
Masyarakat Kotim Harapkan RS Dilengkapi Pencuci Darah

Bayangkan saja betapa beratnya penderita gagal ginjal atau penyakit lainnya di daerah ini karena harus ke Palangka Raya atau ke Banjarmasin jika ingin cuci darah
Sampit, Kalteng, 23/1 (ANTARA) - Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengharapkan Rumah Sakit Umum Daerah dr Murjani Sampit dilengkapi alat pencuci darah.
"Rumah sakit dr Murjani Sampit sampai saat ini masih belum memiliki alat cuci darah, padahal alat tersebut sangat dibutuhkan pasien," kata salah seorang warga Jalan Muchran Ali Kecamatan Baamang, Sampit, Kabupaten Kotim, Risa di Sampit, Rabu.
Masyarakat mengeluh lantaran harus ke luar daerah jika ingin mendapatkan layanan kesehatan yang lengkap. Seperti penderita gagal ginjal, terpaksa harus pergi ke rumah sakit RSUD dr Dors Sylvanus Palangka Raya atau rumah sakit di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), jika ingin menjalani cuci darah.
Pasien terpaksa melakukan hal itu karena RSUD dr Murjani Sampit belum memiliki alat cuci darah, padahal rumah sakit tersebut menjadi rujukan empat kabupaten lain di wilayah Barat, Kalteng.
Kondisi itu sangat memprihatinkan karena penderita gagal ginjal harus rutin menjalani cuci darah, bahkan ada yang harus tiap minggu. Jika terlambat cuci darah maka bisa berakibat fatal bagi kesehatan penderita.
"Bayangkan saja betapa beratnya penderita gagal ginjal atau penyakit lainnya di daerah ini karena harus ke Palangka Raya atau ke Banjarmasin jika ingin cuci darah. Sudah berat menanggung penyakit, mereka juga terbebani biaya untuk transpor. Itu harus mereka lakukan seumur hidup karena harus terus-terusan cuci darah," katanya.
Dia berharap pemerintah daerah dapat memprioritaskan anggaran untuk membeli peralatan cuci darah karena sangat dibutuhkan masyarakat.
"Kalau dana daerah tidak mampu, tolong upayakan melalui dana pusat atau cara lainnya. Setahu saya, rumah sakit di Palangka Raya itu bisa dapat bantuan alat cuci darah dari sumbangan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Nah, di Kabupaten Kotim ini kan ada puluhan perkebunan, masa sih mereka tidak mau membantu untuk urusan kemanusiaan seperti ini," ucapnya.
Risa mengaku memiliki kerabat yang menderita gagal ginjal sehingga harus cuci darah secara rutin. Lantaran di Sampit belum ada alat cuci darah, kerabatnya tersebut memilih pindah ke kampung halaman mereka di Banjarmasin supaya lebih mudah ketika ingin cuci darah.
Sementara Direktur RSUD dr Murjani Sampit, Yuendri Irawanto menyatakan akan terus berupaya melengkapi peralatan medis di rumah sakit terbesar di kawasan Kotawaringin itu. Selain mengandalkan dana daerah, rumah sakit yang kini berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) ini juga mengupayakan permohonan bantuan dari pemerintah pusat.
Awal Januari lalu rumah sakit dr Murjani Sampit baru mengoperasionalkan computed tomography (CT) scan yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat.
Alat tersebut berfungsi untuk mengetahui cedera dalam dan sangat penting karena itulah sebelumnya pasien luka dalam akibat kecelakaan atau lainnya terpaksa dirujuk ke rumah sakit di Banjarmasin, Kalsel untuk pemeriksaan intensif menggunakan CT scan.
"Alat cuci darah memang sangat penting. Sementara ini, pasien terpaksa harus ke Palangka Raya atau banjarmasin kalau mau cuci darah. Kami sudah mengusulkan permohonan bantuan alat cuci darah kepada pemerintah pusat, mudah-mudahan dikabulkan," ungkapnya.
(T.KR-UTG/B/Z002/Z002)
Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
