
Kesenjangan adopsi AI masih terjadi

Jakarta (ANTARA) - Laporan baru bertajuk "State of Organizational Health 2025" yang dikeluarkan oleh perusahaan konsultan dan pelatihan pengembangan kepemimpinan Dale Carnegie menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam adopsi teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
"Pimpinan menganggap integrasinya mulus, tetapi di bawah ternyata rendah. Ada gap dan itu isu yang artinya proses integrasi AI itu dianggap tidak menguntungkan bagi level bawah," kata President & CEO Dale Carnegie Global Joe Hart dalam acara diskusi di Jakarta, Senin.
Di tengah akselerasi adopsi kecerdasan buatan, banyak organisasi dinilai masih menghadapi tantangan mendasar seperti kesenjangan persepsi antara pimpinan dan kontributor individual (staf).
Laporan Dale Carnegie menyebutkan bahwa 54,2 persen responden di jenjang pimpinan puncak menyatakan integrasi teknologi dan AI di perusahaan mereka efektif atau transformatif, tetapi hanya 11,2 persen responden di jenjang staf atau kontributor individual yang setuju.
Menurut laporan tersebut, keberhasilan transformasi AI sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam membangun kejelasan, kepercayaan, dan keterlibatan manusia di seluruh lapisan organisasi.
Joe Hart menekankan bahwa peran kepemimpinan menjadi semakin krusial pada era pemanfaatan AI, yang menuntut pemimpin untuk menghadirkan kejelasan dan ketenangan.
"AI dapat meningkatkan efisiensi, tetapi manusialah yang menentukan bagaimana keputusan diambil, kepercayaan dibangun, dan organisasi bergerak maju. Ketika pemimpin mampu memimpin manusia dengan sadar, teknologi akan benar-benar memberi dampak," katanya.
Laporan Dale Carnegie menegaskan bahwa tanpa kepemimpinan yang kuat, percepatan adopsi teknologi justru berisiko menciptakan kelelahan organisasi, menurunnya keterlibatan, dan berkurangnya kepercayaan dalam jangka panjang.
Dale Carnegie memperkenalkan kerangka Take Command sebagai panduan kepemimpinan yang relevan pada era AI.
Panduan tersebut mencakup tiga pilar utama, yakni mindset (kerangka berpikir), relationships (hubungan), dan future (masa depan).
Pilar mindset dimaksudkan untuk membantu pemimpin bertindak dengan kejelasan, ketenangan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi perubahan cepat.
Pilar relationships ditujukan untuk membangun kepercayaan, menjembatani kesenjangan lintas generasi, serta memperkuat kolaborasi di lingkungan kerja yang semakin kompleks.
Pilar future dimaksudkan untuk merancang strategi jangka panjang yang menyatukan kekuatan manusia dan teknologi secara intensional untuk pertumbuhan berkelanjutan.
Pewarta : Sri Dewi Larasati
Editor:
Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
