Jakarta (ANTARA) - Morula IVF Indonesia membantu sebanyak 10.000 bayi lahir melalui teknologi reproduksi berbantu (TRB) atau program bayi tabung selama 25 tahun dan mampu menjadi pusat layanan fertilitas di Asia Tenggara.

“Dalam perjalanan 25 tahun ini telah lahir lebih dari 10.000 bayi dari program bayi tabung Morula IVF Indonesia,” kata CEO PT Morula Indonesia Ivan R. Sini dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.

Sementara itu, sepanjang tahun lalu Morula IVF Indonesia melakukan hampir 6.000 siklus program bayi tabung dengan sekitar 10-15 persen di antaranya adalah wisatawan medis baik dari dalam maupun luar negeri seperti China, Perancis, Belanda, Rusia, Amerika Serikat, Jepang dan Australia.

Morula IVF Indonesia memberikan layanan berkualitas dan dukungan emosional kepada pasangan yang membutuhkan dengan salah satu faktor utama keunggulannya adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat dalam proses perawatan.

SDM berpengalaman tersebut meliputi dokter ahli berpengalaman nasional dan internasional yang terlatih dengan baik memastikan tingkat keberhasilan program IVF tinggi yakni sekitar lebih dari 75 persen pada pasien di bawah 35 tahun melalui teknologi terbaru.

Dengan standar sertifikasi internasional R-TAC (Reproductive Technology Accreditation Certification) dari Australia, pasangan tidak perlu khawatir karena standar keahlian dan kompetensi dokter-dokter tersebut tidak kalah dengan yang ada di luar negeri.

Salah satu keberhasilan besarnya adalah meningkatkan tingkat keberhasilan kehamilan dan melahirkan bayi sehat melalui program bayi tabung melalui teknologi PGT-A atau Pre-Implantation Genetic Testing for Aneuploidy.

Teknologi itu untuk mendeteksi masalah kromosom pada embrio sehingga dapat mencegah terjadinya keguguran pada pasien ibu dan calon bayi tabung.

Teknologi PGT-A ini memberi manfaat bagi pasangan yang melakukan program bayi tabung berulang kali namun belum berhasil, pasangan dengan riwayat keguguran berulang atau kelainan bawaan pada kehamilan sebelumnya serta berusia di atas 38 tahun.

“Pasangan dengan perempuan berusia di atas 38 tahun mempunyai keberhasilan 64 persen menggunakan teknologi PGTA di Morula IVF,” ujarnya.

Selain PGT-A, terdapat juga pemeriksaan kromosom lanjutan lainnya yaitu PGT-M (Pre Implantation Genetic Testing for Monogenic / single-gene defect).

Beberapa kelainan yang dapat dicegah dengan menggunakan teknologi PGT-M di antaranya Thalassemia, Spinal Muscular Atropy, Cystic Fibrosis dan penyakit genetik lain yang bersifat menurun.

Sementara itu dalam kesempatan berbeda, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebut angka kelahiran total (TFR) di Indonesia mengalami disparitas (kesenjangan) yang cukup tinggi meski rata-rata secara nasional terpantau baik. Angka TFR yang masih berbeda-beda di tiap provinsi menyebabkan pembangunan negara sulit diwujudkan secara merata dan adil, terlebih lagi letak geografis yang luas dan cakupan wilayah perifer (jauh dari pusat) yang besar.

“Kesenjangannya masih cukup tinggi. Disparitas masih tinggi padahal rata-rata kita secara nasional sudah 2,18 berdasarkan Long Form Sensus Penduduk 2020 BPS. Pembangunan itu harus equal equity,” demikian Hasto Wardoyo.
 

Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Uploader : Ronny
Copyright © ANTARA 2024