
Arti Sebuah Tugu Proklamasi Oleh Norjani

Sampit, Kalteng, 18/8 (Antara) - Di bawah teriknya matahari menyinari Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, Sabtu lalu, sebuah tugu diresmikan. Tugu yang diresmikan Bupati H Supian Hadi itu bernama Tugu Proklamasi.
Tetapi, tugu yang berdiri di simpang empat Jalan Achmad Yani-Yos Sudarso itu hanyalah duplikat Tugu Proklamasi. Tugu aslinya ada di halaman Museum Kayu, setelah tergusur dari tempat awalnya dibangun yakni di kawasan Gelanggang Olahraga Sampit yang kini dijadikan lapangan tenis.
Penggusuran tugu Proklamasi puluhan tahun silam itu menuai polemik meski kemudian tenggelam seiring dengan berjalannya waktu. Banyak masyarakat yang mempertanyakan pemindahan tugu yang diresmikan langsung oleh Presiden Soekarno saat datang ke Sampit pada 9 September 1949 silam.
Pemindahan tugu tersebut seakan dianggap telah menghilangkan makna keberadaan tugu yang didedikasikan presiden pertama Republik Indonesia itu untuk mengenang perjuangan rakyat dalam mengusir penjajah, tidak terkecuali di Sampit.
Sejak saat itu, tidak sedikit masyarakat yang mengira tugu berbentuk tiang dengan bulatan di atasnya itu hanya tugu biasa. Apalagi kondisinya kurang terawat dan letaknya di Museum Kayu yang kondisinya juga seakan "mati suri" karena tidak dikelola dengan baik.
Puluhan tahun berlalu, selama itu pula kegelisahan dirasakan sebagian masyarakat, khususnya beberapa pejuang yang masih hidup, tiap kali mengingat Tugu Proklamasi. Wajar, mereka adalah saksi hidup betapa bersemangatnya ribuan masyarakat dan Presiden Soekarno saat meresmikan tugu tersebut.
"Saya adalah salah satu saksi hidup saat Tugu Proklamasi diresmikan Presiden Soekarno. Saya merasakan sendiri betapa gembiranya masyarakat dari berbagai penjuru yang datang menyaksikan peresmiannya. Tugu itu untuk mengenang sejarah perjuangan rakyat mengusir penjajah," kata Syahrani, salah seorang veteran pejuang di Sampit.
Dia ingat betul betapa menggeloranya semangat masyarakat untuk bahu membahu membangun Tugu Proklamasi. Bahkan Tjilik Riwut yang saat itu memimpin daerah ini, tak putus asa meski di tengah berbagai keterbatasan.
"Pak Tjilik Riwut sampai meminta tahanan atau hukuman atau setrapan untuk mengerjakan pembangunan tugu itu diawasi oleh seorang sipir bernama M Darman. Setelah tugu berdiri, kami sedih karena beberapa tahun kemudian tugu itu tergusur oleh pembangunan," ucap Syahrani.
Era berganti dan kepemimpinan berganti, namun polemik pemindahan Tugu Proklamasi masih menyisakan tanya. Kini di bawah kepemimpinan Bupati Kotim, H Supian Hadi, inisiatif muncul untuk mengembalikan makna sejarah lewat pembangunan duplikat Tugu Proklamasi.
Namun, sama seperti saat Tugu Proklamasi itu digusur dari lokasi awalnya puluhan tahun silam, kini saat akan tugu duplikatnya akan dibangun pun, polemik kembali muncul. Berbagai macam pendapat dan argumen sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap pembangunan tugu duplikat itu.
Ada yang meninjaunya dari sisi lokasi yang dianggap kurang strategis, rawan kecelakaan bahkan ada yang menjadikan tugu yang dibangun dengan dana pribadi Supian Hadi itu sebuah lelucon dengan mengaitkannya dengan makanan karena bentuknya yang bulat.
"Bentuk tugu duplikat ini memang persis seperti Tugu Proklamasi yang asli," ujar Syahrani.
Terlepas dari pandangan pihak-pihak yang mempermasalahkan pembangunan duplikat Tugu Proklamasi itu, dia merasa terharu dan berterima kasih karena bagian dari aset sejarah perjuangan di daerah ini kembali dihidupkan.
Dia meminta masyarakat menghargai sejarah dan perjuangan bangsa ini. Tugu Proklamasi adalah bagian dari sejarah negara dan daerah ini. Tugu tersebut menjadi bagian perjalanan para pejuang di daerah ini.
"Saya berharap masyarakat yang mendukung maupun yang tidak mendukung pembangunan duplikat tugu ini, mari kita sama-sama menjaga dan merawatnya karena ini aset sejarah. Hargai sejarah perjuangan bangsa ini. Hargai juga niat bupati untuk kembali menghidupkan aset sejarah ini," kata Syahrani.
Menghargai Sejarah
Bupati Supian Hadi tampaknya menyadari betul keputusannya membangun duplikat Tugu Proklamasi itu ditanggapi beragam oleh masyarakat. Namun dia meyakinkan bahwa keputusannya itu adalah demi menghargai sebuah sejarah perjuangan.
"Saya tidak punya niat apa-apa terkait pembangunan duplikat Tugu Proklamasi. Saya tidak niatan dikenal karena ini. Ini murni karena saya menghargai sejarah bangsa dan daerah ini. Ini bagian dari sejarah itu," ucap Supian Hadi.
Bukan hanya niat pribadi, dia memutuskan membangun tugu duplikat itu juga karena mendapat aspirasi, masukan dan permintaan dari banyak tokoh masyarakat dan veteran pejuang di daerah ini.
Sebelum memulai pembangunan, dia pun mengaku berkonsultasi dengan banyak pihak terkait. Penentuan lokasi tugu di perempatan Jalan Achmad Yani-Yos Sudarso juga atas masukan dan pertimbangan banyak pihak.
"Kalau ada bagian yang dinilai kurang tepat karena bisa menimbulkan kerawanan, nanti akan kita tata lagi sudut itu. Kita terima masukan dari semua pihak demi kebaikan," kata Supian Hadi.
Dia berharap pembangunan duplikat Tugu Proklamasi di tempat strategis akan mengingatkan masyarakat hingga generasi penerus bahwa rakyat di daerah ini juga punya andil untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan. Tugu duplikat itu didedikasikan untuk menghidupkan kembali sejarah perjuangan.
Peresmian duplikat Tugu Proklamasi itu pun sengaja dipilih tepat tanggal 17 Agustus, saat rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan negara ini. Semangat perjuangan itu pula yang ingin digelorakan lewat makna tugu tersebut.
"Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah," kata Supian Hadi mengutip kalimat yang pernah diucapkan Presiden Soekarno.
Terlepas dari polemik yang mengiringi pembangunan duplikat Tugu Proklamasi, kini tinggal masyarakat memaknai tugu bercat merah-putih yang berdiri kokoh di simpang empat Jalan Achmad Yani-Yos Sudarso itu. Sebuah tugu bisa dibentuk melambangkan apa saja, namun jika terkait dengan sebuah sejarah, tentu tidak bisa dimaknai semaunya.
(T.KR-NJI/B/H-KWR/H-KWR)
Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
