masyarakat dan membagikan 1.000 lilin sebagai bentuk keprihatinan seringnya pemadaman listrik.
"Aksi ini kita lakukan sebagai bentuk kepedulian dan rasa prihatin kami terhadap PLN yang sering memadamkan aliran listrik di daerah kami ini," ungkapnya.
Presidium peduli krisis listrik dibentuk untuk menyikapi keluhan masyarakat Kotawaringin Timur terhadap buruknya pelayanan PT PLN Rayon Sampit selama 5 tahun terakhir.
Presidium peduli dibentuk juga sebagai tanggung jawab moral dan sosial kepada masyarakat Kotim. Untuk itu akan menyampaikan sedikitnya lima tuntutan terhadap PT PLN Rayon Sampit.
Tuntutan yang pertama, yakni meminta kepada PT PLN Rayon Sampit dan PT PLN Wilayah Kalteng menjamin ketersediaan tenaga listrik di daerah itu. Tuntutan yang kedua meminta agar sejak 5 April 2016 tidak ada lagi pemadaman listrik. Kalaupun ada pemadaman tidak boleh lebih dari tiga jam dalam satu minggu.
Tuntutan ketiga adalah meminta PT PLN Rayon Sampit dan PT PLN Kalteng untuk melakukan pemebanhan dan pembinaan terhadap instalatir binaan dan karyawan PT PLN agar lebih professional dalam segala hal.
Tuntutan keempat adalah meminta kepada PT PLN Rayon Sampit untuk menyediakan 30 persen tenaga listrik cadangan dari kebutuhan listrik yang terpasang.
Sedangkan tuntutan yang kelima atau terakhir adalah PT PLN Rayon Sampit dan pemerintah Kotim harus memelihara, memperbaiki dan menambah penerangan jalan umum (PJU) ditempat-tempat fasilitas umum yang dianggap perlu penerangan.
"Ini adalah puncak ketidak puasan masyarakat terhadap pelayanan PT Perusahaan Listrik Negara yang selama ini sering melakukan pedaman dengan tidak terjadwal," katanya di Sampit, Selasa.
Shaleh mengatakan, dampk dari pemadaman yang tidak terjadwal dan terlalu lama telah membuat masyarakat serta pelaku usaha kecil merugi. Apa yang dilakukan masyarakat itu untuk menggalang dukungan dan sekaligus protes terhadap PT PLN. Ini sebuah tindakan yang wajar. Diaberharap aksi ini bisa membuahkan hasil yang bermanfaat untuk msyarakat.
"Sebagai wakil rakyat kita sangat prihatin dengan buruknya pelayanan PT PLN selama ini. Mudah-mudahan dengan adanya aksi yang dilakukan masyarakat nantinya bisa menjadi koreksi pihak manajemen PT PLN," katanya dan mengaku akan mengawal aksi yang akan dilakukan masyarakat Kotim tersebut.
Sementara Ketua presidium peduli krisis energi listrik Suhartono Firdaus menyatakan telah menggalang dukungan masyarakat dan membagikan 1.000 lilin sebagai bentuk keprihatinan seringnya pemadaman listrik.
"Aksi ini kita lakukan sebagai bentuk kepedulian dan rasa prihatin kami terhadap PLN yang sering memadamkan aliran listrik di daerah kami ini," ungkapnya.
Presidium peduli krisis listrik dibentuk untuk menyikapi keluhan masyarakat Kotawaringin Timur terhadap buruknya pelayanan PT PLN Rayon Sampit selama 5 tahun terakhir.
Presidium peduli dibentuk juga sebagai tanggung jawab moral dan sosial kepada masyarakat Kotim. Untuk itu akan menyampaikan sedikitnya lima tuntutan terhadap PT PLN Rayon Sampit.
Tuntutan yang pertama, yakni meminta kepada PT PLN Rayon Sampit dan PT PLN Wilayah Kalteng menjamin ketersediaan tenaga listrik di daerah itu. Tuntutan yang kedua meminta agar sejak 5 April 2016 tidak ada lagi pemadaman listrik. Kalaupun ada pemadaman tidak boleh lebih dari tiga jam dalam satu minggu.
Tuntutan ketiga adalah meminta PT PLN Rayon Sampit dan PT PLN Kalteng untuk melakukan pemebanhan dan pembinaan terhadap instalatir binaan dan karyawan PT PLN agar lebih professional dalam segala hal.
Tuntutan keempat adalah meminta kepada PT PLN Rayon Sampit untuk menyediakan 30 persen tenaga listrik cadangan dari kebutuhan listrik yang terpasang.
Sedangkan tuntutan yang kelima atau terakhir adalah PT PLN Rayon Sampit dan pemerintah Kotim harus memelihara, memperbaiki dan menambah penerangan jalan umum (PJU) ditempat-tempat fasilitas umum yang dianggap perlu penerangan.
Pewarta : Untung Setiawan
Editor : Zaenal A.
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Festival Anak Shaleh Indonesia ajang wujudkan generasi Kotim berakhlakul karimah
02 August 2024 21:42 WIB, 2024
Wagub Kalteng harapkan Festival Anak Shaleh sebagai sarana pengembangan anak
22 March 2022 19:09 WIB, 2022
Legislator Kotim ingatkan pemerintah persiapkan infrastruktur mudik lebaran
04 May 2019 19:43 WIB, 2019
Terpopuler - Kotawaringin Timur
Lihat Juga
Imlek, tokoh Khonghucu Sampit sebut Tahun Kuda Api momentum adaptasi dan akselerasi
16 February 2026 20:53 WIB
Pemkab Kotim dorong kolaborasi sistem konvensional dan digital di PPM Sampit
15 February 2026 18:32 WIB
Pemkab Kotim apresiasi inisiatif Ansor rangkul generasi muda lewat olahraga
15 February 2026 12:51 WIB