Logo Header Antaranews Kalteng

Waspada bahaya mencium bayi

Rabu, 25 Februari 2026 16:03 WIB
Image Print
Ilustrasi - Seorang ibu menggendong bayi. (ANTARA/Pexels/Oleksandr P/am.)

Jakarta (ANTARA) - Mencium bayi yang terlihat menggemaskan kerap dilakukan sebagai bentuk mengekspresikan rasa sayang. Namun, tindakan mencium bayi orang lain terutama di area wajah atau bibir dapat meningkatkan risiko penularan infeksi.

Dokter keluarga sekaligus kreator konten kesehatan yang berbasis di Inggris, Dr. Sermed Mezher mengingatkan mencium bayi sebagai bentuk kasih sayang tidak selalu aman dan dapat membawa risiko kesehatan yang perlu dipahami orang tua.

“Untuk melindungi bayi, banyak dokter anak merekomendasikan kebijakan ‘tanpa ciuman’ bagi siapa pun yang bukan pengasuh utama, terutama di wajah atau tangan, terlepas dari ada atau tidaknya luka yang terlihat,” kata Dr. Sermed Mezher, sebagaimana dikutip laporan Hindustan Times, Selasa (24/2).

Dr. Sermed Mezher menjelaskan bahwa sesuatu yang tampak ringan seperti luka lepuh di bibir atau cold sore dapat menularkan virus yang menetap seumur hidup pada bayi.

Menurut dia, cold sore disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1), infeksi virus yang sangat menular dan mudah menyebar melalui kontak dekat seperti berciuman atau sentuhan kulit ke kulit.

Bahkan virus itu tidak benar-benar hilang setelah luka sembuh. Sebaliknya, virus akan “tidur” di sistem saraf dan dapat aktif kembali di kemudian hari, menyebabkan kekambuhan.

Penularan tetap bisa terjadi meskipun tidak ada luka yang terlihat, karena virus dapat keluar melalui kulit tanpa gejala yang jelas.

“Cold sore adalah jenis herpes. Penyakit ini sangat menular dan dapat ditransmisikan melalui sentuhan. Kita bisa mengobati cold sore saat kambuh, tetapi itu tidak sepenuhnya menghilangkan virus,” kata Sermed Mezher.

“Virus tersebut bisa kembali ke bagian belakang tulang belakang yang disebut ganglion akar dorsal dan tinggal di sana sampai tubuh kembali rentan sehingga memicu kekambuhan,” tambah dia.

Virus cold sore proses penularannya dikenal sebagai pelepasan tanpa gejala (asymptomatic shedding), yaitu saat virus berkembang biak dan bergerak ke permukaan kulit tanpa menimbulkan gejala yang terlihat.

Hal tersebut membuat seseorang bisa membawa dan menyebarkan virus tanpa menyadarinya, bahkan tanpa adanya lepuhan.

Virus dapat ditularkan melalui air liur, ciuman, atau kontak langsung dengan bibir, sehingga penularan yang tidak disengaja cukup sering terjadi.

Dr. Mezher menjelaskan bahwa fenomena ini dikenal sebagai asymptomatic shedding, di mana virus bereplikasi dan bergerak ke permukaan kulit atau selaput lendir tanpa menyebabkan lepuhan atau sensasi kesemutan.

Ia menekankan bahwa sebagian besar populasi membawa virus ini, sering kali tanpa menyadarinya. Oleh karena itu, penting agar hati-hati saat mencium bayi, karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang dan jauh lebih rentan terhadap infeksi.

“Sekitar dua pertiga populasi adalah pembawa virus ini, dan Anda bahkan bisa menularkannya saat tidak sedang mengalami infeksi aktif. Kehati-hatian sangat penting saat mencium bayi orang lain, karena bayi baru lahir memiliki sistem imun yang sangat belum matang,” tegas dia.

Meskipun HSV-1, lanjut Mezher sering kali hanya gangguan ringan pada orang dewasa, namun pada bayi dapat menyebabkan herpes neonatal, kondisi yang berat dan berpotensi fatal.

Hal itu lantaran tubuh bayi belum mampu mengendalikan virus secara efektif, virus dapat menyebar ke otak atau organ dalam, menyebabkan meningitis virus atau kegagalan organ.

Dr. Mezher menyarankan untuk tidak mencium atau berbagi barang dengan bayi orang lain, mengingat betapa mudahnya virus menyebar melalui kontak yang tampak tidak berbahaya.

Bahkan, beberapa dokter merekomendasikan kebijakan “tanpa ciuman” bagi siapa pun selain pengasuh utama.“Mari kita biasakan untuk tidak mencium anak orang lain sama sekali, karena kasih sayang bisa ditunjukkan tanpa menggunakan bibir,” tutur dia.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026