Logo Header Antaranews Kalteng

Di balik penipuan SMS berskala besar, Google menggugat kelompok peretas

Jumat, 14 November 2025 13:18 WIB
Image Print
Ilustrasi - Logo Google di Kantor Google, Jakarta Selatan. ANTARA/Livia Kristianti/am.

Jakarta (ANTARA) - Google menggugat sekelompok peretas asal China yang mengoperasikan platform bernama “Lighthouse”, penyedia layanan phishing dan penipuan melalui SMS (smishing) yang digunakan untuk melancarkan aksi penipuan berskala besar.

Dilansir dari Engadget pada Kamis, dalam keterangannya, Google menjelaskan bahwa kelompok tersebut menawarkan layanan bagi klien untuk mengirim pesan elektronik atau SMS berisi tautan menuju situs palsu yang menyerupai halaman resmi berbagai merek ternama, seperti USPS dan E-Z Pass.

Tujuannya, menipu pengguna agar memasukkan data pribadi maupun akses masuk akun mereka. Google menemukan sedikitnya 107 templat halaman masuk dengan logo Google yang digunakan untuk mencuri informasi pengguna.

Perusahaan teknologi itu menyebut sekitar satu juta orang di 121 negara menjadi korban penipuan daring menggunakan platform Lighthouse, dengan total kerugian mencapai 1 miliar dolar AS.

Di Amerika Serikat saja, para pelaku diduga telah mencuri antara 12,7 juta hingga 115 juta nomor kartu kredit. Modus paling umum adalah berpura-pura menjadi pihak USPS dan meminta korban membayar biaya pengiriman ulang paket yang diklaim tertahan di kantor pos.

Google menyebut data dari perusahaan keamanan siber Silent Push yang menunjukkan kelompok kriminal “Smishing Triad” menggunakan Lighthouse untuk membuat 200.000 situs palsu pada awal tahun ini.

Situs-situs tersebut menerima hingga 50.000 kunjungan per hari dan berhasil mencuri jutaan data kartu kredit warga Amerika Serikat hanya dalam waktu 20 hari.

Gugatan Google diajukan berdasarkan regulasi Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act, Lanham Act, serta Computer Fraud and Abuse Act. Jika dimenangkan, gugatan itu memungkinkan Google bekerja sama dengan penyedia layanan internet dan operator seluler untuk menutup domain serta server milik kelompok tersebut.

Selain menggugat secara hukum, Google juga mendukung sejumlah rancangan undang-undang bipartisan di Kongres Amerika Serikat yang menargetkan pelaku kejahatan siber lintas negara.

Di antaranya, rancangan yang memungkinkan kepolisian lokal memanfaatkan dana hibah untuk menyelidiki penipuan finansial terhadap pensiunan, serta pembentukan satuan tugas untuk memblokir panggilan robocall dari luar negeri dan membantu korban yang dipaksa bekerja di pusat operasi penipuan.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026