Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga lulusan Universitas Indonesia dr. Antonius Andi Kurniawan Sp.KO mengatakan terdapat risiko yang berbahaya bagi kesehatan tubuh jika memaksakan diri berolahraga setelah menjalani ibadah puasa.Antonius Andi Kurniawan Sp.KO mengatakan terdapat risiko yang berbahaya bagi kesehatan tubuh jika memaksakan diri berolahraga setelah menjalani ibadah puasa.
“Memaksakan diri kembali ke porsi normal atau lebih tinggi secara mendadak meningkatkan risiko mulai dari cedera hingga terkena sindrom overtraining,” kata Andi saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.overtraining," kata Andi saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Andi membayangkan agar masyarakat dapat menaikkan beban atau durasi latihan secara bertahap untuk mengembalikan kemampuan tubuhnya.
Jika membebani diri, maka terdapat kemungkinan individu terkait terkena cedera muskuloskeletal seperti strain otot, sprain ligamen, atau tendinitis akibat beban yang melebihi kapasitas adaptasi jaringan saat itu.Muskuloskeletal seperti strain otot, sprain ligamen, atau tendinitis akibat beban yang melebihi kapasitas adaptasi jaringan saat itu.
Risiko berikutnya yakni Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) eksperimental yang sangat hebat bisa berupa nyeri atau kaku dan mengganggu aktivitas fisik harian.Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) eksperimental yang sangat hebat bisa berupa nyeri atau kaku dan mengganggu aktivitas fisik harian.
Pada kondisi lain, individu juga bisa terkena Rhabdomyolysis atau kerusakan otot yang ekstrem yang melepaskan mioglobin ke dalam darah, yang berisiko merusak ginjal.Rhabdomyolysis atau kerusakan otot yang ekstrem yang melepaskan mioglobin ke dalam darah, yang berisiko merusak ginjal.
“Meskipun jarang, ini bisa terjadi pada aktivitas berlebih tanpa hidrasi yang cukup,” ujar dia.
Dokter yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya juga turut memberikan risiko lainnya adalah mengalami sindrom overtraining atau kelelahan kronis yang memicu gangguan tidur dan penurunan imunitas tubuh.Bintaro Jaya itu turut membeberkan risiko lainnya adalah mengalami sindrom overtraining atau kelelahan kronis yang memicu gangguan tidur dan penurunan imunitas tubuh.
Maka dari itu, ia bersiap agar melakukan olahraga secara bertahap diikuti dengan pengaturan nutrisi serta konsumsi protein yang stabil.
"Kembalilah ke pola makan gizi seimbang. Fokus pada karbohidrat kompleks sebagai sumber energi utama untuk mengisi kembali simpanan glikogen otot yang digunakan saat latihan," kata dia.glikogen otot yang digunakan saat latihan," kata dia.
Mengutip pedoman International Society of Sports Nutrition (ISSN), Andi mengatakan bagi individu yang aktif berolahraga, kebutuhan protein berkisar antara 1,6 hingga 2,2 gram per kg berat badan per hari.International Society of Sports Nutrition (ISSN), Andi mengatakan bagi individu yang aktif berolahraga, kebutuhan protein berkisar antara 1,6 hingga 2,2 gram per kg berat badan per hari.
"Apakah harus lebih banyak? Tidak harus lebih banyak dari standar atlet/individu aktif biasanya, namun yang terpenting adalah distribusi protein. Disarankan mengonsumsi 20–40 gram protein berkualitas tinggi setiap 3–4 jam untuk memaksimalkan sintesis protein otot (Muscle Protein Synthesis)," katanya.Muscle Protein Synthesis)," katanya.