Perayaan Nyepi Di Palangka Raya Berlangsung Khidmat
Selasa, 28 Maret 2017 15:42 WIB
Ilustrasi - Pura Pitamaha di Jalan Kinibalu, Palangka Raya. (rri.co.id)
Palngka Raya (Antara Kalteng) - Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah berlangsung khidmat.
Pantauan di Jalan Kinibalu, suasana Pura Pitamaha terlihat sepi, begitu pula rumah warga yang merayakan Nyepi terlihat sepi.
Walaupun umat Hindu yang merayakan Nyepi di Palangka Raya tidak sebanyak di Bali, namun nuansa sakral dari perayaan ini tetap terasa dalam.
"Kalau saat Nyepi suasananya memang seperti itu. Kami warga di sini menghargai mereka yang merayakan Nyepi dan ini yang perlu kita hormati," kata Iyan, seorang warga saat melintas di sekitar pura, Selasa.
Seperti perayaan Nyepi di daerah lainnya, sebelumnya serangkaian acara juga digelar umat Hindu di "Kota Cantik" Palangka Raya.
Selain pembersihan diri, juga dilakukan pembersihan benda-benda pusaka yang dianggap disakralkan dan disimpan di pura.
Sehari sebelum Nyepi, dilakukan ibadah dalam rangka menyambut Nyepi yang diikuti umat Hindu, khususnya yang ada di Palangka Raya.
Umat Hindu Dharma, Sastriadi mengatakan, Nyepi merupakan momen terpenting dalam hidup. Terutama dalam hal menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan (Tri Kaya Parisudha).
"Momen Nyepi merupakan kesempatan untuk melakukan refleksi diri selama satu tahun berjalan ini," katanya.
Oleh karena itu, sebagai mahluk yang memiliki kelebihan akal (idep), ucap dia, manusia akan mampu memilih dan menentukan masa depannya yang lebih baik dan menghidari hal yang buruk.
Warga lainnya Made, mengatakan sebagai warga Indonesia kita harus saling menghargai satu sama lainnya. Jangan sampai terpecah belah karena adanya perbedaan suku, agama, ras dan golongan.
"Saya berharap dengan momen Nyepi ini mampu bersama-sama menjaga kerukunan dan toleransi antar agama," kata Made.
Sebab waktu yang diberikan pada Nyepi merupakan waktu yang tepat untuk merenenung dan mempersiapkan apa yang akan dikerjakan pada masa yang akan datang
Sementara itu, ada beberapa larangan selama Nyepi yakni amati geni (tidak menyalakan api), amati karyue (tidak berkarya), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan).
Pantauan di Jalan Kinibalu, suasana Pura Pitamaha terlihat sepi, begitu pula rumah warga yang merayakan Nyepi terlihat sepi.
Walaupun umat Hindu yang merayakan Nyepi di Palangka Raya tidak sebanyak di Bali, namun nuansa sakral dari perayaan ini tetap terasa dalam.
"Kalau saat Nyepi suasananya memang seperti itu. Kami warga di sini menghargai mereka yang merayakan Nyepi dan ini yang perlu kita hormati," kata Iyan, seorang warga saat melintas di sekitar pura, Selasa.
Seperti perayaan Nyepi di daerah lainnya, sebelumnya serangkaian acara juga digelar umat Hindu di "Kota Cantik" Palangka Raya.
Selain pembersihan diri, juga dilakukan pembersihan benda-benda pusaka yang dianggap disakralkan dan disimpan di pura.
Sehari sebelum Nyepi, dilakukan ibadah dalam rangka menyambut Nyepi yang diikuti umat Hindu, khususnya yang ada di Palangka Raya.
Umat Hindu Dharma, Sastriadi mengatakan, Nyepi merupakan momen terpenting dalam hidup. Terutama dalam hal menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan (Tri Kaya Parisudha).
"Momen Nyepi merupakan kesempatan untuk melakukan refleksi diri selama satu tahun berjalan ini," katanya.
Oleh karena itu, sebagai mahluk yang memiliki kelebihan akal (idep), ucap dia, manusia akan mampu memilih dan menentukan masa depannya yang lebih baik dan menghidari hal yang buruk.
Warga lainnya Made, mengatakan sebagai warga Indonesia kita harus saling menghargai satu sama lainnya. Jangan sampai terpecah belah karena adanya perbedaan suku, agama, ras dan golongan.
"Saya berharap dengan momen Nyepi ini mampu bersama-sama menjaga kerukunan dan toleransi antar agama," kata Made.
Sebab waktu yang diberikan pada Nyepi merupakan waktu yang tepat untuk merenenung dan mempersiapkan apa yang akan dikerjakan pada masa yang akan datang
Sementara itu, ada beberapa larangan selama Nyepi yakni amati geni (tidak menyalakan api), amati karyue (tidak berkarya), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan).
Pewarta : Rendhik Andika
Editor : Zaenal A.
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga Tino Talih usul pembangunan jembatan saat reses Waket I DPRD Murung Raya
26 January 2026 16:04 WIB
Terpopuler - Kota Palangkaraya
Lihat Juga
Festival kuliner viral Indonesia sukses tarik antusias warga Palangka Raya
26 January 2026 14:34 WIB
Dua perempuan di Palangka Raya ditangkap edar ratusan gram sabu dan ekstasi
24 January 2026 23:57 WIB
Polisi ringkus pelaku simpan 44 paket sabu dalam kotak headset di Puntun Palangka Raya
24 January 2026 21:55 WIB
DPRD apresiasi Wali Kota Palangka Raya libatkan influencer benahi Pasar Datah Manuah
23 January 2026 12:32 WIB