Narkoba suntik bisa sebabkan Hepatitis C berujung kanker
Senin, 29 Juni 2020 11:00 WIB
Ilustrasi (Pixabay)
Jakarta (ANTARA) - Hepatitis C yang berujung pada kanker hati, merupakan salah satu penyakit yang timbul sebagai dampak dari penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik.
Dokter spesialis penyakit dalam yang tergabung dalam Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Dr. Irsan Hasan mengatakan sekitar 74 persen mereka yang menyalahgunakan narkoba dengan jarum suntik.
"Hepatitis C kebanyakan kasus hubungannya dengan penggunaan narkoba suntik," kata dia dalam webinar, Jumat.
Baca juga: Haruskah semua penderita hepatitis minum obat antivirus?
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan mereka yang menggunakan jarum suntik mendapatkan hepatitis C dari jarum suntik yang digunakan berkali-kali dan bersama-sama.
Berbagi atau menggunakan kembali jarum suntik meningkatkan kemungkinan penyebaran virus hepatitis C. Apalagi jika jarum suntik yang dipakai bisa dilepas, risiko virus menulari orang lain dapat lebih tinggi karena virus dapat bertahan pada lebih banyak darah setelah jarum disuntik ke tubuh.
Hingga saat ini tidak ada vaksin untuk hepatitis C. Penderita biasanya akan diberi obat oleh dokter agar penyakitnya tidak berkembang menjadi sirosis atau pengerasan hati dan kanker hati.
Baca juga: Benarkah masyarakat jarang menyadari idap hepatitis?
"Pada kasus hepatitis B, kanker hati bisa terjadi tanpa ada sirosis. Sementara hepatitis C, kanker hati umumnya didahului sirosis. Kedua hepatitis ini sifatnya berbeda," tutur Irsan.
Laman WebMD menyebut, walau hepatitis C bisa disembuhkan tetapi prosesnya tidak selalu mudah. Selama beberapa waktu, penderita membutuhkan suntikan menyakitkan dari obat yang disebut interferon dan pil yang disebut ribavirin.
Obat-obatan ini tidak menargetkan virus yang membuat sakit. Sebaliknya, obat meningkatkan sistem kekebalan tubuh penderita sehingga dia akan berjuang seperti halnya saat terserang flu.
Perawatan tidak selalu mengeluarkan virus dari tubuh dengan tingkat penyembuhan sekitar 50 persen bahkan bisa hanya 5-10 persen.
Di Indonesia, hepatitis C termasuk tiga penyebab tertinggi penyakit hati kronik selain hepatitis B dan NAFL.
Baca juga: Fakta dan mitos terkait hepatitis
Baca juga: Kenali penularan dan pencegahan hepatitis B
Baca juga: Begini cara melawan penyakit hepatitis A
Dokter spesialis penyakit dalam yang tergabung dalam Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Dr. Irsan Hasan mengatakan sekitar 74 persen mereka yang menyalahgunakan narkoba dengan jarum suntik.
"Hepatitis C kebanyakan kasus hubungannya dengan penggunaan narkoba suntik," kata dia dalam webinar, Jumat.
Baca juga: Haruskah semua penderita hepatitis minum obat antivirus?
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan mereka yang menggunakan jarum suntik mendapatkan hepatitis C dari jarum suntik yang digunakan berkali-kali dan bersama-sama.
Berbagi atau menggunakan kembali jarum suntik meningkatkan kemungkinan penyebaran virus hepatitis C. Apalagi jika jarum suntik yang dipakai bisa dilepas, risiko virus menulari orang lain dapat lebih tinggi karena virus dapat bertahan pada lebih banyak darah setelah jarum disuntik ke tubuh.
Hingga saat ini tidak ada vaksin untuk hepatitis C. Penderita biasanya akan diberi obat oleh dokter agar penyakitnya tidak berkembang menjadi sirosis atau pengerasan hati dan kanker hati.
Baca juga: Benarkah masyarakat jarang menyadari idap hepatitis?
"Pada kasus hepatitis B, kanker hati bisa terjadi tanpa ada sirosis. Sementara hepatitis C, kanker hati umumnya didahului sirosis. Kedua hepatitis ini sifatnya berbeda," tutur Irsan.
Laman WebMD menyebut, walau hepatitis C bisa disembuhkan tetapi prosesnya tidak selalu mudah. Selama beberapa waktu, penderita membutuhkan suntikan menyakitkan dari obat yang disebut interferon dan pil yang disebut ribavirin.
Obat-obatan ini tidak menargetkan virus yang membuat sakit. Sebaliknya, obat meningkatkan sistem kekebalan tubuh penderita sehingga dia akan berjuang seperti halnya saat terserang flu.
Perawatan tidak selalu mengeluarkan virus dari tubuh dengan tingkat penyembuhan sekitar 50 persen bahkan bisa hanya 5-10 persen.
Di Indonesia, hepatitis C termasuk tiga penyebab tertinggi penyakit hati kronik selain hepatitis B dan NAFL.
Baca juga: Fakta dan mitos terkait hepatitis
Baca juga: Kenali penularan dan pencegahan hepatitis B
Baca juga: Begini cara melawan penyakit hepatitis A
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bea Cukai Palangka Raya imbau masyarakat waspadai penipuan online catut nama petugas
23 December 2025 16:25 WIB
Film Bapakmu Kiper hadirkan komedi sepak bola tarkam Indonesia tayang 2026
17 December 2025 18:18 WIB
Ahli ungkap pengendalian LDL-C bisa mencegah komplikasi jantung dan stroke
09 December 2025 20:34 WIB
Viral nama satu huruf, Disdukcapil Kotim siap dampingi penggantian ke pengadilan
13 July 2025 18:46 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Infeksi paru-paru perlu diwaspadai masyarakat melalui pengenalan empat penyakit utama
09 February 2026 13:21 WIB