
G7 Sepakat Cegah Ancaman Teror Mantan Gerilyawan Suriah

Kami sepakat meningkatkan upaya untuk mengatasi ancaman dari kelompok radikal yang pulang dari Suriah.
Brussel (ANTARA News) - Pemimpin negara anggota Grup 7 (G7), pada Kamis, sepakat untuk bertindak bersama menangani ancaman potensi serangan teroris jihadis Eropa yang kembali ke negara masing-masing setelah turut berperang di Suriah.
Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan bahwa para pemimpin G7 telah memutuskan "bekerja sama untuk mencegah, menghalangi, dan menghukum" teroris asing "yang dapat mengancam keamanan kami."
Hollande juga mengungkapkan bahwa lebih dari 30 orang pria asal Prancis tewas di Suriah.
"Kami telah mempunyai bukti mengenai hal itu," kata Hollande menunjuk pada peristiwa penembakan di Museum Yahudi di Brussel pada bulan lalu.
Penembakan tersebut diduga dilakukan oleh pria berusia 29 tahun asal Prancis, Mehdi Nemmouche, yang sebelumnya menghabiskan waktu lebih dari setahun bersama kelompok radikal di Suriah.
Penembakan yang terjadi pada 24 Mei lalu itu juga menjadi bahan pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat dengan Perdana Menteri Belgia Elio Di Rupo.
"Kami sepakat meningkatkan upaya untuk mengatasi ancaman dari kelompok radikal yang pulang dari Suriah," demikian pernyataan tertulis dari tujuh pemimpin negara G7 pada hari pertama perundingan.
Di sisi lain, G7 juga mengecam pemilu presiden di Suriah dan menyatakan bahwa "tidak ada masa depan bagi Presiden Bashar al-Assad."
Serangan di Brussels menewaskan tujuh orang dan membuka mata dunia internasional terhadap ancaman dari ratusan relawan jihad asal Eropa yang terlatih oleh perang di Suriah.
Eropa memperkiran munculnya kembali "serangan skala kecil" seperti di Brussel, kata kepala anti teror Uni Eropa Gilles de Kerchove pada pekan ini.
"Saya tidak memperkirakan peristiwa 9/11 ataupun serangan besar yang butuh persiapan rumit akan terulang kembali," kata dia.
Namun demikian, serangan di Brussel sangat mengkhawatirkan karena lebih dari 2.000 orang asal Eropa saat ini sedang berada di Suriah, menjalani pelatihan militer, dan semakin radikal, kata de Kerchove.
Pada Kami ini, para menteri dalam negeri dari tujuh negara Eropa dijadwalkan akan bertemu di Luksemburg untuk membahas cara-cara teknis menangani ancaman.
Salah satu usulan yang muncul adalah penggunaan sistem Catatan Nama Penumpang Eropa (PNR). Sistem itu memungkinkan negara-negara untuk bertukar data mengenai identitas penumpang pesawat yang dinilai dapat membantu melacak potensi munculnya seorang teroris.
(G005)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
