Logo Header Antaranews Kalteng

SMPN 1 Muara Teweh undang Densus sosialisasi bahaya radikalisme bagi pelajar

Sabtu, 7 Maret 2026 16:28 WIB
Image Print
SMP Negeri 1 Muara Teweh melaksanakan kegiatan sosialisasi mengenai bahaya paham intoleransi, radikalisme, terorisme, serta dampak negatif penggunaan media sosial, game online, dan perundungan (bullying) di kalangan pelajar SMPN 1 Muara Teweh, Kamis (5/3/2026). ANTARA/HO-SMPN 1 Muara Teweh

Muara Teweh (ANTARA) - SMP Negeri 1 Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara,Kalimantan Tengah, menggelar sosialisasi mengenai bahaya paham intoleransi, radikalisme, terorisme, serta dampak negatif penggunaan media sosial, game online, dan perundungan (bullying) di kalangan pelajar.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Densus 88 Antiteror melalui Katim Pencegahan Satgaswil Kalteng, Iptu Ganjar Satriyono, yang memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Densus 88 yang telah meluangkan waktu untuk memberikan sosialisasi terkait bahaya paham intoleransi, radikalisme, terorisme, serta dampak negatif media sosial dan game online kepada para siswa, khususnya di SMPN 1 Muara Teweh,” kata Kepala SMPN 1 Muara Teweh, Maslan, Kamis.

Menurut dia, sekolah memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam membina akhlak dan adab peserta didik sehingga mampu menjadi penyaring terhadap berbagai paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus kita rawat dan lindungi bersama. Sekolah memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter siswa agar tetap berada pada nilai-nilai kebangsaan dan toleransi,” tambahnya.

Kepala Tim Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88 Antiteror, Iptu Ganjar Satriyono, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi dan media sosial saat ini perlu disikapi secara bijak oleh para pelajar.

Menurutnya, berbagai konten kekerasan dan paham radikal dapat menyebar melalui berbagai platform digital, termasuk melalui media sosial maupun permainan daring.

“Kita berkaca pada kejadian percobaan bom bunuh diri di SMA Negeri 72 Jakarta pada November 2025 lalu. Paham kekerasan dan sadistik bisa saja disebarkan melalui berbagai media, termasuk media sosial maupun game online. Permainan game online sebenarnya tidak salah, namun terkadang dimanfaatkan sebagai media penyebaran paham kekerasan,” jelas Ganjar.

Ia juga menekankan pentingnya peran sekolah dan para guru dalam membimbing serta memberikan pemahaman kepada siswa agar mampu menyaring informasi yang diterima di dunia digital.

Selain itu, ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga generasi muda dari pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan mereka.

“Guru tidak hanya sekadar menjalankan tugas sebagai pengajar, tetapi juga dapat menjadi teman, orang tua, sahabat, sekaligus tempat bagi siswa untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Utara, Syahmiluddin A. Surapati, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan sosialisasi seperti ini sangat penting dalam memberikan edukasi kepada pelajar terkait bahaya radikalisme, intoleransi, serta penggunaan media sosial secara bijak.

“Kami sangat mendukung kegiatan edukasi seperti ini karena dapat memberikan pemahaman kepada para siswa agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta mampu menghindari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan mereka,” ujar Syahmiluddin saat dihubungi terpisah.

Kadis Pendidikan juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan di berbagai sekolah di wilayah Kabupaten Barito Utara sebagai bagian dari upaya membangun karakter generasi muda yang berakhlak, toleran, dan cinta tanah air.



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026