Logo Header Antaranews Kalteng

Ribuan kasus Kawasaki belum terdeteksi

Selasa, 10 Februari 2026 21:15 WIB
Image Print
Seminar Media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bertema Kawasaki pada Anak, Selasa (10/2/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed) menyebut jumlah kasus penyakit Kawasaki pada anak di Indonesia yang diperkirakan mencapai ribuan per tahun, sebagian besar belum terdiagnosis.

Menurut Najib yang juga terhimpun dalam Unit Kerja Koordinasi Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu, hingga kini belum ada data registrasi nasional kasus Kawasaki. Perkiraan jumlah kasus masih berdasarkan pengamatan klinis dan penanganan pasien.

“Indonesia bagaimana sih berapa jumlah kasus di Kawasakinya? Nggak ada data jujur ya,” kata Najib dalam seminar daring bertema Kawasaki pada Anak yang diikuti dari Jakarta, Selasa.

Ia memperkirakan insiden kasus baru Kawasaki di Indonesia dapat mencapai 3.000 sampai 4.000 kasus per tahun. Namun, jumlah pasien yang terdiagnosis dan tertangani jauh lebih sedikit.

“Yang terjangkau sekitar 200 setahun. Saya sendiri sekitar 100 setahun pasien baru,” ujarnya.

Najib mengatakan sejak mulai melakukan sosialisasi dan penanganan Kawasaki pada 1999, telah menemukan lebih dari 2.000 kasus. Pasien datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Dalam paparannya, ia juga menyoroti besarnya risiko komplikasi jantung bila pasien tidak mendapat terapi tepat waktu.

“Kalau nggak diobatin, 15–25 persen anak itu akan menderita arteri koroner,” katanya.

Ia menambahkan banyak kasus Kawasaki tidak dikenali sejak awal karena gejalanya sering disangka penyakit lain, sehingga pasien datang dalam kondisi sudah terjadi kelainan pada pembuluh darah jantung.

Keterlambatan diagnosis, kata dia, membuat anak datang dalam kondisi sudah terjadi pelebaran arteri koroner yang meningkatkan risiko serangan jantung dan tindakan lanjutan seperti operasi pintas pembuluh darah jantung.

Najib menambahkan penyakit Kawasaki paling sering menyerang anak usia di bawah lima tahun, terutama usia satu sampai dua tahun, dan lebih banyak terjadi pada anak laki laki dibanding perempuan.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026