Obesitas dipicu pola hidup tidak sehat
Minggu, 13 Januari 2019 19:03 WIB
Titi Wati (37), warga Kota Palangka Raya penderita obesitas saat dievakuasi menuju RSUD dr Doris Sylvanus untuk ditangani secara medis. (Foto Antara Kalteng/Rendhik Andika)
Palangka Raya (Antaranews Kalteng) - Kepala Departeman Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah I Nyoman Sri Yuliani mengatakan, pola hidup tidak sehat bisa menyebabkan seseorang menderita penyakit obesitas.
"Secara umum obesitas adalah kondisi kronis akibat penumpukan lemak dalam tubuh yang sangat tinggi. Terjadinya karena asupan kalori yang lebih banyak dibanding aktivitas membakar kalori, sehingga kalori yang berlebih menumpuk dalam bentuk lemak," kata Sri Yuliani saat dihubungi dari Palangka Raya.
Kondisi tersebut dalam waktu lama akan menambah berat badan hingga nantinya mengalami obesitas atau kelebihan berat basan. Penumpukan lemak tubuh meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi dan lainnya.
Obesitas juga dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup serta masalah psikologi seperti kurang percaya diri, bahkan depresi. Obesitas juga dipicu perubahan gaya hidup, asupan nutrisi yang disebabkan dari makanan siap saji.
"Penyebab obesitas itu banyak, sepertinya pola makan salah, aktivitas fisik kurang serta juga bisa disebabkan dari faktor genetik yang tidak lain adalah faktor keturunan dari orangtua. Juga termasuk adanya gangguan hormon atau sedang menjalani terapi pengobatan yang bisa membuat terjadinya obesitas," ucapnya.
Menurut Sri Yuliani, diperkirakan semakin banyak orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas, terutama para wanita, cenderung lebih banyak mengalaminya dibanding pria. Obesitas juga berkorelasi dengan peningkatan jumlah kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, serta beberapa penyakit lainnya.
"Artinya, ada penyakit penyertanya. Biasa dikatakan bahwa obesitas mempengaruhi seluruh organ tubuh dan metabolisme dalam tubuh. Jadi jika obesitas itu terus menerus dan tidak ditangani maka akan mempengaruhi organ vital, seperti jantung dan paru serta ginjal, bahkan pankreas," bebernya.
Sri Yuliani menambahkan, dalam hal penanganan obesitas ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang normal dan sehat, maka perlu dilakukan perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik.
Selain itu, perubahan perilaku juga sangat diperlukan guna mengatasi permasalahan psikologis terkait berat badan melalui konseling dan dukungan lingkungan. Penurunan berat badan, meski dalam jumlah kecil mempertahankannya secara stabil dapat mengurangi risiko mengalami komplikasi penyakit terkait obesitas.
"Kalau mengenai penanganan kasus orang yang terkena penyakit obesitas, tentunya kami harus melihat dulu apa penyebabnya. Kalau ada pola makan dan gaya hidup tidak sehat, maka hal tersebut wajib diubah agar menjadi pola makan seimbang serta tidak melebihi kebutuhan energinya. Hal paling utama aktivitas fisik seperti olahraga, lari dan paling tidak dalam seminggu 150 menit wajib berolahraga," tandasnya.
"Secara umum obesitas adalah kondisi kronis akibat penumpukan lemak dalam tubuh yang sangat tinggi. Terjadinya karena asupan kalori yang lebih banyak dibanding aktivitas membakar kalori, sehingga kalori yang berlebih menumpuk dalam bentuk lemak," kata Sri Yuliani saat dihubungi dari Palangka Raya.
Kondisi tersebut dalam waktu lama akan menambah berat badan hingga nantinya mengalami obesitas atau kelebihan berat basan. Penumpukan lemak tubuh meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi dan lainnya.
Obesitas juga dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup serta masalah psikologi seperti kurang percaya diri, bahkan depresi. Obesitas juga dipicu perubahan gaya hidup, asupan nutrisi yang disebabkan dari makanan siap saji.
"Penyebab obesitas itu banyak, sepertinya pola makan salah, aktivitas fisik kurang serta juga bisa disebabkan dari faktor genetik yang tidak lain adalah faktor keturunan dari orangtua. Juga termasuk adanya gangguan hormon atau sedang menjalani terapi pengobatan yang bisa membuat terjadinya obesitas," ucapnya.
Menurut Sri Yuliani, diperkirakan semakin banyak orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas, terutama para wanita, cenderung lebih banyak mengalaminya dibanding pria. Obesitas juga berkorelasi dengan peningkatan jumlah kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, serta beberapa penyakit lainnya.
"Artinya, ada penyakit penyertanya. Biasa dikatakan bahwa obesitas mempengaruhi seluruh organ tubuh dan metabolisme dalam tubuh. Jadi jika obesitas itu terus menerus dan tidak ditangani maka akan mempengaruhi organ vital, seperti jantung dan paru serta ginjal, bahkan pankreas," bebernya.
Sri Yuliani menambahkan, dalam hal penanganan obesitas ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang normal dan sehat, maka perlu dilakukan perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik.
Selain itu, perubahan perilaku juga sangat diperlukan guna mengatasi permasalahan psikologis terkait berat badan melalui konseling dan dukungan lingkungan. Penurunan berat badan, meski dalam jumlah kecil mempertahankannya secara stabil dapat mengurangi risiko mengalami komplikasi penyakit terkait obesitas.
"Kalau mengenai penanganan kasus orang yang terkena penyakit obesitas, tentunya kami harus melihat dulu apa penyebabnya. Kalau ada pola makan dan gaya hidup tidak sehat, maka hal tersebut wajib diubah agar menjadi pola makan seimbang serta tidak melebihi kebutuhan energinya. Hal paling utama aktivitas fisik seperti olahraga, lari dan paling tidak dalam seminggu 150 menit wajib berolahraga," tandasnya.
Pewarta : Adi Wibowo
Editor : Admin 2
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Disperindagkop Kobar akui terjadi fluktuasi harga komoditas di pasar tradisional
29 July 2025 16:20 WIB
DPW PAN Kalteng kembali dipimpin Achmad Diran, struktur kepengurusan terjadi pergeseran
16 July 2025 8:32 WIB
Terpopuler - Kota Palangkaraya
Lihat Juga
DPRD Palangka Raya harap Gerakan ASRI tingkatkan kesadaran jaga kebersihan pasar
17 February 2026 15:04 WIB
Disdik dan BPJS dorong sekolah swasta lindungi tenaga pendidik di Palangka Raya
16 February 2026 18:30 WIB